Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dinas Kesehatan Karo Beberkan Hasil Laboratorium MBG Positif Bakteri
256 Siswa di Karo Dirawat Diduga Keracunan MBG (Dok. KPPG Sumut)
  • Dinkes Karo merilis hasil uji makanan MBG terkait dugaan keracunan puluhan siswa pada 13 Agustus 2026, dengan sampel dari dua sekolah di Berastagi dan dapur penyedia.
  • Seluruh parameter kimia, termasuk boraks, formalin, arsen, sianida, dan nitrat, dinyatakan negatif pada sampel nasi, lauk, sayur, melon, serta bahan mentah.
  • Uji mikrobiologi menemukan Bacillus cereus pada nasi, Staphylococcus aureus pada ikan dan muntahan korban, serta E. coli pada melon; Dinkes menyebut faktor biologis sebagai penyebab.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
13 Agustus 2026

Puluhan siswa di Kabupaten Karo diduga mengalami keracunan setelah program Makan Bergizi Gratis. Sampel sisa makanan dari sekolah dan dapur penyedia MBG segera diambil untuk diperiksa.

14 Agustus 2026

Hasil pemeriksaan kimia seluruh sampel makanan dinyatakan negatif untuk boraks, formalin, arsen, sianida, dan nitrat.

16 Agustus 2026

Uji mikrobiologi menemukan Bacillus cereus pada nasi, Staphylococcus aureus pada ikan dencis saus, dan E. coli pada melon dari sekolah. Staphylococcus aureus juga ditemukan pada sampel muntahan salah satu korban.

8 September 2026

Dinkes Karo merilis hasil pemeriksaan laboratorium dan menyatakan dugaan penyebab keracunan berasal dari faktor biologis atau bakteri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Hasil pemeriksaan laboratorium makanan program Makan Bergizi Gratis yang diduga memicu keracunan puluhan siswa di Karo menunjukkan sejumlah sampel positif bakteri.
  • Who?
    Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Karo Mardin Purba, UPTD Laboratorium Kesehatan Dinkes Sumut, serta puluhan siswa di dua sekolah terdampak di Berastagi terlibat dalam penanganan kasus ini.
  • Where?
    Sampel dikumpulkan dari sisa makanan di dua sekolah terdampak di Berastagi dan dapur penyedia MBG. Pemeriksaan dilakukan UPTD Laboratorium Kesehatan Dinkes Provinsi Sumatera Utara.
  • When?
    Dugaan keracunan terjadi pada 13 Agustus 2026. Hasil kimia diterima 14 Agustus, hasil mikrobiologi 16 Agustus 2026, dan Mardin menyampaikan keterangan di Medan pada 8 September 2026.
  • Why?
    Dinkes Karo menyatakan penyebab keracunan berkaitan dengan faktor biologis atau bakteri, setelah Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli ditemukan pada beberapa sampel sekolah.
  • How?
    Sampel nasi, ikan dencis saus, tahu, sayur, melon, bahan mentah, serta muntahan korban diuji. Parameter kimia seluruhnya negatif, sedangkan uji mikrobiologi menemukan bakteri pada nasi, ikan dencis saus, melon, dan muntahan korban.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Makanan MBG di Karo diperiksa setelah banyak murid sakit pada 13 Agustus 2026. Petugas menemukan bakteri di nasi, ikan saus, dan melon dari sekolah. Ada juga bakteri di muntahan seorang anak. Zat kimia berbahaya tidak ditemukan. Sekarang petugas bilang murid sakit karena bakteri dari makanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meski kasus ini memprihatinkan, penanganannya menunjukkan unsur penting transparansi dan ketelitian: sampel segera diambil dari sekolah serta dapur, lalu diperiksa oleh laboratorium kesehatan provinsi. Hasil yang merinci parameter kimia, bakteri, dan jamur memberi gambaran berbasis pemeriksaan tentang faktor biologis yang terdeteksi, sekaligus menegaskan tidak ditemukannya sejumlah zat kimia berbahaya dalam seluruh sampel.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times – Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, Mardin Purba, merilis hasil pemeriksaan laboratorium terhadap makanan program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang diduga menyebabkan puluhan siswa keracunan di Kabupaten Karo pada 13 Agustus 2026.

Mardin menjelaskan, sampel diambil langsung dari sisa makanan di dua sekolah terdampak di Berastagi dan dari dapur penyedia MBG. Pemeriksaan dilakukan oleh UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.

“Hasil pemeriksaan laboratorium dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi melalui UPTD Laboratorium. Ini dilatarbelakangi dengan kejadian kasus tanggal 13 Agustus 2026. Pada saat itu kita langsung mengambil sampel makanan dari sisa makanan yang ada di sekolah dan juga dapur,” ujar Mardin di Medan, Senin (8/9/2026).

1. Parameter kimia negatif

256 Siswa di Karo Dirawat Diduga Keracunan MBG (Dok. KPPG Sumut)

Berdasarkan hasil kimia yang diterima pada 14 Agustus 2026, seluruh sampel dinyatakan negatif.

“Dan semua parameter terkait dengan pemeriksaan parameter kimia hasilnya negatif. Antara lain boraks, formalin, arsen, sianida, dan nitrat. Jadi ini semua negatif,” katanya.

Sampel yang diuji meliputi nasi, ikan dencis saus, tahu goreng saus, sayur, melon, dan mentahan.

2. Ditemukan tiga jenis bakteri di sampel sekolah

256 Siswa di Karo Dirawat Diduga Keracunan MBG (Dok. KPPG Sumut)

Sementara hasil uji mikrobiologi tanggal 16 Agustus 2026 menunjukkan adanya bakteri pada beberapa sampel makanan dari sekolah.

Hasil tersebut sejalan dengan dokumen hasil uji UPTD Labkes Dinkes Sumut yang diterima media.

Bakteri pada Sampel Sekolah:

1. Nasi: Positif Bacillus cereus

2. Ikan Dencis Saus: Positif Staphylococcus aureus

3. Buah Melon: Positif Escherichia coli atau E. coli

“Dari hasil pemeriksaan parameter bakteriologi, sampel dari nasi di sekolah itu positif Bacillus cereus. Sampel dari ikan dencis pakai saus dari sekolah positif Staphylococcus aureus. Sampel melon dari sekolah positif E. coli,” ujar Mardin.

Selain itu, dari sampel muntahan salah satu korban juga ditemukan bakteri Staphylococcus aureus.

3. Hasil uji jamur bervariasi

256 Siswa di Karo Dirawat Diduga Keracunan MBG (Dok. KPPG Sumut)

Pemeriksaan jamur juga dilakukan pada sampel dari sekolah dan dapur. Hasilnya berbeda.

“Nasi dari sekolah pemeriksaan jamur negatif. Kemudian pemeriksaan nasi dari dapur itu positif jamur. Tahu goreng dari sekolah positif, tahu goreng dari dapur negatif. Melon dari sekolah positif, melon dari dapur positif. Sayur dari sekolah positif, dan sayur dari dapur negatif,” jelasnya.

Mardin menegaskan, penyebab keracunan berasal dari faktor biologis atau bakteri.

“Jadi barangkali terkait dengan hasil pemeriksaan laboratorium, dari hasil yang kita terima dari Laboratorium Kesehatan Provinsi Sumatera Utara seperti yang kami sampaikan tadi. Jadi parameternya, ada beberapa parameternya yang ada positif bakteriologinya,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article