Kisah Nek Sri, Eks Guru Honorer yang Menabung Haji dari Jual Sarapan

- Nek Sri, 75 tahun asal Langkat, akhirnya berangkat haji setelah menabung selama 13 tahun dari hasil berjualan sarapan pagi di Binjai.
- Sebelumnya ia pernah umrah dan mendaftar haji sendiri tanpa suami karena tekad kuat ingin kembali menjadi tamu Allah SWT.
- Sejak muda bekerja keras sebagai guru honorer bergaji kecil hingga kini berjualan sarapan dan menjahit demi mewujudkan impian berhaji.
Medan, IDN Times - Sri Warsida Isdati duduk dibawah pohon menunggu teman-temannya memperbaiki gelang haji yang rusak. Ia baru saja usai melakukan tahapan terakhir calon jemaah haji di Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Ruangan Jabal Noor Asrama Haji Medan..
Sri adalah jemaah haji klompok terbang (kloter) 2 asal dari Langkat, Sumatra Utara. Tahun ini penantiannya untuk berangkat ke tanah suci pun terwujud.
1. Nek Sri menabung dan mendaftar sendiri 13 tahun silam

Nek Sri, begitu ia biasa disapa, berjuang untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci dengan kemampuannya menabung di Bank Sumut. Tabungan itu disisihkannya hasil dari berjualan sarapan pagi di Binjai.
Selama 13 tahun Nek Sri menanti. Perjuangan tidak mengkhianati hasil. Kini di usia 75 tahun, ia segera memenuhi panggilan tamu Allah SWT. "Kita targetkan seperti kita punya utang. Harus ada, memang gak dipaksa tapi kalau niat pasti selalu ada," cerita Nek Sri kepada IDN Times.
Apapun kondisinya, Nek Sri selalu menyisihkan uang agar dapat ditabung setiap harinya. Hal itu yang membuatnya bbisa mengumpulkan uang demi menjalankan rukun Islam ke-5 itu.
2. Sebelumnya nek Sri pernah ke tanah suci untuk umrah

Nek Sri sebelumnya, pernah ke tanah suci untuk melakukan perjalanan umrah. Dari sini, ia berkeinginan kembali menjadi tamu Allah untuk menunaikan rukun islam ke-5. Dia mengatakan, sempat mengajak suami untuk daftar haji. Namun, tidak mau karena menunggu hingga belasan tahun.
"Jadi saya daftar sendiri, pergi sendiri. Padahal ternyata, ada kebijakan untuk membawa saudara kandung atau suami ikut naik haji. Bapak gak jadi pergilah, kalau ikut pasti sangat senang sekali saya bisa ibadah bersama," tuturnya.
3. Sejak gadis sudah bekerja keras menjadi guru honorer hingga kini berjualan sarapan pagi untuk bisa menabung

Nek Sri juga pernah menjadi seorang guru honorer yang mendapatkan gaji Rp300 ribu per bulan, saat itu ia masih gadis sudah bekerja keras hingga kini berjualan sarapan pagi agar bisa menabung.
"Saya ambil kelas 1 dan kelas 2 jurusan IPS di SMP PAB waktu, dan balik ke Binjai. Saya juga pernah ditarik untuk mengajar di TD. Pardede tapi saya bilang gak sanggup karena murah kali (gajinya)," sambung perempuan kelahiran 1951 ini.
Dia mengatakan sejak menjadi guru belum bisa menabung, karena penghasilan yang belum mencukupi. Hingga akhirnya ia berjualan sarapan hingga sampai saat ini bisa menyisihkan rezekinya. Ibu 5 anak ini telah berjualan sarapan pagi sejak tahun 2004. Berbagai upaya dilakukannya menambah penghasilan. Selain berjualan sarapan pagi, Nek Sri juga menjahit bordiran.
Kini Nek Sri bisa tersenyum semringah karena perjuangannya terbayar lunas. Ia sudah siap menjalani berbagai rangkaian ibadah haji. Meski di usia fisik yang tak lagi kokoh, Nek Sri punya tekad yang kuat untuk sehat dalam menjalani ibadah in. "Penyakit tidak ada, paling tensi saya 160. Pas sakit segitu (tensi), gak sakit juga segitu," pungkas Nek Sri.


















