Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dewan Pers Ingatkan Ancaman Zero Click, Media Diminta Bertransformasi

Kota Medan
Dewan Pers Ingatkan Ancaman Zero Click, Media Diminta Bertransformasi
-
Share Article

Banda Aceh, IDN Times - Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Farida Dewi Maharani, menilai media lokal memiliki peran strategis dalam menghadapi disrupsi teknologi karena lebih memahami karakteristik, budaya, serta persoalan yang berkembang di tengah masyarakat daerah.

Pernyataan itu disampaikan Farida saat membuka workshop bertajuk "Membangun Media Lokal yang Berkelanjutan" yang digelar Komdigi bekerja sama dengan Tribun Network di Tropicollo, Kota Banda Aceh. Kegiatan diikuti puluhan jurnalis dari berbagai media di Aceh.


1. Ingin jurnalis daerah memiliki kesiapan dalam menghadapi perubahan teknologi

WhatsApp Image 2026-07-24 at 21.50.43.jpeg
-

Farida mengatakan pemerintah ingin jurnalis di daerah memiliki kesiapan yang sama dengan di kota-kota besar dalam menghadapi perubahan teknologi yang berkembang sangat cepat.

"Kita berharap disrupsi teknologi ini dihadapi bersama-sama. Jangan sampai teman-teman di kota lebih siap, tetapi di daerah tidak siap. Teman-teman di daerah harus sama siapnya dengan yang di kota," kata Farida.

Menurutnya, peningkatan kapasitas menjadi penting agar insan pers mampu beradaptasi dengan perubahan ekosistem media yang kini bergerak menuju platform digital.

Farida menilai media lokal memiliki keunggulan yang tidak dimiliki media nasional karena lebih dekat dengan masyarakat dan memahami berbagai persoalan yang terjadi di wilayahnya masing-masing.

"Teman-teman media lokal lebih cepat mengenali dan menemukan persoalan di daerah. Ketika isu-isu itu disampaikan ke pusat, maka akan menjadi perhatian pemerintah pusat," ujarnya.

Ia menambahkan kekuatan media lokal justru terletak pada kemampuannya menghadirkan informasi yang relevan bagi masyarakat setempat.

"Tidak harus sama dengan pemberitaan media nasional. Kekuatan media lokal justru menjadi penopang bagi media nasional karena menghadirkan isu-isu yang dekat dengan masyarakat," katanya.


2. AI jadi tantangan sekaligus peluang

Penggunaan AI dalam pembuatan adegan film instan.jpg
Ilustrasi AI (dok. Unsplash/Solen Feyissa)

Dalam kesempatan tersebut, Farida juga menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mengubah cara masyarakat mengakses informasi.

Menurutnya, kemajuan teknologi membuat publik semakin sulit membedakan konten yang dibuat manusia dengan hasil AI. Kondisi tersebut menjadi tantangan baru bagi industri media.

"Mempertahankan kredibilitas menjadi tantangan. Publik menjadi kebingungan dan mencari medium yang kredibel, dan ini sebenarnya menjadi peluang bagi media," ujarnya.

Ia menegaskan perubahan teknologi tidak boleh menggeser prinsip-prinsip dasar jurnalistik.

"Perubahan teknologi jangan sampai mengubah prinsip-prinsip jurnalistik. Tidak hanya media, tetapi juga influencer karena kita memiliki tanggung jawab moral dalam menyebarkan informasi," kata Farida.


3. Dewan Pers soroti ancaman 'zero click'

Logo Dewan Pers (dok. Dewan Pers)
Logo Dewan Pers (dok. Dewan Pers)

Sementara itu, Ketua Komisi Penelitian, Pendataan, dan Ratifikasi Pers Dewan Pers, Yogi Hadi Ismanto, menyoroti fenomena "zero click", yakni kondisi ketika masyarakat cukup membaca ringkasan informasi yang dihasilkan AI di mesin pencari tanpa membuka situs media.

Menurut Yogi, tren tersebut berdampak pada penurunan trafik media, padahal karya jurnalistik lahir melalui proses peliputan yang membutuhkan biaya, waktu, dan tenaga.

"Hak cipta jurnalistik bukan sekadar informasi, melainkan hasil kerja kolektif yang harus dihargai secara ekonomi. Revisi Undang-Undang Hak Cipta diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap karya jurnalistik," ujar Yogi.


4. Media dituntut terus bertransformasi

Gedung Dewan Pers (IDN Times/Aldzah Aditya)
Gedung Dewan Pers (IDN Times/Aldzah Aditya)

Editor Online Manager Serambinews.com, Safriadi, turut membagikan pengalaman transformasi Serambi Indonesia dari media cetak menuju platform digital sejak 2017.

Ia mengatakan perubahan tersebut menuntut jurnalis bekerja lebih cepat karena berita harus dipublikasikan segera setelah peliputan selesai. 

Selain itu, distribusi konten juga diperluas melalui berbagai platform media sosial, termasuk Facebook, yang kini menjadi salah satu sumber pendapatan perusahaan.

"Kalau tidak mengikuti dan beradaptasi dengan perkembangan platform digital, maka kita akan tertinggal," kata Safriadi.


5. Kreator perlu memahami audiens

ilustrasi konten kreator (pexels.com/Kampus Production)
ilustrasi konten kreator (pexels.com/Kampus Production)

Workshop ditutup dengan pemaparan dari Digital Content Strategist sekaligus Content Creator, Awien Syuib, mengenai strategi membangun konten di media sosial.

Awien menjelaskan algoritma media sosial telah berubah sehingga jumlah pengikut tidak lagi menjadi faktor utama untuk memperoleh pendapatan.

"Dulu followers 10 ribu sampai 100 ribu baru bisa menghasilkan uang dari Instagram. Sekarang berbeda, dengan 1.000 followers pun sudah bisa menghasilkan karena algoritma media sosial sudah berubah," ujarnya.

Menurut Awien, kreator maupun media perlu memahami perilaku audiens serta memanfaatkan data sebagai dasar dalam memproduksi konten yang relevan.

"Belajar memahami audiens, memahami data, lalu buat sesuatu yang menjadi keresahan banyak orang," katanya.


Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More