Tengku Rizal Nurdin (Wikipedia)
Kemudian, pada Senin, 5 September 2005, Rizal berangkat ke Jakarta. Ada rapat mendadak dengan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia naik Mandala Airlines Penerbangan 91 dari Bandara Internasional Polonia Medan.
Namun, pesawat itu jatuh di Jalan Djamin Ginting. Kejadian ini 3 menit setelah lepas landas. Ada sebanyak 100 penumpang yang di dalam pesawat, 5 awak, dan 49 warga di darat meninggal.
Ia gugur saat masa jabatan periode kedua 2003-2008 belum selesai. Saat itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kemudian menyimpulkan kecelakaan dipicu flap dan slat yang tidak turun serta kelalaian prosedur check list.
Atas pengabdian itu, Presiden SBY menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama anumerta pada 9 November 2005. Nama Rizal Nurdin diabadikan di Terminal Kargo Bandara Kualanamu dan sejumlah jalan di Sumut. Bahkan, namanya kini juga ada di gedung Rumah Dinas Gubernur Sumut.
Kini, yang ditinggalkan Rizal bukan hanya proyek fisik. Tapi, cara memimpin di era transisi yakni menjaga stabilitas tanpa mengekang kebebasan, disiplin tanpa kehilangan empati. Adiknya, Tengku Erry Nuradi, kemudian melanjutkan jejak itu sebagai Gubernur Sumut 2016-2018. Menggantikan sisa masa jabatan Gatot Pudjo Nugroho yang dicokok KPK.
Bagi masyarakat Sumut, Rizal Nurdin adalah bukti bahwa pemimpin militer bisa bertransformasi jadi pemimpin sipil yang dekat dengan rakyat. Ia datang di masa paling kacau, dan pergi saat masih bekerja untuk daerahnya.
Seperti kata orang Medan: “Pemimpin yang baik itu yang dikenang setelah tiada.” Rizal Nurdin adalah salah satunya.