Efek Penutupan Selat Hormuz, Pengamat: BBM Diyakini Segera Naik

- Iran menutup Selat Hormuz akibat ketegangan dengan Israel dan AS, memicu lonjakan harga minyak mentah dunia jenis WTI dan Brent dalam tiga hari terakhir.
- Pengamat ekonomi menilai kenaikan harga minyak dipengaruhi ancaman distribusi selama perang, karena Selat Hormuz menyuplai hingga 20 persen kebutuhan minyak global.
- Kenaikan harga minyak dunia berpotensi mendorong penyesuaian harga BBM di Indonesia, termasuk kemungkinan revisi pada BBM subsidi sesuai kebijakan pemerintah.
Medan, IDN Times - Iran telah menutup Selat Hormuz sejak eskalasi ketegangan dengan Israel dan Amerika Serikat meninggi pada 28 Februari 2026. Penutupan Selat Hormuz telah memicu kenaikan pada harga minyak mentah dunia dalam 3 hari terakhir belakangan ini. Mengacu kepada data website tradingeconomics, harga minyak mentah dunia jenis WTI naik dari sekitar $63 pada 26 Februari 2026, menjadi $70.82 per barel sejauh ini.
Hal yang tidak jauh berbeda juga ditunjukan oleh kinerja harga minyak mentah jenis Brent, dari kisaran $69 per barel menjadi $77 per barel sejauh ini. Bahkan untuk jenis minyak Brent mencatat kenaikan tertinggi dalam satu tahun belakangan ini. Kenaikan harga minyak mentah tersebut tentunya berpeluang mendorong laju tekanan inflasi global, terlebih jika kenaikannya bertahan konsisten dan mulai mengancam keuangan negara terdampak.
1. Selama perang berlangsung dan distribusi minyak terancam, maka selama itu harga minyak tetap berpeluang bertahan mahal

Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin menilai bahwa, kenaikan harga minyak mentah dunia tidak serta merta hanya bersandar pada kebijakan buka-tutup Selat Hormuz yang dilakukan Iran semata. Sebab, selama perang berlangsung dan distribusi minyak terancam, maka selama itu harga minyak tetap berpeluang bertahan mahal.
"Dari sejumlah sumber yang saya temukan, Selat Hormuz menjadi jalur yang menyediakan kebutuhan minyak dan gas global dalam rentang 15 hingga 20 persen," katanya.
2. Dunia dalam 6 tahun terakhir pernah mengalami nasib serupa

Lanjutnya, dunia dalam 6 tahun terakhir pernah mengalami nasib serupa karena tekanan harga minyak mentah dunia. Di tahun 2022, harga minyak mentah sempat naik hingga menyentuh $120 per barel setelah Rusia melakukan operasi militernya ke Ukraina. Nah sejauh Presiden AS menyatakan bahwa operasi militer ke Iran diproyeksikan akan berlangsung selama 4 minggu.
"Jika kita meletakkan asumsi bahwa perang akan berlangsung 4 minggu, maka kemungkinan besar Selat Hormuz untuk ditutup selam 4 minggu kedepan cukup terbuka. Maka wajar saja jika kita berasumsi bahwa harga minyak mentah dunia akan berpeluang bertahan mahal selama 4 minggu tersebut. Dan harga BBM di banyak belahan negara di dunia berpeluang untuk kembali disesuaikan (naik)," jelasnya.
3. Kenaikan harga minyak mentah sudah dipastikan akan dijadikan pertimbangan penyesuaian harga BBM subsidi

Bagi Indonesia kenaikan harga minyak mentah dunia saat ini sudah cukup untuk mendorong kenaikan harga BBM nonsubsidi di tanah air.
"Dan kenaikan harga minyak mentah sejauh ini sudah dipastikan akan dijadikan pertimbangan penyesuaian harga BBM subsidi di tanah air. Meskipun keputusannya ada di pemerintah nantinya," pungkasnya.


















