Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dampak Karhutla dan Kabut Asap, Status Pekanbaru Tanggap Darurat
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho (IDN Times/ IG h_agungnugroho)
  • Pekanbaru menaikkan status Karhutla menjadi tanggap darurat hingga 7 September 2026, setelah 150 kebakaran menghanguskan 85,09 hektare dan kualitas udara memburuk.
  • Kabut asap memicu 365 kasus ISPA, dua pneumonia, serta gangguan mata, kulit, dan asma; 21 Puskesmas disiagakan tetap buka selama tanggap darurat.
  • Satgas Udara Riau mengerahkan 12 pesawat-helikopter untuk patroli, water bombing, dan modifikasi cuaca; sepanjang Agustus, tim telah menyemai 30 ton garam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pekanbaru, IDN Times - Pemerintah Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, meningkatkan status penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), dari siaga darurat menjadi tanggap darurat. Kebijakan tersebut diambil setelah terjadinya eskalasi kebakaran, kualitas udara yang buruk, hingga berdampak pada kesehatan yang dirasakan masyarakat. 

Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan, peningkatan status tersebut ditetapkan berdasarkan perkembangan kondisi saat ini. Dimana, status tanggap darurat itu berlaku selama 14 hari sejak ditetapkan hingga 7 September 2026.

"Berdasarkan perkembangan kondisi darurat bencana kebakaran lahan dan hutan, maka perlu ditingkatkan statusnya menjadi status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan," kata Agung, Kamis (27/8/2026).

Sebelumnya, status penanganan Karhutla di Kota Pekanbaru berada pada level siaga darurat, yang telah ditetapkan sejak bulan Mei 2026. Namun, memasuki Agustus, kondisi di lapangan menunjukkan peningkatan Karhutla, sehingga membutuhkan penanganan yang lebih intensif dan terkoordinasi.

"Data pemerintah menunjukkan, luas lahan yang terbakar di Kota Pekanbaru telah mencapai 85,09 hektare. Sementara itu, jumlah kejadian kebakaran yang tercatat mencapai 150 kejadian," ujar Agung.

Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya curah hujan. Berdasarkan analisis data curah hujan dari BMKG Stasiun Meteorologi SSK II Pekanbaru dan Stasiun Pemantauan Rumbai Timur, sejumlah wilayah di Kota Pekanbaru mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 22 hari dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

"Minimnya curah hujan membuat kondisi lahan semakin kering dan mudah terbakar. Kerawanan juga semakin tinggi di wilayah yang memiliki lahan gambut. Selain meningkatkan potensi munculnya titik api, kondisi lahan yang kering membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit," ungkap Agung.

Peningkatan status menjadi tanggap darurat diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas sektor sekaligus mempercepat upaya pemadaman kebakaran dan penanganan dampaknya terhadap masyarakat.

1. Sebanyak 365 orang alami ISPA

Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa

Seiring dengan buruknya kualitas udara di Kota Pekanbaru saat ini, kasus pasien Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mengalami peningkatan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, tercatat 365 orang mengalami ISPA. Selain itu, dua warga dilaporkan mengalami pneumonia.

Dampak kabut asap juga menyerang organ tubuh bagian mata dan kulit. Sebanyak 9 orang mengalami konjungtivitis atau mata merah. Sedangkan 11 orang mengalami iritasi kulit dan 11 lainnya menderita asma.

Atas hal itu, Agung mengimbau, warga yang terdampak kabut asap segera memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia di Puskesmas.

"Warga yang terpapar kabut asap bisa mengakses Puskesmas untuk mendapatkan layanan kesehatan," ucap Agung.

Dalam kesempatan ini, Agung menyebut, Pemerintah Kota Pekanbaru menyiagakan 21 Puskesmas sebagai pusat layanan bagi masyarakat selama status tanggap darurat kebakaran lahan berlangsung.

Menurutnya, Puskesmas menjadi posko utama bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap. Karena itu, seluruh puskesmas diminta tetap beroperasi selama masa tanggap darurat.

Ia juga mengingatkan agar tidak ada Puskesmas yang tutup meski memasuki hari libur. Menurutnya, warga yang terdampak kabut asap membutuhkan akses layanan kesehatan setiap saat.

"Biasanya tutup kalau libur, tapi sekarang seluruh Puskesmas bakal tetap buka walau libur selama tanggap darurat ini," sebut Agung.

Selain itu, Agung meminta kepada seluruh Puskesmas di Kota Pekanbaru untuk menyiapkan segala hal yang dibutuhkan warga yang terpapar kabut asap. Seperti masker, vitamin, tabung oksigen dan lain-lainnya.

2. Kerahkan 12 pesawat-helikopter

Tim Satgas Udara saat membom air di daerah Kerumutan, Kabupaten Pelalawan (IDN Times/ istimewa)

Disisi lain, Satgas Udara Penanggulangan Karhutla Provinsi Riau saat ini telah mengerahkan 12 pesawat-helikopter untuk memperkuat penanganan.

"Total sebanyak 12 pesawat-helikpter," ucap Danlanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru Marsma TNI Abdul Haris.

Menurutnya, Satgas Udara menjalankan tiga fokus utama dalam mendukung penanganan Karhutla. Pertama, patroli udara untuk memantau titik api dan perkembangan kondisi di lapangan.

"Patroli dilakukan pada pagi hari dengan memantau titik-titik api yang sebelumnya telah terdeteksi. Hasil pemantauan itu kemudian menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang membutuhkan dukungan pemadaman dari udara," sebutnya 

Setelah patroli, yang kedua, helikopter water bombing diterbangkan untuk membantu Satgas Darat melakukan pemadaman dari udara.

Kemudian yang ketiga, Satgas Udara juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang membutuhkan. Abdul Haris mengatakan, pelaksanaan OMC dilakukan dengan dukungan data cuaca dari BMKG.

"Satgas Udara membentuk tim khusus yang disebut tim Pemburu Awan, yang bertugas mencari awan potensial untuk disemai, sekalipun itu pada malam hari," katanya.

3. Sudah semai 30 ton garam

Tim Satgas Udara saat mengangkut puluhan karung garam untuk memodifikasi cuaca di Provinsi Riau (IDN Times/ dok Lanud Roesmin Nurjadin)

Marsma TNI Abdul Haris menerangkan, selama bulan Agustus 2026, tim Pemburu Awan telah menyemai garam sebanyak 30 ton.

"Sejauh ini dapat kami sampaikan bahwa di bulan Agustus ini saja kami telah menyemai, menyebarkan 30 ton garam," terangnya.

Menurutnya, dalam beberapa hari terakhir, di sejumlah wilayah Bumi Lancang Kuning telah diguyur hujan. Meskipun belum maksimal, kondisi tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi potensi kebakaran dan menjaga kelembapan lahan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article