Fortifikasi pangan menjadi bagian dari solusi mengatasi kekurangan mikronutrien. (FAO Indonesia)
Laku lancung, PT UDS ternyata sudah berjalan dalam skala masif. Sepanjang Maret hingga Agustus 2026, pabrik ini sukses memproduksi 525 ribu kilogram (525 ton) beras fortifikasi.
Dengan harga jual rata-rata Rp18.500 hingga Rp27.000 per kilogram, nilai ekonomis yang dikeruk pabrik ini ditaksir menembus angka Rp14,175 miliar.
Dalam penggerebekan tersebut, penyidik menyita sedikitnya 15.145 kilogram beras bermasalah senilai Rp280 juta. Polisi juga menyegel satu rangkaian mesin penggilingan padi seharga Rp4 miliar dan dua unit mesin fortifikasi senilai Rp300 juta.
Suhasto memastikan bahan baku yang dipakai produsen murni beras lokal. "Ini bukan beras impor. Berdasarkan penyelidikan kami, beras tersebut berasal dari Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Ini juga bukan perkara pengoplosan ulang, melainkan dugaan ketidaksesuaian kandungan beras fortifikasi dengan label yang dicantumkan," tegasnya.