Tukang Martabak Meninggal Bunuh Diri, Keluarga Merasa Janggal dan Lapor ke Polisi

- Seorang pedagang martabak bernama Safii ditemukan meninggal di Asahan dengan dugaan awal gantung diri, namun keluarga merasa ada kejanggalan dalam kematiannya.
- Keluarga menemukan luka memar di dada kiri dan jeratan di leher saat memandikan jenazah, sehingga meminta polisi melakukan penyelidikan serta ekshumasi.
- Polda Sumut telah menerima laporan keluarga dan menyatakan akan mendalami kasus tersebut untuk memastikan apakah benar bunuh diri atau ada unsur lain.
Medan, IDN Times - Kasus meninggalnya seorang pedagang martabak di Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan, menyisakan tanda tanya bagi keluarga. Pria bernama Safii (44 tahun) itu pada awal bulan Juni 2026 lalu meninggal dunia dikabarkan karena gantung diri.
Namun kini keluarga curiga terjadi kejanggalan sebab menemukan luka lebam di dada sebelah kiri. Oleh sebab itu, keluarganya datang jauh-jauh dari Kabupaten Asahan dan Provinsi Aceh hanya untuk membuat laporan polisi ke Polda Sumut dan meminta jenazah Safii diekshumasi.
1. Keluarga mulanya dikabari bahwa Safii meninggal gantung diri

Abang kandung Safii, Teguh (62 tahun), datang dari Aceh Tamiang ke Polda Sumut. Ia mantap membuat laporan polisi atas kejanggalan kematian sang adik bungsu.
"Kedatangan saya kemari buat laporan tentang kematian adik saya. Itu karena ada kecelakaan yang ceritanya simpang siur," ungkap Teguh di Polda Sumut, Kamis (25/6/2026).
Teguh mendengar kabar adiknya meninggal saat ia berada di Aceh. Ia kaget karena adiknya dikabarkan gantung diri.
"Yang mengetahui pertama itu, jumpa pertama katanya gantung diri. Yang menemukan (saksi) melihatnya tergantung di kamar gorden jendela," jelasnya.
2. Mulai curiga saat melihat ada luka tak wajar di bagian dada sebelah kiri

Bersama keluarga kandungnya yang lain, Teguh ke rumah duka. Mereka menaruh curiga bahwa adik bungsu mereka meninggal dunia bukan karena gantung diri.
"Curiganya itulah, karena ada memar di dada sebelah kiri, ada memar. Itu yang tahu saat keluarga memandikannya. Dan kemudian ada jeratan di leher," beber pria tua itu.
Ia berharap kasus ini ditangani dengan baik oleh pihak kepolisian. Jika harus dilakukan ekshumasi, pihak keluarga siap.
"Katanya pakai tali kecil, tali nilon itulah bunuh diri. Tapi tidak ada ditunjukkan ke keluarga. Saya tidak bisa dan tidak berhak mencurigai siapapun, namun kami siap kalau nanti dilakukan ekshumasi," tuturnya.
3. Polda Sumut dalami kasus kematian Safii

Teguh datang ke Polda Sumut membawa sang keluarganya yang lain bernama Irwan. Irwan datang sendiri dari Asahan. Ia juga mengaku kaget saat mendengar Safii meninggal karena gantung diri.
"Saya dengar kabar pertamanya jatuh di kamar mandi, terus ada yang bilang gantung diri. Jadi kami bingung, kayak mana sebetulnya. Sekitar jam enam sore. Saat dibawa ke Puskesmas oleh Kadus dan yang lain, kami dari pihak laki-laki nggak ada dikasih tahu. Lagipula di situ nggak ada polisi. Satu pun nggak ada," timpal Irwan.
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Ferry Walintukan, mengatakan bahwa laporan mereka sudah masuk. Dan pihaknya akan mendalami perkara ini lebih lanjut.
"Tentunya akan didalami. Apabila tidak bunuh diri, maka akan disampaikan. Begitu juga, apabila memang bunuh diri akan disampaikan," pungkas Ferry.

















