Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Marsius Sitohang, Tukang Becak Dayung Kini ke Panggung Dunia Berkat Suling Batak
Marsius Sitohang, seniman suling asal Samosir, Sumatra Utara (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Marsius Sitohang, seniman suling asal Samosir berusia 73 tahun, sukses tampil dari Istana Negara hingga Eropa berkat suling bambu tuanya yang ia sebut sebagai 'istri pertama'.
  • Meski tidak tamat SMP, Marsius tetap mengajar seni tanpa bayaran demi menjaga agar musik tradisional Batak dan permainan suling tidak punah di kalangan generasi muda.
  • Melalui kisah hidupnya, Marsius berpesan kepada anak muda untuk mencintai dan melestarikan seni serta budaya daerah sebagai wujud mimpi yang bisa membawa kebanggaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
1985

Nama Marsius Sitohang mulai dikenal di Universitas Sumatera Utara saat ada seminar tentang Danau Toba. Di sana ia berkenalan dengan turis yang kemudian membuka jalan kariernya hingga tampil di Istana Negara dan keliling dunia.

25 April 2026

Marsius tampil di panggung Jangan Kasih Kendor (JKK) yang digelar Rumah Karya Indonesia. Dalam wawancara usai pertunjukan, ia menceritakan perjalanan hidup dan kariernya sebagai maestro suling Batak.

kini

Pada usia 73 tahun, Marsius masih aktif mengajar seni suling tanpa gaji demi melestarikan budaya. Ia terus memberi pesan kepada generasi muda agar menjaga dan mengembangkan seni daerah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Marsius Sitohang, seniman suling asal Samosir, tampil di panggung Jangan Kasih Kendor di Medan dan menceritakan perjalanan hidupnya dari pengayuh becak hingga tampil di berbagai negara berkat suling Batak miliknya.
  • Who?
    Marsius Sitohang, maestro suling berusia 73 tahun yang berasal dari Samosir, Sumatra Utara, dikenal karena dedikasinya melestarikan seni musik tradisional Batak.
  • Where?
    Penampilan terbaru Marsius berlangsung di acara Jangan Kasih Kendor yang digelar Rumah Karya Indonesia di Medan, Sumatra Utara.
  • When?
    Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu malam, 25 April 2026.
  • Why?
    Marsius ingin memperkenalkan dan menjaga agar seni suling Batak tidak punah serta menginspirasi generasi muda untuk mencintai budaya daerahnya.
  • How?
    Dengan memainkan suling bambu berusia 50 tahun yang disebutnya “istri pertama”, Marsius terus berkarya dan mengajar tanpa gaji demi pelestarian seni tradisional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada kakek namanya Marsius, umurnya tujuh puluh tiga tahun. Dulu dia main becak dan suka tiup suling dari bambu. Suling itu sudah tua sekali, katanya seperti istri pertamanya. Karena suling itu, kakek bisa naik pesawat dan main musik di banyak negara. Sekarang dia masih mengajar anak-anak supaya seni suling tidak hilang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kisah Marsius Sitohang menampilkan kekuatan ketekunan dan cinta terhadap seni tradisional. Dengan suling bambu berusia 50 tahun yang ia sebut “istri pertama”, ia membuktikan bahwa dedikasi mampu menembus batas pendidikan dan usia. Tanpa pamrih, ia terus mengajar demi menjaga hidupnya seni suling Batak, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk mencintai warisan budaya mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Umur 73 tahun, SMP tidak tamat, tapi paspornya penuh stempel. Marsius Sitohang, seniman suling asal Samosir, Sumatra Utara sudah manggung dari Istana Negara sampai kota-kota Eropa. Rahasianya? Sebatang bambu tua yang dia sebut “istri pertama”.

Nama Marsius mulai dikenal di USU sejak 1985. “Dasarnya itu waktu saya mau bawa becak dayung. Saat itu ada seminar tentang Danau Toba,” katanya pada IDN Times, usai tampil di panggung Jangan Kasih Kendor (JKK) yang digelar oleh Rumah Karya Indonesia, pada Sabtu (25/4/2026) malam.

Di seminar itu dia kenalan dengan turis. Baginya, ini menjadi satu pertemuan yang membuka jalan panjang. Dari situ Marsius dipanggil ke Istana Negara. Lalu keliling dunia dimulai: Australia, China, hingga Jepang.

“Yang di Eropa semua sudah saya keliling, seluruh kota-kota Eropa, dari Prancis, Swiss, seluruh negara-negara itu, dan Amsterdam. Cuma satu lagi yang belum yaitu Afrika," ungkapnya.

Dahulu, dirinya hanya bisa sebatas melihat pesawat yang melintas diatas kepalanya. “Dari dulu ceritanya ingin sekali naik pesawat. Akhirnya jadi mimpi yang tidak disangka-sangka dan terjadi," tutur Marsius.

1. Suling berusia 50 Tahun menjadi Istri pertama bisa membawa terbang keliling dunia

Marsius Sitohang, seniman suling asal Samosir, Sumatra Utara (IDN Times/Indah Permata Sari)

Marsius bermain suling sejak umur 12 tahun, saat itu masih duduk dibangku SD. Kemudian ia tidak lagi sekolah, dan akhirnya tidak tamat SMP. Namun, sulingnya tak pernah lepas.

“Bagiku suling itu istriku pertama. Karena dia kesayanganku. Usia suling ini sekarang sudah berumur 50 tahun. Dari suling ini aku bisa berkeliling dunia," ungkap sang maestro.

Darah seni yang dimiliki Marsius memang sudah ada dari keluarganya.

2. Mengajar tanpa gaji, biar seni suling tak punah

Marsius Sitohang, seniman suling asal Samosir, Sumatra Utara (IDN Times/Indah Permata Sari)

Sampai umur 73 tahun, Marsius masih mengajar. Dia juga sempat membuat sanggar, dan rela untuk tidak digaji demi dapat mengajar anak-anak dalam berseni.

Motivasi yang dimiliki Marsius sangat sederhana. Yakni, membesarkan seni melalui suling. Bahkan, dia berharap jangan sampai punah seni suling atau musik-musik di daerah ini.

Marsius juga merasa khawatir kepada anak muda saat ini yang masih banyak tidak mengetahui seni didaerahnya. Salah satunya adalah manortor.

Lewat penampilannya bersuling, di depan penonton Gen Z dan milenial tampak terpukau.

3. Pesan Marsius untuk Anak Muda

Marsius Sitohang, seniman suling asal Samosir, Sumatra Utara (IDN Times/Indah Permata Sari)

Marsius yang sering dipanggil Tulang ini, menitip pesan kepada kawula muda, agar sadar dan dapat mengembangkan seni serta sejarah daerah.

Dari anak SD di Samosir yang putus sekolah, hingga menjadi maestro suling yang manggung keliling Eropa. Dari becak dayung di USU, ke Istana Negara. Semua berawal dari bambu 50 tahun yang tidak akan pernah dijual.

“Coba lah pikirkan. Kalau mimpi naik pesawat saja bisa kejadian, apalagi mimpi menjaga budaya biar gak punah," pesannya.

Editorial Team