Ruang Kontrol Pelabuhan Teluk Bayur (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Dengan digitalisasi melalui Pelindo Terminal Operating System Multipurpose (PTOS-M) dan elektrifikasi memungkinkan pelayanan di Pelabuhan Teluk Bayur berlangsung 24 jam nonstop tanpa perlu transaksi tatap muka. Tak heran hingga dini hari pelabuhan masih beroperasi.
“Saat ini pelayanan jasa kepelabuhan harus diajukan oleh pengguna jasa PTP Nonpetikemas secara online melalui Intergrated Billing System (IBS). Dengan pelayanan online dan sistem digital yang kita punya ini pengajuan layanan tidak memerlukan transaksi tatap muka lagi,” ujarnya
IBS, tambahnya, terintegrasi langsung dengan PTOS-M. Sehingga operator dan pengguna jasa dapat memonitor setiap tahapan layanan dari awal sampai akhir kegiatan. Semakin sedikit transaksi tatap muka, waktu operasional akan semakin efektif, memperkecil pungutan liar di lapangan, dan lebih transparan.
Dengan IBS ini, antrean pelayanan tidak bisa diakali atau pilih kasih, akan diproses sesuai antrean pendaftaran. Selain itu pengguna jasa juga tidak bisa mengibuli sistem. Jika melakukan wanprestrasi, misalnya tidak bayar atau muatan tidak sesuai data maka akun pengguna jasa akan langsung terkunci transaksinya.
“Kalau sudah terkunci, melakukan transaksi di pelabuhan pun tidak akan bisa. Jadi dengan sistem IBS ini semua jadi lebih transparan, pengguna dan pemberi jasa diuntungkan,” jelasnya.
Ini semua merupakan bagian dari transformasi layanan PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur yang telah dilakukan sejak tahun 2023. Tujuannya untuk mendukung penggunaan teknologi ramah lingkungan dengan implementasi elektrifikasi dan digitalisasi.
Dengan elektrifikasi, 3 unit Gantry Jib Crane tidak lagi menggunakan genset bertenaga solar melainkan menggunakan listrik yang lebih ramah.
“Semua fasilitas yang kita miliki memperkuat peran Teluk Bayur sebagai gerbang logistik utama di Sumatra Barat. Pupuk hingga beras subsidi dari Pemerintah Pusat untuk warga Sumbar semua masuk dari sini. Tidak hanya melayani kapal lokal tetapi juga internasional. April lalu kami melayani muat produk turunan kelapa sawit MT Southern Anoa untuk tujuan ekspor ke Port Qasim, Pakistan.” jelasnya.
Transformasi yang dilakukan mencakup peningkatan fasilitas dan peralatan pelabuhan. PTP Nonpetikemas Teluk Bayur kini memiliki dermaga sepanjang 917,3 meter persegi (m2) dan area penumpukan seluas 36.341 m2, yang mendukung berbagai jenis kargo.
Setelah transformasi dilakukan pada akhir 2023, kekuatan pelayanan semakin andal didukung dengan peningkatan kompetensi SDM yang tersertifikasi. Tak hanya elektrifikasi 3 unit Gantry Jib Crane saja, ada juga Wheel Loader 5 Unit, Excavator 3 Unit, Head Truck 2 Unit, Reach Stacker 1 Unit, Hopper 2 Unit, Dump Truck 6 Unit, Grab 3 Unit, Flexible Hose 35 Unit, Pipa Galvanis 27 unit, ditambahkan untuk mendukung operasional yang lebih efisien dan cepat.
“Awalnya memang saya dan karyawan di sini agak gagap dengan transformasi ini, termasuk pengguna jasa. Kita imbangi dengan peningkatan kapasitas, pelatihan, transformasi pengetahuan akhirnya kami bisa menjalankan dengan baik,” tambah Fauzi.
Fauzi, Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Pasca transformasi, Fauzi mengakui kinerja penanganan komoditas di pelabuhan Teluk Bayur menunjukkan tren positif. Semester pertama pasca transformasi, penanganan curah cair, khususnya CPO (Crude Palm Oil), mencapai 6.577 ton dan throughput sebanyak 1,5 juta ton (Per Juli 2024). CPO yang ditangani untuk ekspor ke berbagai negara, termasuk Malaysia, Bangladesh, Myanmar, Spanyol, India, dan banyak lainnya.
Pada tahun 2025, Teluk Bayur mencatat aktivitas throughput sebesar 5,79 juta ton. Meskipun sempat terjadi musibah banjir bandang di Sumatra Barat pada akhir Tahun 2025 dimana jalur logistik darat dari hinterland sempat terputus.
Hingga awal 2026, PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur terus membukukan kinerja positif. Quater I (Q1) Tahun 2026, capaian throughput telah menyentuh 1,51 juta ton atau 118,69 persen di atas target yang ditetapkan. Apabila dibandingkan dengan capaian throughput Triwulan I Tahun 2025 naik 11,03 persen dari capaian sejumlah 1,36 juta ton.
“Angka-angka ini kan gak bisa bohong. Dengan optimalisasi infrastruktur dan layanan serba digital, PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur membuktikan diri mampu menjadi mitra strategis bagi pelaku industri di Sumatra Barat dan posisi kami berperan penting untuk mempercepat arus logistik nasional,” kata pria yang sebentar lagi akan memasuki masa pensiun ini.
Meski terus membukukan kinerja positif, Fauzi tidak berpuas diri. Ia ingin di sisa satu tahun menuju masa pensiun terus meng-upgrade layanan di Pelabuhan Teluk Bayur.
“Salah satunya target saya sebelum pensiun ingin meningkatan kapasitas dermaga sebetulnya. Dermaga Khusus Curah (DKC) Gaung itu masih bisa dimaksimalkan fungsingnya” tegasnya.
Kedua, kerjasama pemanfaatan dermaga milik Tambang Batubara PT Bukit Asam yang kini tidak dikelola karena produksi perusahaan yang sudah tidak ada lagi.
“Kalau bisa harapannya Bukit Asam serahkan pengelolaan dermaga ke kita, serah operasi namanya. Itu bisa memperpanjang dermaga umum, jadi statusnya bukan lagi dermaga khusus,” pungkasnya.
Amrianto, Mandor Stevedoring dari PT Swarna Dwipa Pratama yang ditemui saat proses bongkar muat di Pelabuhan Teluk Bayur mengatakan pihaknya sudah menjalin kerjasama PTP Nonpetikemas selama 5 tahun. Perusahaannya menjadi penyalur pupuk bersubsidi dari Aceh ke Sumatra Barat.
“Dari sebelum digitalisasi sampai sekarang kami terus menjalin kerjasama dengan Teluk Bayur. Phonska, Urea dan semua pupuk bersubsidi untuk warga Sumbar jalur masuknya dari sini,” katanya.
Ia mengaku pasca digitalisasi pelayanan di Teluk Bayur lebih cepat dan transparan. Misalnya dalam hal bongkar muat, antrean kapal bisa dipantau secara online. Sehingga truk pengangkut milik pengguna jasa tidak dibuat terlalu lama menunggu di pelabuhan.
“Kalau dulu cuaca buruk misalnya, kadang kita gak bisa prediksi berapa lama lagi kapal bersandar. Kalau sekarang sudah bisa kita pantau dari aplikasi yang diberi pelabuhan untuk kami. Jadi sopir tahu kapan harus datang dan begitu selesai mengangkut barang harus langsung keluar tidak boleh berlama-lama di pelabuhan,” terangnya.
Selain itu, bagi Amri, yang paling bermanfaat dirasakan dari elektrifikasi dan digitalisasi di Pelabuhan Teluk Bayur adalah waktu bongkar muat barang lebih cepat dan waktu antrean kapal lebih pendek.
Sistem scan barcode sopir truk, menurut Amri juga sangat membantu pengguna jasa. Dengan sistem ini, hanya sopir yang diberi barcode oleh pengguna jasa yang bisa masuk ke pelabuhan.
“Jadi sopir mitra kita gak bisa main-main, harus sopir yang kita beri barcode yang bisa masuk. Begitu scan, jam masuk akan langsung terdeteksi. Selesai loading barang, sopir keluar pelabuhan juga scan barcode dan langsung terdeteksi,” ungkapnya.