Medan, IDN Times – Bencana banjir bandang yang memorak-porandakan Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara pada November 2025 menyisakan luka menganga. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2026 mencatat 1.178 jiwa melayang di tiga provinsi tersebut. Sebanyak 427 korban berasal dari Aceh, dan Kabupaten Aceh Utara menjadi titik paling berdarah dengan 229 korban meninggal dunia.
Di tengah lumpuhnya infrastruktur dan belum masuknya bantuan pemerintah pada fase awal darurat, warga Desa Riseh Teungoh, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, bertahan hidup lewat jalan swadaya. Penopangnya, tradisi meuseuraya. Sebuah kearifan lokal di daerah itu.
Fakta lapangan ini dibedah dalam riset etnografi terbaru tim peneliti Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed) yang dikomandoi, Muhammad Ricky Ardiansyah Putra dosen Antropologi, Gadis Anastasia, Ramadhan Saleh Lubis, dan Umar Haddad Siregar.
Meski Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mengamanatkan perlindungan penuh dari negara bagi warga terdampak, sayangnya penerapan aturan itu di lapangan masih ibarat jauh panggang dari api.