Beasiswa Peduli Orangutan Jadi Investasi SDM Konservasi di Sumatra

- Selama 21 tahun, Beasiswa Peduli Orangutan dari YOSL-OIC dan OURF telah mendukung 213 mahasiswa, dengan 175 alumni kini berkarier di bidang konservasi dan lembaga pemerintahan.
- Tahun 2026, sebanyak 12 mahasiswa baru dari Sumatra Utara dan Aceh resmi menerima beasiswa yang mencakup biaya pendidikan, penelitian, hingga dukungan tambahan bagi mahasiswa kedokteran hewan.
- Panut Hadisiswoyo dan Gary L. Shapiro menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi penting untuk melahirkan generasi muda pelestari orangutan serta penggerak masa depan konservasi Indonesia.
Medan, IDN Times - Selama 21 tahun berjalan, Beasiswa Peduli Orangutan terus menjadi salah satu upaya jangka panjang dalam mencetak generasi muda yang berperan dalam dunia konservasi.
Hingga 2026, program yang digagas Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) bersama Orangutan Republik Foundation (OURF) ini telah mendukung 213 mahasiswa. Sebanyak 175 di antaranya telah lulus dan kini berkarier di berbagai lembaga konservasi, instansi pemerintah, hingga melanjutkan studi ke jenjang magister.
1. Ratusan mahasiswa telah merasakan manfaat beasiswa

Program Beasiswa Peduli Orangutan telah menjangkau 213 mahasiswa sejak pertama kali diinisiasi pada 2006. Koordinator Pendidikan dan Penyadartahuan YOSL-OIC, Darsimah Siahaan, mengatakan bahwa capaian tersebut menunjukkan dampak nyata dari program ini.
"Selama 21 tahun, kami melihat banyak alumni yang kini mengabdikan diri di dunia konservasi, bekerja di NGO, instansi pemerintah, hingga melanjutkan studi. Bagi kami, inilah dampak terbesar dari Beasiswa Peduli Orangutan, yaitu melahirkan generasi yang berkontribusi untuk kerja kerja konservasi," ujarnya.
2. Tahun 2026, 12 mahasiswa baru resmi menerima beasiswa

Tahun ini, sebanyak 12 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatra Utara dan Aceh resmi menjadi penerima Beasiswa Peduli Orangutan 2026. Mereka telah menandatangani kontrak beasiswa yang digelar pada 3 Juli 2026 di Convention Hall Lantai 3, Gedung Biro Rektor Universitas Medan Area.
Program ini tidak hanya memberikan dukungan biaya pendidikan hingga lulus, tetapi juga bantuan penelitian bagi mahasiswa. Bahkan, untuk mahasiswa kedokteran hewan, tersedia dukungan tambahan biaya koas sebagai bagian dari penguatan kapasitas akademik.
3. Konservasi dinilai harus dimulai dari pendidikan

Pendiri dan Ketua YOSL-OIC, Panut Hadisiswoyo, menegaskan bahwa konservasi tidak hanya soal perlindungan habitat, tetapi juga investasi pada sumber daya manusia. Ia menilai pendidikan menjadi kunci utama dalam memastikan keberlanjutan upaya pelestarian orangutan.
"Melalui Beasiswa Peduli Orangutan, kami ingin membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mendalami ilmu pengetahuan tentang konservasi. Komitmen itu harus dibangun sejak hari ini agar mereka mampu menjadi penerus upaya pelestarian orangutan dan habitatnya. Investasi pada pendidikan adalah investasi bagi masa depan konservasi."
Senada dengan itu, Presiden Orangutan Republik Foundation (OURF), Gary L. Shapiro, menyebut program ini sebagai investasi masa depan Indonesia. Ia menekankan pentingnya melahirkan lebih banyak peneliti, akademisi, dan pemimpin di bidang lingkungan.
"Setiap penerima Beasiswa Peduli Orangutan adalah investasi untuk masa depan Indonesia. Dunia konservasi membutuhkan lebih banyak peneliti, akademisi, pegiat lingkungan, dan pemimpin yang mampu menginspirasi perubahan. Karena itu, kami memfokuskan dukungan di Aceh dan Sumatera Utara, dua provinsi yang masih menjadi rumah bagi orangutan sumatra dan tapanuli. Kami berharap para penerima beasiswa kelak menjadi bagian dari solusi, membawa ilmu yang mereka miliki untuk melindungi orangutan, hutan hujan tropis, dan keanekaragaman hayati Indonesia," kata Gary.



















