Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Kebiasaan Unik Warga Sumut saat Berangkat Haji, Sarat Makna dan Emosi

5 Kebiasaan Unik Warga Sumut saat Berangkat Haji, Sarat Makna dan Emosi
Ilustrasi ibadah haji (IDN Times/Sunariyah)
Intinya Sih
  • Keberangkatan haji di Sumatera Utara menjadi momen spiritual dan budaya yang penuh makna, memperlihatkan kekayaan tradisi dari berbagai etnis seperti Melayu, Mandailing, hingga Angkola.
  • Beragam ritual seperti tepung tawar, upah upah, dan walimatussafar dilakukan untuk memohon keselamatan, memperkuat mental, serta menjaga keharmonisan sosial sebelum jemaah berangkat.
  • Kebiasaan membawa makanan khas dan konvoi pengantaran menunjukkan rasa rindu pada kampung halaman serta kebanggaan kolektif masyarakat dalam mendukung perjalanan suci para jemaah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Berangkat haji bagi masyarakat Sumatera Utara menjadi peristiwa penting yang sarat nilai spiritual dan budaya. Perjalanan menuju Tanah Suci sering dipandang sebagai pencapaian besar dalam kehidupan, setelah melalui proses panjang dan oenuh perjuangan.

Keberagaman etnis di Sumut mulai dari Melayu hingga Mandailing membentuk tradisi pelepasan jemaah yang khas. Setiap praktik yang dilakukan memuat doa, harapan, serta penguatan hubungan sosial di tengah masyarakat. Suasana pelepasan haji di Sumut terasa hangat, sakral, dan penuh emosi. Berikut lima kebiasaan unik yang masih terus dijaga hingga kini.

1. Tepung Tawar, Simbol Penyucian dan Perlindungan

ilustrasi air mawar (pexels.com/polina)
ilustrasi air mawar (pexels.com/polina)

Di kalangan masyarakat Melayu, tepung tawar menjadi ritual yang selalu hadir dalam prosesi pelepasan haji. Calon jemaah diperciki air yang telah dicampur dengan daun dan jeruk sebagai simbol pembersihan diri.

Makna yang terkandung mengarah pada harapan keselamatan dan kelancaran perjalanan. Doa dan selawat dilantunkan untuk menguatkan nilai spiritual dalam prosesi tersebut.

Jumlah orang yang melakukan ritual ini dibuat ganjil. Ketentuan ini berkaitan dengan nilai keberkahan dan makna keesaan dalam ajaran Islam.

2. Upah upah, Menguatkan Mental Sebelum Berangkat

IDN Times/Masdalena Napitupulu
IDN Times/Masdalena Napitupulu

Masyarakat Mandailing dan Angkola melaksanakan tradisi upah upah sebelum keberangkatan haji. Ritual ini bertujuan memperkuat kondisi batin calon jemaah.

Keluarga besar berkumpul untuk memberikan nasihat dan doa. Hidangan seperti ayam dan telur disajikan sebagai simbol keselamatan dan kesempurnaan harapan.

Tradisi ini memperlihatkan peran kuat keluarga dalam mendukung perjalanan ibadah seseorang.

3. Walimatussafar, Momen Pamit yang Mengharukan

Suasana Masjid Nabawi, Madinah yang dipenuhi oleh Jemaah di tengah musim haji (IDN Times/Umi Kalsum)
Suasana Masjid Nabawi, Madinah yang dipenuhi oleh Jemaah di tengah musim haji (IDN Times/Umi Kalsum)

Walimatussafar digelar dalam bentuk pengajian dan doa bersama sebelum keberangkatan. Kegiatan ini dihadiri keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar.

Calon jemaah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada orang orang terdekat. Proses ini menjadi bagian penting dalam membersihkan hubungan sosial.

Suasana emosional terasa kuat melalui tangis, pelukan, dan doa yang menyertai acara.

4. Bekal Makanan Khas, Cara Mengobati Rindu

ilustrasi ikan teri goreng (pexels.com/Julia Filirovska)
ilustrasi ikan teri goreng (pexels.com/Julia Filirovska)

Jemaah asal Sumatera Utara membawa makanan khas sebagai bekal selama di Tanah Suci. Pilihan makanan didominasi oleh jenis yang tahan lama dan praktis.

Serundeng, sambal teri, dan lauk kering menjadi bekal yang sering dibawa. Rasa yang familiar membantu menjaga selera makan selama menjalani ibadah.

Kebiasaan ini menunjukkan keterikatan kuat terhadap identitas kuliner daerah.

5. Konvoi Pengantaran, Wujud Kebanggaan Kolektif

Pemeriksaan jelang keberangkatan jemaah haji kloter 19 asal Lampung Selatan. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).
Pemeriksaan jelang keberangkatan jemaah haji kloter 19 asal Lampung Selatan. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Tradisi konvoi kendaraan mengiringi jemaah menuju asrama haji menjadi pemandangan umum di Sumatera Utara. Rombongan kendaraan melibatkan keluarga dan masyarakat sekitar. Konvoi ini mencerminkan dukungan serta rasa bangga terhadap jemaah yang berangkat. Suasana jalanan berubah menjadi ramai dan penuh semangat.

Di akhir perjalanan, momen perpisahan berlangsung penuh haru. Tangis keluarga mengiringi langkah jemaah menuju keberangkatan. Tradisi pelepasan haji di Sumatra Utara menunjukkan keterkaitan erat antara nilai agama, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat. Seluruh rangkaian kegiatan menghadirkan kebersamaan yang kuat, sekaligus memperkuat makna perjalanan ibadah dalam kehidupan kolektif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More