Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lebih Dari Kopi, Kisah Sekata Kopi Jadi 'Rumah Kedua' Komunitas Medan
Pemilik Sekata Kopi, Muhammad David (Dok. Pribadi)
  • Muhammad David bangkit dari kegagalan EO saat pandemik dan mendirikan Sekata Kopi bermodal di bawah Rp150 juta, hasil riset ke 20 coffee shop di Jakarta dan Medan.
  • Sekata Kopi tampil beda dengan konsep homey serta area khusus vape agar semua pengunjung tetap nyaman tanpa terganggu asap rokok.
  • Respons positif membuat Sekata Kopi ekspansi ke Cambridge City Square dan menargetkan perluasan nasional sambil mengangkat kearifan lokal tiap kota.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pandemik COVID-19

Muhammad David kehilangan bisnis Event Organizer akibat dampak pandemik. Dari situ ia mulai melakukan riset ke 20 coffee shop di Jakarta dan Medan untuk mencari peluang baru.

kini

Sekata Kopi berkembang menjadi tempat berkumpul komunitas di Medan, menyediakan area vape, dan telah berekspansi ke Cambridge City Square dengan rencana memperluas secara nasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pendirian dan perkembangan Sekata Kopi, sebuah coffee shop di Medan yang menjadi tempat berkumpul berbagai komunitas serta memperluas usahanya ke pusat perbelanjaan.
  • Who?
    Usaha ini didirikan oleh Muhammad David, seorang pengusaha asal Medan yang sebelumnya memiliki bisnis Event Organizer dan kini mengelola Sekata Kopi.
  • Where?
    Sekata Kopi berlokasi di Kota Medan, Sumatera Utara, dan telah melakukan ekspansi ke Cambridge City Square sebagai langkah perluasan usaha.
  • When?
    Usaha ini dimulai pada masa pandemik COVID-19 dan terus berkembang hingga saat ini dengan rencana ekspansi nasional.
  • Why?
    Pendirian dilakukan karena pandemi membuat bisnis sebelumnya berhenti, sementara riset menunjukkan peluang besar di sektor kopi dengan konsep tempat yang nyaman seperti rumah.
  • How?
    Muhammad David melakukan riset ke 20 coffee shop dengan modal di bawah Rp150 juta, menerapkan konsep homey, menyediakan area vape terpisah, dan memperluas jaringan ke mall untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dulu ada kak David di Medan yang usahanya tutup waktu corona. Terus dia bikin tempat minum kopi namanya Sekata Kopi. Tempatnya enak kayak rumah sendiri, banyak orang datang main dan ngobrol di sana. Ada juga tempat khusus buat orang yang pakai vape biar semua nyaman. Sekarang tokonya tambah besar dan mau buka di banyak kota.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dari keterpurukan akibat pandemik, kisah Muhammad David menunjukkan bagaimana riset dan ketekunan dapat melahirkan peluang baru. Sekata Kopi tumbuh dengan konsep sederhana namun hangat, menjadi ruang nyaman bagi komunitas Medan. Inovasinya menjaga kenyamanan semua pengunjung, sementara ekspansi ke pusat perbelanjaan mencerminkan penerimaan positif terhadap semangat lokal yang dibawanya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Pandemik COVID-19 sangat berdampak dengan banyak usaha tumbang, termasuk Event Organizer (EO) milik Muhammad David. Namun, justru dari keterpurukan itu, pria asal Medan ini nemu jalan baru yaitu mendirikan Sekata Kopi.

Berangkat dari riset ke 20 coffee shop dan modal di bawah Rp150 juta, kedai ini kini jadi “rumah kedua” bagi komunitas Medan. Dari pecinta olahraga sampai komunitas lokal, semua mampir karena satu alasan: feel like home.

1. Bangkit dari warung seafood bermodal Rp150 Juta menjadi coffee shop

Suasana di kafe Sekata Kopi (Instagram @sekatakopi.id)

Keputusan David terjun ke F&B bukan nekat. Dulu ia pernah kelola bisnis F&B modal miliaran. Tapi, momen di warung seafood pinggir jalan mengubah mindset-nya.

"Saya lihat warung seafood karyawannya 6 orang, omzetnya sama dengan kita yang modal miliaran. Dari situ saya sadar, bangun F&B nggak perlu uang gede. Yang penting riset dan konsep yang pas," kenang David.

Saat pandemik, ia riset ke 15 coffee shop yang ada di Jakarta dan 5 coffee shop di Kota Medan. Targetnya adalah membuat coffee shop matang dengan modal minim. Pilihan jatuh ke kopi karena David lihat komoditas ini sudah jadi kebutuhan, bukan sekadar tren.

Di setiap sudut Kota Medan, coffee shop menjamur. Seperti setiap 5 meter ada coffee shop.

Dia bertahan dengan usaha Sekata Kopi dengan kenyamanan homey, salah satunya pelayanan, dan tempatnya yang membuat pengunjung merasa balik ke rumah.

"Kalau saya nggak di rumah, ya saya punya rumah kedua yaitu Sekata Kopi. Kita nggak cuma jual kopi, tapi jual rasa rumah," ujarnya.

Kemudian, strategi ini jalan. Sekata Kopi tidak menilai bahwa coffee shop lain menjadi saingan, tapi sesama penopang industri F&B. Hasilnya, berbagai komunitas rutin berkumpul di sini.

2. Berani beda dengan menyediakan area vape untuk menjaga kenyamanan

Pemilik Sekata Kopi, Muhammad David (Dok. Pribadi)

Inovasi Sekata Kopi tidak berhenti di konsep homey. David juga sediakan area khusus produk tembakau alternatif seperti vape dan tembakau.

Idenya muncul dari mengamati kebiasaan konsumen. Sebab, banyak yang beralih ke produk yang tidak dibakar. "Produk tembakau alternatif gak bikin bau dan asap. Jadi, pas buat coffee shop kita, pengunjung lain gak terganggu," kata David.

Karena beda dengan rokok, lokasi penggunaannya dipisah.

Lanjutnya, tujuan hadirnya coffee shop ini adalah dengan menjaga kenyamanan semua pengunjung.

3. Ekspansi ke mall dan mimpi Go nasional

Suasana di kafe Sekata Kopi (Instagram @sekatakopi.id)

Respons pasar ke area vape positif. Sekata Kopi sekarang perluas area itu dan kini sudah ekspansi ke Cambridge City Square. Dengan target selanjutnya, merambah nasional sambil mengangkat kearifan lokal di setiap kota.

David memberikan pesan, bagi para calon entrepreneur yang masih ragu, untuk terus berani eksekusi, namun jangan lupa merencanakan bisnis.

"Apapun bisnisnya, sekecil apapun, business plan harus dibuat. Dan nggak ada yang nggak mungkin," pungkasnya optimis.

Editorial Team

Related Article