Kenaikan Pertamax Picu Inflasi, Warga Bisa Migrasi ke Pertalite

- Harga Pertamax naik jadi Rp16.000 per liter memicu potensi inflasi transportasi hingga 0,31% dan menekan daya beli masyarakat kelas menengah.
- Pengamat memperingatkan risiko migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite karena pengawasan di lapangan sulit, meski regulasi pembelian sudah diperketat.
- Muncul tren masyarakat mempertimbangkan kendaraan silinder kecil atau listrik sebagai respons jangka panjang terhadap kenaikan harga BBM non subsidi.
Medan, IDN Times – Harga BBM non subsidi Pertamax naik tinggi. Di Sumatra Utara, harga menjadi Rp16.650 per liter sejak Rabu (10/6/2026). Hal ini disoroti Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin, yang menilai kenaikan ini berpotensi memicu inflasi sektor transportasi hingga 0,31 persen dan mendorong masyarakat beralih ke Pertalite atau mengganti jenis kendaraan.
“Bobot Pertamax terhadap pembentukan inflasi lebih besar dibanding kenaikan BBM non subsidi April lalu. Ini tergambar dari jumlah penggunanya,” ujar Gunawan.
1. Inflasi transportasi dan harga pangan tertekan

Kenaikan Rp3.950 per liter Pertamax, kata Gunawan, langsung berdampak ke ongkos angkut. Beberapa tarif angkutan diprediksi menyesuaikan. Padahal, Pertamax banyak dipakai kelas menengah yang mobilitasnya tinggi.
“Karena BBM non subsidi sekalipun, Pertamax jadi acuan biaya. Kenaikan ongkos transportasi pribadi ini berpeluang menaikkan biaya input produksi komoditas pangan. Daya beli pengguna Pertamax pasti tertekan,” jelasnya.
Gunawan memproyeksikan inflasi sektor transportasi bisa naik sekitar 0,31% akibat penyesuaian tarif. Dampak berantainya akan terasa ke harga kebutuhan pokok.
2. Risiko migrasi ke pertalite masih terbuka

Yang perlu diwaspadai, lanjut Gunawan, adalah potensi migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite. Meski pemerintah sudah mengatur kriteria pengguna Pertalite berdasarkan jenis mesin, praktik di lapangan sulit diawasi.
“Realita di lapangan memungkinkan peralihan. Apalagi Pertalite banyak dijual eceran. Potensi migrasi pengguna sepeda motor sangat besar,” katanya.
Dia menilai, kini mobil pribadi, ruang migrasi disebut terbatas karena regulasi penerima manfaat Pertalite sudah ketat. Pembelian eceran pun berisiko.
“Pemilik mobil pribadi cenderung tetap pakai Pertamax karena pertimbangan performa mesin. Risiko mesin rusak kalau paksa pakai Pertalite terlalu besar,” ujarnya.
3. Skenario ganti kendaraan mulai menguat

Alternatif lain yang muncul, menurutnya yaitu masyarakat beralih ke kendaraan berkapasitas silinder kecil agar bisa masuk kriteria Pertalite. Namun Gunawan mengingatkan, kebijakan subsidi bisa berubah sewaktu-waktu sehingga langkah itu penuh risiko.
Di sisi lain, tren kendaraan listrik kembali mencuat sebagai opsi jangka panjang.
“Nah kita lihat saja nanti bagaimana masyarakat menyikapi kenaikan Pertamax ini untuk waktu yang lebih lama. Perilaku konsumen akan jadi kunci,” tutupnya.
Saat ini, Pemerintah belum mengumumkan skema kompensasi atau penyesuaian kebijakan subsidi buntut kenaikan Pertamax. Masyarakat diminta memantau perkembangan harga dan aturan terbaru dari Pertamina.

















