Nek Koto merupakan warga yang terdampak banjir di Kelurahan AUR (IDN Times/Indah Permata Sari)
Kisah lebih pilu datang dari Nek Koto. Perempuan berusia 70 tahunan ini tidak memiliki loteng seperti Rindu. Rumahnya pun masih sewa.
“Gak pala banyak barang. Paling barang anak kalau gak dijaganya. Banjirnya malam sekitar jam 10 malam, lumayan tinggi,” cerita Nek Koto.
Begitu air masuk, anaknya langsung menyuruhnya naik.
“Begitu banjir langsung disuruh anak pindah ke atas. Kami mengungsi sampai tidur di titi depan jalan raya. Kami ramai-ramai tidur di situ bentang ambal. Karena kami gak ada loteng, rumah pun sewa,” kenangnya.
Selama banjir, Nek Koto mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan apa pun. Ia hidup menumpang pada anaknya, mengharapkan uang jajan harian.
“Anaklah yang kasih uang, kadang dapat Rp2 ribu atau Rp4 ribu untuk dipegang jajan,” ujarnya.
Dari pantauan IDN Times di lokasi pada Jumat (30/10/2026), suasana Kampung Aur masih porak-poranda. Warga sibuk membersihkan barang-barang berlumpur. Di tengah becek itu, anak-anak justru asyik bermain bola di atas tanah yang masih berlumpur. Lalu-lalang warga yang beraktivitas kembali terlihat, mencoba menata hidup yang sempat terendam selama tiga hari.
Bagi Rindu, Nek Koto, dan ratusan warga Kampung Aur lainnya, banjir bukan hanya tentang air yang datang dan pergi. Ini tentang bertahan hidup di atas loteng, di atas titi, dan di antara janji bantuan yang tak kunjung datang.