Penyerahan dan penandatanganan Beasiswa Peduli Orangutan, Jumat (3/7/2026). (Dok: YOSL-OIC)
Pendiri dan Ketua YOSL-OIC, Panut Hadisiswoyo, menegaskan bahwa konservasi tidak hanya soal perlindungan habitat, tetapi juga investasi pada sumber daya manusia. Ia menilai pendidikan menjadi kunci utama dalam memastikan keberlanjutan upaya pelestarian orangutan.
"Melalui Beasiswa Peduli Orangutan, kami ingin membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mendalami ilmu pengetahuan tentang konservasi. Komitmen itu harus dibangun sejak hari ini agar mereka mampu menjadi penerus upaya pelestarian orangutan dan habitatnya. Investasi pada pendidikan adalah investasi bagi masa depan konservasi."
Senada dengan itu, Presiden Orangutan Republik Foundation (OURF), Gary L. Shapiro, menyebut program ini sebagai investasi masa depan Indonesia. Ia menekankan pentingnya melahirkan lebih banyak peneliti, akademisi, dan pemimpin di bidang lingkungan.
"Setiap penerima Beasiswa Peduli Orangutan adalah investasi untuk masa depan Indonesia. Dunia konservasi membutuhkan lebih banyak peneliti, akademisi, pegiat lingkungan, dan pemimpin yang mampu menginspirasi perubahan. Karena itu, kami memfokuskan dukungan di Aceh dan Sumatera Utara, dua provinsi yang masih menjadi rumah bagi orangutan sumatra dan tapanuli. Kami berharap para penerima beasiswa kelak menjadi bagian dari solusi, membawa ilmu yang mereka miliki untuk melindungi orangutan, hutan hujan tropis, dan keanekaragaman hayati Indonesia," kata Gary.