5 Fakta Unik Jalan Diponegoro Medan, Saksi Sejarah dari Masa Kolonial

- Jalan Pangeran Diponegoro di Medan menjadi saksi sejarah panjang sejak masa kolonial, menampilkan perpaduan antara bangunan bersejarah, pusat pemerintahan, dan kehidupan modern kota.
- Bangunan ikonik seperti Kantor Gubernur Sumatera Utara dan Gereja Baptis Pertama Indonesia menunjukkan transformasi fungsi dari era kolonial hingga kini tanpa kehilangan nilai arsitektur aslinya.
- Selain sebagai jalur sibuk dan ruang rekreasi saat Car Free Day, Jalan Diponegoro juga menjadi lokasi unjuk rasa serta titik lalu lintas penting yang mencerminkan dinamika kehidupan warga Medan.
Sudah berusia 436 tahun, Kota Medan memiliki banyak jalan yang menyimpan kisah sejarah, dan salah satu yang paling ikonik adalah Jalan Pangeran Diponegoro. Ruas jalan protokol ini hampir tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan. Setiap hari, ribuan orang melintasinya, mulai dari pegawai, wisatawan, hingga anak muda yang menghabiskan waktu di berbagai tempat populer di kawasan tersebut.
Namun, Jalan Diponegoro bukan sekadar jalur penghubung antarkawasan. Di sepanjang jalan ini berdiri berbagai bangunan bersejarah, pusat pemerintahan, rumah ibadah, hingga ruang publik yang menjadi saksi perjalanan panjang Kota Medan sejak masa kolonial. Perpaduan nilai sejarah, aktivitas pemerintahan, dan kehidupan modern membuat kawasan ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan ruas jalan lainnya.
Sayangnya, banyak orang hanya melintas tanpa mengetahui cerita di balik setiap sudutnya. Padahal, Jalan Diponegoro menyimpan beragam fakta menarik yang mencerminkan perkembangan Kota Medan dari masa ke masa. Mulai dari peninggalan era kolonial hingga landmark yang masih berdiri kokoh sampai sekarang.
Penasaran apa saja keistimewaannya? Berikut 5 fakta unik Jalan Diponegoro Medan yang menarik untuk diketahui sekaligus menambah wawasan tentang salah satu kawasan paling bersejarah di Kota Medan.
1. Gedung Gubernur Dulunya Pusat Riset Tembakau

Bangunan yang kini dikenal sebagai Kantor Gubernur Sumatera Utara awalnya bukan kantor pemerintahan. Gedung ini adalah Deli Proefstation, stasiun percobaan tembakau yang dibangun pada 1913–1916.
Di sinilah para ahli Belanda mengembangkan riset untuk menjaga kualitas tembakau Deli, komoditas utama yang menggerakkan ekonomi Sumatera Timur. Bangunannya dibuat megah, mencerminkan betapa pentingnya tembakau bagi kolonialisme saat itu.
Pada 1926, fungsi gedung ini berubah menjadi kantor Gubernur Sumatera Timur. Sejak masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga Indonesia merdeka, lokasi ini tetap menjadi pusat kekuasaan. Fungsinya nyaris tidak pernah berpindah.
2. Rumah Dokter Kolonial yang Berubah Jadi Gereja

Salah satu bangunan di Jalan Diponegoro Nomor 9 awalnya adalah rumah tinggal milik seorang dokter Belanda bernama dr. Ousting. Bangunan ini kemudian dialihfungsikan menjadi Gereja Baptis Pertama Indonesia pada awal 1950-an.
Perubahan fungsi itu diikuti perubahan struktur. Sekat-sekat kamar dibongkar untuk menciptakan ruang ibadah yang luas, dan menara lonceng ditambahkan sebagai penanda bangunan gereja.
Bangunan ini menjadi contoh rumah tinggal kolonial bisa beradaptasi tanpa kehilangan karakter arsitektur aslinya. Hingga kini, elemen kayu dan fasad lama masih dipertahankan.
3. Pernah Berdiri Kuil Jepang di Area Kantor Gubernur

Masa pendudukan Jepang meninggalkan jejak yang jarang diketahui publik. Di area belakang kompleks kantor gubernur, Jepang membangun kuil Shinto bernama Hirohara Jinja pada 1944.
Kuil ini dibangun menggunakan tenaga kerja paksa, termasuk tawanan perang Belanda dan romusha. Material bangunannya disebut berasal dari kayu yang didatangkan dari Aceh.
Setelah Jepang menyerah, kuil tersebut dihancurkan dan hampir tidak menyisakan bekas. Namun secara sejarah, Jalan Diponegoro pernah menjadi pusat simbol kekuasaan Jepang di Medan selama Perang Dunia II.
4. Arena Suara Rakyat Sekaligus Ruang Rekreasi

Jalan Diponegoro kerap menjadi titik unjuk rasa, terutama terkait isu agraria dan lingkungan. Demonstrasi petani dan aktivis sering berlangsung tepat di depan kantor gubernur.
Namun di hari Minggu pagi, wajah jalan ini sontak berubah total. Car Free Day menjadikan Diponegoro ruang rekreasi, pejalan kaki, pesepeda, komunitas sepeda tua, hingga senam massal memanfaatkan ruas jalan yang sama.
Dalam satu minggu, Jalan Diponegoro bisa menjadi ruang protes sekaligus ruang hiburan. Fungsi ganda ini membuatnya menjadi lokasi yang unik dengan dua fungsi kontras.
5. Salah Satu Titik Putar Balik Paling "Drama" di Medan

Bagi pengemudi mobil di Medan, Jalan Diponegoro memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait rekayasa lalu lintas satu arah (one way). Jalan ini adalah jalur krusial yang menghubungkan Jalan Sudirman, Jalan Zainul Arifin, dan Lapangan Benteng. Salah ambil jalur atau terlewat belokan sedikit saja, kamu harus memutar jauh mengelilingi blok yang cukup luas.
Drama kemacetan sering terjadi di jam pulang kerja, terutama di titik pertemuan arus menuju Sun Plaza atau arah Imam Bonjol. Meski sering bikin geregetan karena padat merayap, jalan ini tetap menjadi jalur favorit karena aspalnya yang mulus dan pemandangannya yang "cuci mata" dibanding jalan tikus lainnya.
Itulah 5 fakta unik mengenai Jalan Diponegoro Medan yang mungkin selama ini luput dari perhatian. Ternyata, jalan yang setiap hari kita lewati ini menyimpan perpaduan menarik antara sejarah, kekuasaan, dan gaya hidup modern yang membentuk wajah Kota Medan hari ini.


















![[BREAKING] Bupati dan Sekda Kuansing Menyerahkan Diri ke KPK](https://image.idntimes.com/post/20240122/screenshot-20240122-102228-instagram-cd8cc50ee64bf6a4e2faeb589ecd465f.jpg)