Ilustrasi gajah mati (BBKSDA Riau)
Berdasarkan data yang diterima IDN Times, gajah Indro diketahui mengalami fase musth yang mulai terpantau sejak 25 April 2026. Memasuki 1 Mei, perilaku gajah Indro berubah semakin agresif yang ditandai keluarnya cairan dari alat kelaminnya.
Selanjutnya pada 6 Mei, cairan sekresi dari lubang musth di pelipis kepala mulai keluar sebagai tanda fase hormonalnya semakin kuat. Kondisi itu terus berlangsung hingga awal Juni.
"Saat itu Indro tidak lagi dapat didekati, tidak merespons perintah mahout, bahkan mulai menunjukkan perilaku yang membahayakan keselamatan petugas," kata Heru.
Selama fase tersebut, tim Flying Squad tetap memenuhi kebutuhan pakan dan air minum dari jarak aman serta memandikan gajah Indro menggunakan pompa air untuk menjaga kebersihan tubuh dan suhu badannya.
Karena fase musth berlangsung cukup lama, pada 24 Juni tim medis Balai TNTN bersama dokter hewan BBKSDA Provinsi Riau melakukan pembiusan (sedasi) untuk memasang rantai tambahan sebagai langkah pengamanan.
"Setelah prosedur selesai, Indro diberikan antidot hingga kembali sadar dalam kondisi berdiri stabil," terang Heru.
Sehari setelah tindakan itu, nafsu makan dan minum gajah Indro turun drastis. Tim medis kemudian melakukan pemantauan selama 24 jam penuh disertai pemberian terapi suportif.
Pada 27 Juni, gajah Indro mendapatkan suntikan suplemen energi, evakuasi feses secara manual, pemeriksaan suhu tubuh, serta terapi infus sebanyak 10 botol.
Kondisinya sempat membaik keesokan harinya. Ia mulai mau minum, mencoba menyentuh pakan, bahkan suhu tubuhnya tercatat normal. Sehingga tim kembali memberikan terapi infus sebanyak 60 botol untuk mempercepat pemulihan.
Namun pada Senin dini hari tadi, sekitar pukul 03.30 WIB, gajah Indro ditemukan terbaring. Dokter hewan bersama tim mahout langsung melakukan pemeriksaan dan resusitasi jantung paru (CPR), tetapi upaya tersebut tidak berhasil. Gajah Indro dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB.