Sejarah Motor Gede BSA Asal Inggris Jadi Ikon Wisata Kota Siantar

- Motor BSA asal Inggris berawal dari pabrik senjata Birmingham tahun 1861, sempat berjaya di era 1950-an, lalu dihidupkan kembali oleh Mahindra pada 2016 dengan model baru Gold Star.
- Motor BSA dibawa ke Indonesia oleh tentara NICA pasca-1945 dan kemudian dimodifikasi warga Siantar menjadi becak khas kota tersebut yang masih bertahan hingga kini.
- Komunitas BSA Owner Motorcycle Siantar (BOMS) berdiri sejak 2005 untuk melestarikan becak BSA sebagai warisan budaya, berhasil mendorong peresmian Tugu Becak Siantar pada 2016.
Netflix baru-baru ini meluncurkan film berjudul Peaky Blinders: The Immortal Man dengan pemeran utamanya dilakoni oleh Cillian Murphy. FIlm mengambil latar waktu tahun 1940, saat Inggris berada di bawah tekanan besar akibat Perang Dunia II.
Film ini dibuka dengan adegan pengeboman pabrik pembuat senjata ringan, Birmingham Small Arm Company (BSA). Selama pekan 16-22 Maret, film ini ditonton mencapai 25,3 juta penayangan dalam 3 hari pertama rilisnya di Netflix. Wow!
Bicara BSA, Anak Medan pasti langsung ingat dengan Becak BSA di Kota Pematangsiantar. Yaitu motor BSA yang dimodifikasi menjadi becak dan menjadi transportasi umum khas Kota Siantar. Bahkan Becak BSA sudah ikon pariwisata Siantar.
Kendaraan ikonik motor perang Inggris tahun 1940-an yang dimodifikasi ini menjadi ikon Kota Pematangsiantar dan kini dikembangkan sebagai "Becak Wisata" dengan sistem pembayaran digital (QRIS) untuk pelestarian.
Kok bisa motor pabrikan Inggris jadi ikon pariwisata Kota Pematangsiantar? Yuk simak sejarahnya.
1. Pabriknya pernah dibom Jerman, namun hingga kini BSA masih eksis di dunia otomotif

Dikutip dari laman resmi BSA, sejarah motor Inggris ini dimulai dari pabrikan senjata di Birmingham pada 1861. Namun, pada 1903, divisi motor mulai dibuat dan produk pertamanya rilis pada 1910. Pada 1914, BSA merilis motor pertama di dunia yang bisa dilipat, turut dipakai untuk perang. Setelah Perang Dunia I, tepatnya 1920 BSA merilis berbagai model motor dan terkenal di seluruh dunia salah satunya Model A dengan mesin V-twin.
Lalu, pada 1930-an, BSA membeli berbagai perusahaan untuk memproduksi motor. Bahkan, medio Perang Dunia II, sebanyak 126.000 motor BSA dipakai untuk perang, semuanya model M20.
Pada tahun 1940, Nazi (Jerman) berusaha merusak ekonomi Inggris melalui produksi uang palsu. Karena saat itu Inggris menjadi negara terakhir di Eropa Barat yang masih melawan Fasisme Nazi. Hitler sebagai pemimpin Nazi juga memerintahkan pasukannya melakukan serangan udara ke Inggris dari Luftwaffe yang menghantam pabrik-pabrik senjata ringan milik BSA di Small Heath, Birmingham.
Kemudian, pada 1950, bisa dibilang jadi masa jayanya BSA, bahkan jadi perusahaan motor besar dunia. Diucapkan kala itu, kalau satu dari empat motor yang ada di dunia, pasti BSA. Kepopuleran BSA tidak berhenti sampai di situ saja. Era 1960-an, BSA dianugerahi Queen's Award to Industry karena mereka menguasai 80 persen kendaraan yang diekspor dari Inggris.
Namun sayang, pada 1970-an, BSA mengalami masalah finansial dan harus berhenti produksi. BSA tinggal nama saja, tidak ada motor baru yang keluar saat itu. Baru pada 2016 BSA diambil alih oleh Classic Legends Private Limited (CLPL), anak perusahaan manufaktur otomotif asal India, Mahindra & Mahindra Limited. CLPL membeli 100 persen saham BSA seharga 3,4 juta poundsterling atau sekitar Rp 54 miliar. Pembelian itu diresmikan pada 21 Oktober 2016.
Hingga kini BSA masih eksis di dunia otomotif, pada 2022 diluncurkan juga model baru dari BSA di bawah perusahaan Mahindra, yakni BSA Gold Star. Tidak berselang lama, produk tersebut kini sudah bisa ditemui di Indonesia, dijual oleh diler 2 Wheelers by Glamour Auto Boutique.
Motor tersebut bergaya klasik cuma memakai berbagai komponen modern. Misal di sisi penerangan, beberapa sudah memakai LED, ditambah pada pengereman juga menggunakan merek Brembo. Soal mesin, diandalkan model 652cc satu silinder yang menghasilkan tenaga 45 TK dan torsi 55 Nm. Motor bergaya klasik ini dibanderol Rp 385 juta off the road.
Lantas bagaimana motor BSA bisa sampai ke Kota Siantar?
2. Warga Siantar berburu BSA ke Jakarta dan Surabaya

Dalam catatan sejarah Indonesia, Tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) mendarat di Indonesia membonceng pasukan Sekutu (AFNEI) pasca-proklamasi 1945 untuk mengembalikan kekuasaan kolonial Belanda. Pendaratan utama dimulai 29 September 1945 di Jakarta, disusul kota lain seperti Surabaya (25 Oktober) dan Medan, memicu perlawanan sengit rakyat Indonesia.
Nah tentara NICA yang mendarat ke Indonesia ini membawa motor BSA mereka. Saat NICA yang di-boncengi Belanda pulang ke negara asal-nya (setelah perundingan-perundingan), mereka meninggalkan BSA-nya di Indonesia. Waktu itu tidak ada suku cadang motor BSA, akibatnya BSA-BSA itu terlantar dipinggir jalan dan teronggok di gudang-gudang.
Pada 1958, orang orang dari Siantar berburu BSA ke pulau Jawa, tepatnya di Kota Surabaya dan Jakarta. Kemudian motor BSA itu ber-transmigrasi ke Siantar dengan naik kapal Tampomas II yang sudah tenggelam tahun 1981. Sejak saat itu pula BSA-BSA yang teronggok bisa nyala kembali dan mulai dimodif jadi becak di Siantar sampai saat ini.
Onderdil motor jepang 'dikanibalkan' untuk dipasang di motor BSA. Misalnya karburator Kawasaki Binter bisa dipakai di BSA. Begitupun aksesori lain dibuat tiruannya menyerupai aslinya hehehe. Makanya jangan heran kalau ke Siantar lihat becak BSA yang velg-nya masih mulus walau umurnya sudah lebih dari 50 tahun.
3. Komunitas BSA Owner Motorcylce Siantar perjuangkan becak Siantar jadi Heritage

Pada tahun 2005, Kusma Erizal Ginting mengumpulkan para pemilik motor dan becak BSA untuk bergabung dalam komunitas BSA Owner Motorcylce Siantar (BOMS). Tujuannya memperjuangkan pelestarian motor tua khususnya BSA di Pematang Siantar. Pasalnya kala itu DPRD membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang penghapusan becak motor Siantar dengan alasan modernisasi.
Ada empat tuntutan mereka, pertama pencabutan Perda penghapusan becak motor Siantar, kedua pemutihan surat motor tua.
Ketiga, meminta dibuat Perda yang mengatur becak motor Siantar ini menjadi satu-satunya kendaraan wisata di Siantar. Dan terakhir adalah meminta pemerintah mentake over pemeliharaan dan membuat aturan pelarangan menjual BSA di Siantar keluar daerah
Hal ini dinilai penting karena BSA dan becak Siantar sudah menjadi daya tarik bagi kegiatan wisata di Siantar.
Boy Warongan, Sekretaris BSA Owner Motorcylce Siantar (BOMS) menjelaskan awalnya BSA di Siantar hanya 70 unit. Kemudian bertambah menjadi ribuan dikarenakan BSA motor yang cocok dengan keadaan Kota Pematangsiantar yang pada saat itu di punggung bukit.
"Di seluruh dunia tidak ada kota yang mayoritas becaknya ditarik motor gede seperti BSA," ujarnya.
Jenis BSA yang ada yakni M21 sampai dengan B31 mulai dari 350 cc sampai dengan 500 cc. Jenis itu diproduksi dari tahun 1940 sampai 1956. "Model M20 itu 500 cc, kalau yang ZB 30-31 itu 350 cc. Kalau ZB 31- B30 ini yang sering jadi becak," jelas Boy.
Pada tahun 2016, perjuangan BOMS menunjukkan kemajuan. Tugu Becak Siantar Diresmikan pada 15 Oktober 2016 oleh Pemko Siantar. Hingga kini keberadaan Becak BSA terus eksis dan menjadi ikon pariwisata Kota Siantar. Bahkan becak pabrikan Birmingham, Inggris ini sering diplesetin menjadi "Becak Siantar Asli".

















