Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Super El Nino Mengancam Indonesia, Riau Siaga
Ilustrasi El Nino, Netral, dan La Nina (BMKG.go.id)
  • Fenomena Super El Nino diprediksi melanda Indonesia pada April 2026, memicu kemarau panjang, suhu ekstrem, dan risiko tinggi kebakaran hutan serta lahan seperti peristiwa besar 1997–1998.
  • Ahli lingkungan Prof Bambang Hero Suharjo menegaskan ancaman Karhutla makin serius di Riau, menyoroti bahaya asap beracun dan pentingnya deteksi dini serta kolaborasi lintas pihak untuk pencegahan cepat.
  • Polda Riau meningkatkan siaga menghadapi 310 hotspot yang terdeteksi, dengan Bengkalis mencatat titik panas terbanyak di wilayah pesisir dan lahan gambut yang rawan terbakar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pekanbaru, IDN Times - Fenomena Super El Nino diprediksi akan melanda Indonesia pada April 2026 ini. Fenomena yang dijuluki Godzilla El Nino ini, akan berdampak pada kemarau panjang, suhu panas yang menyengat, kekeringan dan beresiko tinggi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Adapun salah satu contohnya, peristiwa Karhutla besar yang terjadi pada tahun 1997-1998 di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Dimana saat itu, luas kebakaran yang melanda, 10 sampai 11 juta hektare. Tidak hanya itu, dalam peristiwa tersebut juga memakan korban jiwa.

Diketahui, Super El Nino adalah anomali iklim ekstrim yang ditandai dengan naiknya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, yang diperkirakan mencapai 2,7 derajat celcius.

1. Ini kata ahli lingkungan

Guru Besar IPB University Bidang Perlindungan Hutan Prof Bambang Hero Suharjo (IDN Times/ dok Polda Riau)

Guru Besar IPB University Bidang Perlindungan Hutan Prof Bambang Hero Suharjo mengingatkan, bahwa ancaman Karhutla ke depan berpotensi semakin serius seiring prediksi fenomena Super El Nino yang menguat.

Menurutnya, apa yang terjadi saat ini merupakan bagian dari prediksi ilmiah yang sudah lama disampaikan para ahli terkait perubahan iklim global.

"Ini bukan lagi sekadar prediksi, tapi sudah mulai menjadi kenyataan. Kondisinya bahkan bisa menyerupai kejadian tahun 1997–1998," ucap Bambang usai meninjau kondisi Karhutla yang terjadi di Provinsi Riau, Sabtu (4/4/2026).

Dalam peninjauan tersebut, Bambang juga mengamati kondisi lapangan, termasuk tinggi muka air di kanal dan parit yang mulai menunjukkan penurunan menuju batas kritis. Hal ini menjadi indikator awal meningkatnya risiko Karhutla.

Selain ancaman api, ia menyoroti bahaya asap yang ditimbulkan. Menurutnya, asap kebakaran mengandung puluhan jenis gas berbahaya. Diantaranya hidrogen sianida yang dapat memicu gangguan kesehatan serius bahkan kematian.

"Jangan hanya melihat asap sebagai gangguan biasa. Di dalamnya ada banyak zat berbahaya yang bisa berdampak jangka panjang bagi kesehatan," ujarnya.

Dalam kesempatan  tersebut, Bambang menekankan pentingnya langkah cepat dan kolaboratif dalam pencegahan. Ia mengingatkan agar semua pihak tidak menunggu hingga kondisi memburuk.

“Tindakan paling penting adalah deteksi dini dan respon cepat. Begitu ada indikasi kebakaran, segera laporkan. Ini tanggung jawab bersama, karena dampaknya dirasakan semua," pungkasnya.

2. Riau Siaga, daerah pesisir dan kawasan bergambut jadi perhatian utama

Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan saat meninjau Karhutla yang terjadi di Kabupaten Bengkalis (IDN Times/ dok Polda Riau)

Sementara itu, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan memberikan atensi khusus kepada jajarannya terhadap potensi peningkatan Karhutla tahun ini. Ia menegaskan, bahwa kesiapsiagaan harus dilakukan sejak dini, tidak menunggu hingga kebakaran meluas.

"Potensi tahun ini tidak bisa dianggap biasa. Seluruh jajaran harus bergerak lebih awal, mengedepankan pencegahan sebelum kebakaran terjadi," tegasnya.

Irjen Pol Herry menerangkan, daerah pesisir dan kawasan bergambut akan menjadi perhatian utama tim gabungan, seperti dari TNI-Polri, Manggala Agni, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan relawan. Hal tersebut dikarenakan daerah pesisir dan kawasan bergambut memiliki karakteristik mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

"Jangan sampai kita mengulang kejadian besar. Pencegahan adalah kunci utama," terang Irjen Pol Herry Heryawan.

Terkait dengan sinyal kuat Super El Nino, Irjen Pol Herry Heryawan memandang sebagai ujian kesiapsiagaan seluruh pihak.

"Kita harus lebih siap dari sebelumnya. Lebih baik mencegah daripada menghadapi dampak kabut asap yang luas," pungkasnya.

3. 310 hotspot terdeteksi hari ini, terbanyak di Bengkalis

Peta hotspot Provinsi Riau hari ini (IDN Times/ dok BMKG)

Disisi lain, sebanyak 310 titik panas atau hotspot terdeteksi di Bumi Lancang Kuning hari ini. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan sebaran hotspot terbanyak, yakni mencapai 273 titik.

Berdasarkan data prakiraan cuaca dan pemantauan hotspot, sebaran titik panas di Riau didominasi wilayah pesisir dan lahan gambut. 

"Sebaran hotspot di Riau masih didominasi wilayah pesisir dan lahan gambut, dengan jumlah terbanyak terpantau di Kabupaten Bengkalis," ujar Forecaster on Duty Yasir P.

Selain Bengkalis, hotspot juga terpantau di Kabupaten Pelalawan sebanyak 15 titik, Kota Dumai 9, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) 6, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) 3, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) 2, serta masing-masing 1 titik di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kota Pekanbaru.

Editorial Team