Tradisi Leluhur Ji Zu Ingatkan Generasi Muda untuk Berbakti kepada Negara

- Ritual Ji Zu di Medan 2026 memadukan nilai budaya, spiritualitas, dan lintas agama untuk menanamkan semangat berbakti serta disiplin pada generasi muda sebagai fondasi moral bangsa.
- Dr. Stiven Widjaja menekankan bahwa menghormati leluhur bukan nostalgia masa lalu, melainkan cara menemukan arah hidup dan membangun karakter yang selaras dengan kecerdasan modern.
- Melalui keterlibatan langsung siswa dan mahasiswa, Ji Zu menjadi wadah pembelajaran nyata tentang disiplin, tanggung jawab, serta integritas sebagai bekal mencetak pemimpin berkarakter bagi masa depan Indonesia.
Medan, IDN Times - Sebuah ritual penghormatan leluhur yang dikenal sebagai Ji Zu menjadi tradisi maupun praktik spiritual yang digelar pada tahun 2026 ini, untuk membentuk para generasi muda berbakti yang menjadikan fondasi bangsa.
Ji Zu adalah sebuah acara kebudayaan dan kemasyarakatan yang diselenggarakan di Medan, Sumatera Utara, yang menampilkan perpaduan forum lintas agama dan aksi disiplin pelajar. Acara ini menonjolkan partisipasi generasi muda dan berhasil memukau ribuan warga, menekankan pada kedisiplinan serta keberagaman.
Beberapa hari lalu, ribuan orang berkumpul untuk menghadiri acara tersebut. Banyak yang melihatnya sekadar sebagai tradisi budaya. Sebagian lain mungkin melihatnya sebagai praktik spiritual.
Berbakti kepada bangsa merupakan wujud cinta tanah air dan bela negara yang dapat dilakukan melalui berbagai kontribusi positif, mulai dari belajar tekun, melestarikan budaya, hingga profesionalisme dalam bekerja. Hal ini bertujuan menjaga kedaulatan, persatuan, serta memajukan Indonesia dengan semangat pengabdian tanpa batas.
Table of Content
1. Perhelatan Ji Zu adalah pengingat tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar untuk arah moral sebuah bangsa

Bagi Dr. Stiven Widjaja sebagai motivator sekaligus CEO President Director Carnegie School ini perhelatan Ji Zu adalah pengingat tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar untuk arah moral sebuah bangsa.
"Kita hidup di jaman yang bergerak serba cepat. Anak-anak kita tumbuh dalam dunia yang penuh kompetisi, angka, dan pencapaian. Sekolah-sekolah berlomba mencetak siswa berprestasi. Orang tua senantiasa berharap anak mereka menjadi sukses, sementara dunia kerja menuntut kecepatan dan kecerdasan tanpa kompromi. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, jarang sekali kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah karakter mereka bertumbuh seiring dengan kepintaran mereka," ucapnya pada IDN Times.
Menurutnya, menghormati leluhur bukan berarti manusia hidup di masa lalu. Justru sebaliknya. Dari kesadaran akan asal-usullah, seseorang menemukan arah untuk melangkah maju, manusia yang tahu dari mana ia berasal akan lebih berhati-hati dalam menentukan ke mana ia akan pergi.
2. Berbakti bukan sekadar tradisi usang, namun ini adalah fondasi peradaban

Dalam Ji Zu, ada satu nilai sederhana yang sering terlupakan dalam kehidupan modern yaitu berbakti. Berbakti bukan sekadar tradisi usang, namun ini adalah fondasi peradaban.
"Anak yang belajar menghormati orang tua di rumah, akan lebih mudah menghormati gurunya di sekolah. Murid yang belajar menghargai guru, akan lebih mudah menghormati aturan di masyarakat. Pada akhirnya, generasi yang terbiasa menghormati nilai-nilai luhur akan lebih siap memimpin dengan hati," lanjut Stiven.
Hal inilah yang menjadi alasan dalam penyelenggaraan Ji Zu tahun ini, sebab dirinya mengambil langkah berani dengan melibatkan generasi muda secara langsung.
"Mereka tidak sekadar berdiri di pinggir lapangan sebagai penonton, melainkan turun tangan menjadi pelaku. Ratusan siswa Carnegie School dan mahasiswa ITB Carnegie yang bertugas menjalankan prosesi dengan presisi tinggi ini bukan sedang memainkan peran seremonial belaka," katanya.
3. Generasi muda mempraktikkan cara menjadi pribadi yang tertib, konsisten, dan dapat dipercaya

Dari acara ini dia berharap generasi muda yang sedang berlatih disiplin dan tanggung jawab ini, dapat belajar bahwa ada nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar ego diri sendiri.
Di atas panggung itu, mereka mempraktikkan cara menjadi pribadi yang tertib, konsisten, dan dapat dipercaya. Sebab, pendidikan sejati tidak boleh berhenti di ruang kelas. Artinya, harus hidup dan bernapas dalam tindakan nyata di lapangan.
"Saya sangat percaya bahwa bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh kecerdasan intelektual, tetapi oleh karakter yang kokoh. Kita membutuhkan pemimpin yang bukan hanya pintar berbicara, tetapi tahu cara berterima kasih. Kita membutuhkan para profesional yang bukan hanya mampu menghasilkan keuntungan, tetapi juga mampu menjaga integritas," tutup Stiven.













![[BREAKING] Banjir dan Longsor Hantam Sembahe, 5 Orang Meninggal](https://image.idntimes.com/post/20250404/1000151948-d96a59a92c0d3e5d264ab9da4284a2ea.jpg)





