Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Terjebak Banjir, Warga Aur Bertahan di Loteng Hingga Tidur di Pinggir Jalan
Suasana kampung AUR yang terdampak banjir (IDN Times
  • Banjir selama tiga hari merendam Kampung Aur, Medan, hingga sekitar 1,5 meter di rumah Marini Tanjung; tujuh anggota keluarga bertahan berdesakan di loteng.

  • Marini mengaku bantuan Pemko Medan tidak datang selama banjir, sementara nasi bungkus dari kecamatan diterima tidak menentu dan tidak tersedia dapur umum.

  • Nek Koto, warga lansia penyewa rumah tanpa loteng, tidur di titi jalan bersama keluarga; seusai banjir, warga masih membersihkan lumpur dan menata kembali kehidupan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2025

Banjir sebelumnya membuat air di rumah Rindu mencapai sekitar 3 meter hingga loteng tidak dapat digunakan untuk menyelamatkan diri.

malam hari

Banjir datang dan warga Kampung Aur mencari tempat bertahan. Rindu bersama tujuh anggota keluarganya bertahan di loteng, sementara Nek Koto mengungsi ke titi di depan jalan raya.

selama tiga hari

Rindu dan keluarganya berdesakan di loteng saat rumah serta dagangannya terendam. Nek Koto mengaku tidak menerima bantuan selama banjir.

siang dan malam kemarin

Rindu menerima nasi bungkus dari kecamatan, tetapi bantuan tersebut tidak menentu dan tidak ada dapur umum.

Jumat (30/10/2026)

Kampung Aur masih porak-poranda setelah banjir. Warga membersihkan barang berlumpur dan mulai kembali beraktivitas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Banjir setinggi sekitar 1,5 meter merendam rumah-rumah di Kelurahan Kampung Aur, Medan, selama tiga hari, menyebabkan warga bertahan di loteng atau tidur di titi depan jalan raya.
  • Who?
    Marini Tanjung atau Rindu bersama enam anggota keluarganya, Nek Koto dan anaknya, serta ratusan warga Kampung Aur terdampak banjir.
  • Where?
    Banjir terjadi di Kelurahan Kampung Aur, Medan. Rindu bertahan di loteng rumahnya, sedangkan Nek Koto mengungsi dan tidur di titi depan jalan raya.
  • When?
    Banjir datang pada malam hari dan merendam kawasan itu selama tiga hari. Kondisi pascabanjir dipantau pada Jumat, 30 Oktober 2026.
  • Why?
    Air banjir masuk ke permukiman Kampung Aur dan merendam rumah warga. Penyebab banjir per saat ini masih belum diketahui.
  • How?
    Tujuh anggota keluarga Rindu berdesakan di loteng karena rumah terendam, sementara Nek Koto dan warga lain membentang ambal untuk tidur di titi. Warga kemudian membersihkan lumpur dan barang-barang yang terendam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Banjir besar masuk ke Kampung Aur, Medan, selama tiga hari. Rindu dan enam keluarganya bertahan di loteng karena air sangat tinggi. Nek Koto tidur di titi dekat jalan karena rumah sewanya tidak punya loteng. Sekarang warga membersihkan lumpur dan barang-barang basah. Anak-anak juga bermain bola di tanah berlumpur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah keterbatasan selama banjir, warga Kampung Aur memperlihatkan daya tahan dan solidaritas keluarga yang nyata. Rindu dan tujuh anggota keluarganya bertahan bersama di loteng, sementara Nek Koto mendapat perlindungan dari anaknya. Setelah air surut, aktivitas warga kembali bergerak, termasuk membersihkan rumah dan anak-anak yang bermain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times – Di rumah bercat hijau dengan warung kecil berukuran 2x1 meter di halamannya, Marini Tanjung masih sibuk membersihkan lumpur. Gantungan sabun cair dan popok anak yang tersisa dari terjangan banjir menggantung seadanya di steling kaca depan rumahnya.

Perempuan 52 tahun yang akrab disapa Rindu ini sudah 40 tahun tinggal di Kelurahan Kampung Aur, Medan. Namun, tiga hari terakhir menjadi hari yang tak akan ia lupakan.

“Airnya 1,5 meter. Sampai sini,” ujarnya sambil menunjuk dinding rumahnya yang bekas banjirnya masih setinggi pinggang orang dewasa, sekitar 100 sentimeter.

1. Loteng menjadi satu-satunya tempat bertahan selama banjir

Marini Tanjung atau akrab disapa Rindu merupakan warga yang terdampak banjir di Kelurahan AUR (IDN Times/Indah Permata Sari)

Banjir itu datang malam hari. Saat warga lain panik mencari tempat pengungsian, Rindu dan keluarganya memilih bertahan di rumah mereka sendiri. Bukan karena tidak mau pergi, tapi karena loteng menjadi satu-satunya harapan.

“Di sini saya tinggal 3 Kartu Keluarga. Saya, adik saya, dan paman saya. Totalnya kami 7 orang,” tutur ibu tiga anak ini.

Selama tiga hari, tujuh jiwa itu berdesakan di loteng sempit. Di bawah mereka, air cokelat bercampur lumpur merendam perabotan. Dagangan kecilnya ikut terendam.

Masjid di dekat rumahnya yang biasanya menjadi tempat berlindung warga pun tak luput.

“Masjid memang ada pembenahan dan dihantam banjir juga,” kata Rindu.

2. Warga akui bantuan hanya datang pada saat mencalonkan diri jadi pejabat

Marini Tanjung atau akrab disapa Rindu merupakan warga yang terdampak banjir di Kelurahan AUR (IDN Times/Indah Permata Sari)

Yang membuat hatinya perih, selama tiga hari terendam, bantuan tak kunjung datang.

“Tidak ada bantuan dari Pemko Medan saat banjir melanda selama 3 hari,” keluhnya.

Ia mengaku hanya mendapat nasi bungkus dari kecamatan. Itu pun tidak menentu.

“Nasi-nasi itu kadang dari Kecamatan, siang dan malam kemarin ada. Tidak ada dapur umum. Karena yang disuruh masak juga warga yang terdampak banjir juga, jadi nggak sempat kita masak. Apalagi awak, yang kebanjiran juga,” ujarnya lirih.

Rindu paham betul pola bantuan di kampungnya.

“Bantuan ketika ada Pileg atau pencalonan, itu baru mereka datang kasih bantuan,” sindirnya.

Di Kelurahan Aur sendiri, ada 10 lingkungan. Menurut Rindu, rumahnya masih tergolong dataran tinggi. Tetangganya yang tinggal lebih dekat dengan sungai, kondisinya jauh lebih parah.

Baginya, banjir kali ini belum seberapa dibanding tahun lalu. Pada 2025, air di rumahnya mencapai 3 meter hingga loteng pun tak bisa menyelamatkannya.

3. Nek Koto Harus Tidur di Pinggir Jalan

Nek Koto merupakan warga yang terdampak banjir di Kelurahan AUR (IDN Times/Indah Permata Sari)

Kisah lebih pilu datang dari Nek Koto. Perempuan berusia 70 tahunan ini tidak memiliki loteng seperti Rindu. Rumahnya pun masih sewa.

“Gak pala banyak barang. Paling barang anak kalau gak dijaganya. Banjirnya malam sekitar jam 10 malam, lumayan tinggi,” cerita Nek Koto.

Begitu air masuk, anaknya langsung menyuruhnya naik.

“Begitu banjir langsung disuruh anak pindah ke atas. Kami mengungsi sampai tidur di titi depan jalan raya. Kami ramai-ramai tidur di situ bentang ambal. Karena kami gak ada loteng, rumah pun sewa,” kenangnya.

Selama banjir, Nek Koto mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan apa pun. Ia hidup menumpang pada anaknya, mengharapkan uang jajan harian.

“Anaklah yang kasih uang, kadang dapat Rp2 ribu atau Rp4 ribu untuk dipegang jajan,” ujarnya.

Dari pantauan IDN Times di lokasi pada Jumat (30/10/2026), suasana Kampung Aur masih porak-poranda. Warga sibuk membersihkan barang-barang berlumpur. Di tengah becek itu, anak-anak justru asyik bermain bola di atas tanah yang masih berlumpur. Lalu-lalang warga yang beraktivitas kembali terlihat, mencoba menata hidup yang sempat terendam selama tiga hari.

Bagi Rindu, Nek Koto, dan ratusan warga Kampung Aur lainnya, banjir bukan hanya tentang air yang datang dan pergi. Ini tentang bertahan hidup di atas loteng, di atas titi, dan di antara janji bantuan yang tak kunjung datang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article