Suasana di kafe Sekata Kopi (Instagram @sekatakopi.id)
Keputusan David terjun ke F&B bukan nekat. Dulu ia pernah kelola bisnis F&B modal miliaran. Tapi, momen di warung seafood pinggir jalan mengubah mindset-nya.
"Saya lihat warung seafood karyawannya 6 orang, omzetnya sama dengan kita yang modal miliaran. Dari situ saya sadar, bangun F&B nggak perlu uang gede. Yang penting riset dan konsep yang pas," kenang David.
Saat pandemik, ia riset ke 15 coffee shop yang ada di Jakarta dan 5 coffee shop di Kota Medan. Targetnya adalah membuat coffee shop matang dengan modal minim. Pilihan jatuh ke kopi karena David lihat komoditas ini sudah jadi kebutuhan, bukan sekadar tren.
Di setiap sudut Kota Medan, coffee shop menjamur. Seperti setiap 5 meter ada coffee shop.
Dia bertahan dengan usaha Sekata Kopi dengan kenyamanan homey, salah satunya pelayanan, dan tempatnya yang membuat pengunjung merasa balik ke rumah.
"Kalau saya nggak di rumah, ya saya punya rumah kedua yaitu Sekata Kopi. Kita nggak cuma jual kopi, tapi jual rasa rumah," ujarnya.
Kemudian, strategi ini jalan. Sekata Kopi tidak menilai bahwa coffee shop lain menjadi saingan, tapi sesama penopang industri F&B. Hasilnya, berbagai komunitas rutin berkumpul di sini.