Peluncuran B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)
Penerapan B50 memiliki dua sisi dampak, baik positif maupun tantangan. Sebagai berikut:
1. Dampak Positif
- Menekan emisi karbon. Penggunaan B50 dinilai lebih ramah lingkungan karena mampu menurunkan emisi karbon dibandingkan bahan bakar fosil murni. Pemerintah menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 46,72 juta ton CO2 pada 2026 dari program ini.
- Menurunkan kadar sulfur. Uji coba Kementerian ESDM April 2026 di Lembang menunjukkan B50 mampu mereduksi kadar sulfur hingga 50 persen. Hal ini membuat kualitas bahan bakar mendekati standar emisi Euro-4 yang lebih ramah lingkungan.
- Lebih ramah mesin. Selama uji 900 jam di sektor pertambangan, tidak ditemukan gangguan pada mesin. Kandungan air B50 juga berada di bawah batas maksimal sehingga tidak perlu penggantian filter.
2. Dampak Negatif dan Risiko
- Potensi deforestasi. Koalisi Transisi Bersih memproyeksikan B50 membutuhkan tambahan bahan baku FAME hingga 19 juta kiloliter. Untuk memenuhi kebutuhan itu, diperkirakan perlu tambahan lahan sawit 5,36 juta hektare hingga 2039, dengan potensi deforestasi 1,5 juta hektare.
- Bersaing dengan kebutuhan pangan. Peningkatan alokasi CPO untuk biodiesel berisiko mengurangi ketersediaan untuk pangan dan berpotensi memicu kenaikan harga minyak goreng, seperti yang terjadi pada 2022.
- Produksi CPO terbatas. BPDPKS memproyeksikan produksi CPO stagnan di kisaran 60 juta ton pada 2045 karena keterbatasan lahan. Kondisi ini berpotensi mendorong pembukaan lahan baru.
- Karakteristik teknis. Biodiesel lebih kental dan memiliki kandungan energi sedikit lebih rendah dibanding solar biasa. Hal ini dapat berdampak pada performa mesin dan konsumsi bahan bakar sehingga beberapa kendaraan perlu penyesuaian.
Sekedar informasi, B50 adalah langkah pemerintah untuk mengurangi impor BBM dan mempercepat transisi energi. Nama "B50" menunjukkan komposisi 50 persen biodiesel di dalamnya.
Dari sisi lingkungan, B50 berpotensi menurunkan emisi dan polusi udara, namun di sisi lain perlu diimbangi dengan tata kelola sawit berkelanjutan agar tidak memicu deforestasi dan tekanan pada sektor pangan.