Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sejarah Lapangan Merdeka Medan, Saksi Proklamasi Sumut

Kota Medan
Sejarah Lapangan Merdeka Medan, Saksi Proklamasi Sumut
Pemandangan Lapangan Merdeka Medan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
  • Lapangan Merdeka Medan menjadi saksi sejarah penting, termasuk penyiaran resmi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Sumatra Utara pada 6 Oktober 1945 dan pergantian nama dari Fukuraido menjadi Lapangan Merdeka.
  • Sejak era kolonial Belanda hingga kini, Lapangan Merdeka dikelilingi bangunan bersejarah seperti Kantor Wali Kota, Hotel, Bank, dan Stasiun Kereta Api yang menjadikannya pusat kota Medan.
  • Revitalisasi sejak 2022 mengusung konsep pelestarian sejarah dengan tambahan fasilitas modern seperti parkir bawah tanah serta konektivitas antara kawasan Kesawan, Lapangan Merdeka, dan Stasiun Kereta Api.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times – Kota Medan memasuki usia 436 tahun pada 1 Juli 2026 ini. Salah satu ikon bersejarahnya adalah Lapangan Merdeka Medan. Ini ruang publik paling bersejarah di Kota Medan. Berlokasi di kawasan titik nol kota, tempat ini telah menjadi saksi berbagai peristiwa penting sejak masa kolonial hingga awal kemerdekaan Indonesia. Tak heran jika Lapangan Merdeka bukan sekadar alun-alun, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Kota Medan.

Menurut Pengamat Lingkungan dan Penataan Kota, Jaya Arjuna, Lapangan Merdeka memiliki peran besar dalam sejarah bangsa. Salah satunya sebagai lokasi penyampaian kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kepada masyarakat di wilayah Sumatra Utara. Nilai historis inilah yang membuat keberadaan Lapangan Merdeka terus dijaga dan dikenang hingga kini.

Sejak 4 Juli 2022, Lapangan Merdeka menjalani proses revitalisasi dan kini sudah digunakan kembali. Lantas, apa saja fakta menarik di balik salah satu ikon Kota Medan ini? Berikut sejumlah fakta sejarah Lapangan Merdeka yang dipaparkan Jaya Arjuna.

  1. 1. Aktif digunakan sejak tahun 1880 di era penjajahan Belanda dan berganti nama saat penjajahan Jepang

    Lapangan Merdeka Medan (Dok. sukagosip.com)
    Lapangan Merdeka Medan (Dok. sukagosip.com)

    Menelisik ke belakang tentang sejarahnya bahwa, perencanaan pembangunan alun-alun Lapangan Merdeka sejak 1872 sejalan dengan kepindahan Kesultanan Deli dan pusat administrasi bisnis 13 perusahaan perkebunan dari Labuhan Deli ke Medan.

    Lapangan ini aktif digunakan sejak 1880. Pada zaman Belanda, namanya adalah De Esplanade. Berbagai peristiwa bersejarah berlangsung di Lapangan Merdeka, termasuk upacara penyambutan pilot pesawat yang mendarat pertama kali di Medan pada 22 November 1924. 

    Lalu, tahun 1942 nama Esplanade berubah menjadi Fukuraido yang juga bermakna "lapangan di tengah kota" dengan fungsi yang sama, sebagai lokasi upacara resmi pemerintahan.

    Setelah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, pada 6 Oktober 1945 dilaksanakan rapat raksasa di Fukuraido yang menyiarkan secara resmi berita proklamasi Indonesia, yang dibacakan Gubernur Sumatra Muhammad Hasan. Pada 9 Oktober 1945, nama Fukuraido berubah menjadi Lapangan Merdeka dan disahkan Wali Kota Medan, Luat Siregar.

  2. 2. Dulunya ada Monumen Tamiang dan Jambur Karo

    KPOTI lakukan keseruan dengan 11 permainan tradisional di Lapangan Merdeka Kota Medan (Dok. Istimewa)
    KPOTI lakukan keseruan dengan 11 permainan tradisional di Lapangan Merdeka Kota Medan (Dok. Istimewa)

    Kemudian sekitar tahun 1950, di Lapangan Merdeka juga terdapat Monumen Tamiang yang didirikan pemerintah Belanda untuk memeringati tentara Belanda yang menjadi korban dalam Perang Tamiang (1874-96). Jika diamati pada sebelahnya terdapat sebuah geriten (jambur Karo) yang kini juga telah tidak ada.

  3. 3. Jadi pusat kota dengan berdirinya berbagai bangunan pemerintahan peninggalan kolonial

    Potret Gedung Lonsum pada 1909 dan 2020 (Dok. Gedung Arsip Pemko Medan, IDN Times/Indah Permata Sari)
    Potret Gedung Lonsum pada 1909 dan 2020 (Dok. Gedung Arsip Pemko Medan, IDN Times/Indah Permata Sari)

    Secara administratif, lokasinya berada dalam Kecamatan Medan Barat. Lapangan Merdeka dikelilingi berbagai bangunan bersejarah dari zaman kolonial Hindia Belanda.

    “Dulu pusat perdagangan itu di Labuhan, lalu menganggap di Labuhan itu tidak bisa berkembang karena daerah rawa. Maka masuklah ke titik nol itu lah di Lapangan Merdeka. Di situlah dibangun Kantor Wali Kota Medan, Hotel, Bank, Kantor Pos, Kereta Api. Maka jadilah pusat kota Lapangan Merdeka,” jelasnya.

    Yang membuat sejuk, Lapangan Merdeka ini dikelilingi oleh tanaman pohon trembesi yang sudah ada sejak zaman Belanda.

  4. 4. Akan dibangun tempat parkir bawah tanah

    IDN Times/Fadli Syahputra
    IDN Times/Fadli Syahputra

    Revitalisasi sendiri mengusung pendekatan history urban landscape. Di lapangan merdeka juga akan dibangun tempat parkir bawah tanah atau basement.

    "Konsep utamanya adalah pelestarian ruang kota bersejarah dan konteks dinamika rancang kota kontemporer," ujar Suhardi Hartono, arsitek untuk revitalisasi Lapangan Merdeka Medan, seperti dikutip dari website resmi Pemkot Medan, Minggu (5/6/2022).

    Di samping itu, lanjutnya, revitalisasi ini mempertahankan signifikansi sejarah dan karakter Lapangan Merdeka, termasuk mempertahankan keberadaan pohon-pohon tua di sana.

    "Dalam revitalisasi ini juga dirancang tempat parkir yang akan dibangun di bawah tanah," katanya.

  5. 5. Menghubungkan Kesawan, Lapangan Merdeka, dan Stasiun Kereta Api

    Ilustrasi kereta api (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi kereta api (IDN Times/Arief Rahmat)

    Wali Kota Medan Bobby Nasution mengatakan revitalisasi lapangan merdeka yang melengkapi penataan kawasan kota lama Kesawan.

    Bobby berharap revitalisasi ini juga akan menciptakan keterhubungan antara Kesawan, Lapangan Merdeka, dan Stasiun Kereta Api.

    "Persoalan parkir di kawasan tersebut terpecahkan melalui revitalisasi yakni dengan membangun tempat parkir terpusat di bawah tanah," katanya.

    Sebelum revitalisasi dimulai, Lapangan Merdeka Medan sudah dikosongkan terlebih dahulu sejak 20 Juni 2022.

Share Article

Curated For You

Editorial Team

Related Articles

See More