Meski Ada Jembatan, Warga Batang Serangan Langkat Masih Andalkan Getek

Langkat, IDN Times - Di Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, alat penyeberangan tradisional yang dikenal dengan sebutan getek masih menjadi pilihan sebagian warga untuk melintasi Sungai Batang Serangan. Padahal, jembatan permanen telah tersedia.
Namun bagi warga, keputusan menyeberang bukan didorong oleh kebiasaan lama, melainkan oleh kebutuhan paling praktis: jarak yang lebih dekat dan waktu yang lebih singkat.
Pada Kamis, 5 Februari 2026, sebuah getek rakit datar beratap seng yang digerakkan mesin kecil dan dituntun tali terlihat mengangkut warga bersama sepeda motor dan hasil kebun. Aktivitas penyeberangan berlangsung sejak pagi hingga sore, menghubungkan Desa Tanah Timbul di Kecamatan Batang Serangan dengan Desa Tasik Litur di Kecamatan Sawit Seberang.
1. Bikin waktu tempuh lebih hemat

Wak Nok (64), warga Batang Serangan, mengatakan posisi jembatan tidak berada di jalur utama aktivitas warga. Karena itu, getek masih dipilih sebagai akses sehari-hari.
“Kalau lewat jembatan, kami harus memutar jauh. Bisa nambah hampir dua kilometer. Pakai getek lebih dekat," katanya saat ditemui di lokasi.
Bagi petani dan pekebun, efisiensi waktu menjadi pertimbangan utama. Getek memungkinkan warga mencapai kebun atau desa seberang tanpa harus memutar melalui jalur utama.
“Kalau pakai getek, dari rumah ke kebun cuma sebentar. Nggak capek di jalan,” kata Sutrisno, warga setempat.
2. Penyeberangan berlangsung dari pagi hingga Jelang Maghrib

Di tepi sungai, beberapa sepeda motor tampak mengantre untuk naik ke atas getek. Dalam satu kali perjalanan, rakit ini dapat mengangkut maksimal 7 unit sepeda motor sekaligus. Itupun, tergantung debit air: apabila debit air kecil kapasitas getek dikurangi.
“Pagi sampai sore selalu ada yang menyeberang. Setiap hari” ujar Jefri (25), yang menjadi tekong getek tersebut.
Jefri mengaku jika keberadaan getek tersebut sudah ada sejak zaman Belanda. Menurutnya, getek telah menjadi bagian dari kehidupan warga sejak lama.
“Sudah lebih 4 tahun saya narik getek di sini. Dari dulu sampai sekarang masih dipakai,” katanya. “Setahu saya getek ini sudah beroperasi puluhan tahun, menghubungkan Batang Serangan dan Sawit Seberang."
Dia juga menyebutkan, operasional getek akan dihentikan ketika debit air sungai meningkat atau arus menjadi deras.
“Kalau air besar atau arus deras, biasanya kami hentikan dulu. Nunggu aman,” katanya.
3. Tarif penyeberangan disepakati bersama warga

Untuk menyeberang menggunakan getek, warga hanya dikenakan biaya Rp3.000 untuk pulang pergi, termasuk sepeda motor. Tarif tersebut telah berlaku selama bertahun-tahun dan dinilai terjangkau.
“Hanya Rp3.000 sudah pulang pergi. Itu sangat membantu kami. Kalau lewat jembatan, ongkos bensin bisa lebih besar," ucap Waknok.


















