Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak-anak bermain air di antara pemakaman umum yang direndam banjir rob, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Kamis (19/5/2022). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Medan, IDN Times – Bahala banjir di kawasan Medan bagian utara belum juga usai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan mengeluarkan peringatan dini banjir pesisir atau rob yang berlaku mulai 6 hingga 13 November 2026.

Ancaman pasang air laut ini membayangi tiga wilayah sekaligus. Mulai dari kawasan pesisir Kecamatan Medan Belawan, Medan Labuhan, hingga Medan Marelan.

Peringatan tersebut muncul persis sehari setelah banjir merendam sejumlah ruas jalan dan permukiman warga di Kecamatan Medan Marelan akibat hujan deras pada Kamis (5/11/2026) dini hari. Belum tuntas urusan genangan air hujan, warga pesisir kini harus kembali bersiaga menghadapi naiknya muka air laut.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Belawan, Nur Auliakhansa, menjelaskan bahwa puncak pasang air laut diperkirakan terjadi pada waktu tengah malam hingga dini hari. Ketinggian maksimalnya bahkan bisa menembus 2,6 meter.

"Prediksi pasang di atas 2,3 meter terjadi mulai tanggal 6 hingga 13 November 2026, pada pukul 00.00–03.00 WIB, dengan pasang tertinggi mencapai 2,6 meter. Ketinggian diukur dari titik surut terendah (Lowest Astronomical Tides)," kata Nur saat dihubungi, Jumat (6/11/2026).

Menurutnya, kenaikan muka air laut tersebut berpotensi menghambat aktivitas harian masyarakat di kawasan pesisir. Tak hanya merendam permukiman, rob juga mengancam kelancaran transportasi di sekitar pelabuhan hingga kegiatan bongkar muat.

Sebelum peringatan rob ini keluar, warga di Kecamatan Medan Marelan sudah lebih dulu berjibaku dengan genangan air akibat hujan deras pada Kamis (5/11/2026). Air mulai menggenangi kawasan tersebut sekitar pukul 04.50 WIB dan tak kunjung surut hingga pukul 15.00 WIB. Tingginya nyaris mencapai lutut orang dewasa.

Di Jalan Marelan IV Pasar 3, banjir yang berulang saban tahun membuat jamak warga jenuh. Adalah Lina (60), seorang penjahit yang telah 30 tahun menetap di kawasan itu, yang merasakan betul betapa rentannya lingkungan tempat tinggalnya.

"Di tempat kami ini, satu jam hujan deras saja bakalan banjir," kata Lina, Kamis (5/11/2026) siang.

Upaya pemerintah menggali parit di depan rumah warga sebelumnya diklaim sebagai jalan keluar mengatasi genangan. Sayangnya, langkah belum menyelesaikan persoalan banjir yang kerap mengepung kawasan tersebut.

"Kalau kata pemerintah karena parit di depan rumah warga, sudah digali tapi tetap juga banjir dan bukan di (lokasi rumah) sini aja," ujarnya.

Genangan air yang menutup badan jalan turut memukul aktivitas warga yang melintas untuk menyambung hidup. Kendaraan terpaksa melaju lambat. Kemacetan panjang pun tak terhindarkan.

Dampak itu dialami langsung oleh Angga (25), seorang wiraswasta asal Mandala yang sehari-hari membuka kedai kopi di kawasan Belawan. Banjir yang merendam akses jalan membuat waktu tempuh perjalanannya molor drastis.

Biasanya, ia sudah mulai berjualan pukul 07.30 WIB. Namun akibat terjebak genangan dan antrean kendaraan, ia baru bisa membuka kedainya sekitar pukul 09.00 WIB.

Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih serius terhadap persoalan banjir berulang demi menjamin hak masyarakat atas jalan yang aman dan nyaman.

"Saat di jalan susah lewat, pengendara lain juga pelan bawa motor belum lagi macetnya kan," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article