MTsN 2 Medan Rawat Kemanusiaan Lewat Kurikulum Berbasis Cinta

- MTsN 2 Medan menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang menumbuhkan kepercayaan diri siswa dalam menggali potensi diri melalui kegiatan akademik, seni, olahraga, dan kepedulian lingkungan.
- KBC menggabungkan aspek kognitif dan afektif sehingga hubungan guru-siswa menjadi lebih hangat; pembelajaran menanamkan nilai kasih sayang, toleransi, serta kepedulian sosial dan spiritual.
- Diluncurkan Kemenag RI pada 2025, KBC hadir sebagai jawaban atas kurikulum konvensional dengan tujuan membentuk generasi cendekia berkarakter cinta, gotong royong, dan tanggung jawab moral.
Medan, IDN Times — Riuh tawa siswa pecah di lapangan MTsN 2 Medan saat ujian akhir semester baru usai, digantikan Pekan Olahraga dan Seni/Porseni. Di satu sisi, raket badminton beradu cepat. Bola futsal dan kasti dikejar sorak ramai. Di sisi lain, petikan gitar guru dan siswa mengalun pelan. Langkah kaki berlatih tari menghentak ritmis.
Kontrasnya, perpustakaan tetap tenang. Di masjid, jemari dan bibir siswa lincah memurajaah hafalan Al-Qur’an. Beberapa kelompok lain asyik berguyon sambil menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG).
1. Siswa tampil lebih percaya diri menggali potensi diri

Di taman mini, "Duta Lingkungan Hidup sibuk" merawat tanaman “Apotek Hidup”. Ada yang membersihkan daun kering, menyiram, ada pula yang berdiskusi tentang peran tumbuhan bagi manusia.
Pada bulan Juni 2026 memberi nuansa berbeda. Seperti puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono, bulan ini selalu mempertemukan cinta dan perpisahan. Ada haru karena memori belajar dan prestasi terukir bersama. Ada beratnya berpisah saat gerbang kenaikan kelas memanggil siswa naik jenjang.
Sejak menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), MTsN 2 Medan memaknai keduanya bukan sebagai akhir. Pertemuan dan perpisahan jadi dua sisi mata uang yang saling menggenapi. Hasilnya mulai terasa, saat siswa tampil lebih percaya diri menggali potensi diri.
2. Kognitif bertemu afektif di kelas

KBC terbukti mendongkrak kualitas guru dan siswa. Aspek kognitif dan afektif dikawinkan jadi pembelajaran yang hidup.
“Melalui Kurikulum Cinta, nilai kasih sayang, toleransi, dan kepedulian ditanamkan dalam setiap aktivitas pembelajaran,” ujar Dafa, siswa kelas VIII.
Nadrah, teman sekelasnya, merasakan hal sama. “Kurikulum ini menuntun kami memahami cara mencintai sesama dan merawat lingkungan, sekaligus bergerak bersama mewujudkan cita-cita,” katanya.
Bagi guru, KBC jadi angin segar. Maimunah, guru MTsN 2 Medan, menyebut sekat kaku guru-murid mulai luruh. Kelas berubah hangat, inklusif, menyenangkan. Guru tak lagi sekadar transfer ilmu, tapi juga sahabat, mentor, dan pembimbing spiritual.
“Kami ditantang memahami kebutuhan psikologis siswa secara personal. Saat hubungan emosional erat, transfer ilmu jadi lebih nyaman dan efektif,” jelas Maimunah.
3. Laksana air di tengah gurun

Secara historis, KBC diluncurkan Kemenag RI 24 Juli 2025 di Makassar. Kurikulum ini hadir menjawab tantangan global, dan keterbatasan kurikulum klasik yang hanya fokus pada nilai akademik.
Selama ini, kurikulum konvensional kerap mengabaikan empati, spiritualitas, dan ruh pendidikan Islam. Proses belajar terjebak rutinitas administratif, kering makna kasih sayang, dan jauh dari kedekatan transendental.
Lewat KBC, Kemenag mengintegrasikannya via rekonstruksi materi ajar, penguatan moderasi beragama inklusif, dan experiential learning. Madrasah tak lagi sekadar “pabrik kelulusan”, tapi ekosistem penyemaian karakter Rahmatan lil ‘Alamin.
Kepala MTsN 2 Medan, Pesta Berampu menegaskan, nilai cinta dalam KBC harus menembus dinding kelas. Kurikulum ini dirancang menumbuhkan gotong royong, kepekaan sosial, dan tanggung jawab moral ke lingkungan.
“Kami lihat atmosfer madrasah jauh lebih harmonis. Relasi siswa-guru solid. Dampaknya meluas ke masyarakat. Siswa dan warga kini bahu-membahu,” ujarnya.
Dia berharap resonansi KBC terus dibawa siswa ke rumah dan masyarakat. Tujuannya satu, yaitu mencetak generasi cendekia yang unggul dalam inovasi, tapi juga matang secara emosional dan spiritual.
Senja pertengahan Juni terasa lirih, seperti musikalisasi puisi Sapardi oleh Ari Reda. Petikan gitar sunyi berpadu vokal merdu, mengubah “Hujan Bulan Juni” jadi simfoni.
Lewat Kurikulum Berbasis Cinta, MTsN 2 Medan memahat langkah pasti untuk mengantarkan anak didik tumbuh menjadi manusia seutuhnya.











![[BREAKING] Pabrik Mainan Terbakar, Sejumlah Rumah Warga Ikut Hangus](https://image.idntimes.com/post/20260621/upload_43f41014c7772c5a825bcf8bd069496b_f93e7794-009a-430d-82ee-efcfb6d496c6_watermarked_idntimes-2.jpg)
![[BREAKING] Warga Padati Lokasi Kebakaran Pabrik, Petugas Kesulitan](https://image.idntimes.com/post/20260620/upload_5ad2113654cf26d9fa6f169b8bffb907_79cead38-ce2a-4555-833f-d5cf8056e46f_watermarked_idntimes-2.jpg)
![[BREAKING] Pabrik Mainan dan Plastik di Medan Johor Terbakar](https://image.idntimes.com/post/20260620/upload_b97e87f4cbd86a7fee9a92782ed209db_7074e1d1-7155-4304-9d5b-04c2a9b83a50_watermarked_idntimes-2.jpg)




