Medan, IDN Times – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai, kondisi yang terjadi di kawasan Tapanuli Raya -- Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan – dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir bukan sekedar bencana alam. Mereka lebih memilih diksi bencana ekologi.
Bukan tanpa alasan, diksi ini dipilih karena kawasan itu mengalami kerusakan lingkungan yang sangat parah. Melihat kondisi ini, bahkan WALHI menilai, Sumut sudah mengalami darurat ekologi.
Banjir bandang dan longsor yang melanda daerah – daerah di sana adalah akibat dari kerusakan lingkungan yang cukup parah. Sepanjang pemantauan WALHI Sumut, ini merupakan kondisi terparah dalam satu dekade terakhir.
Puluhan orang meninggal dunia, ribuan warga terpaksa mengungsi, ratusan rumah hanyut, dan puluhan desa lumpuh total. Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah menjadi wilayah yang mengalami dampak paling ekstrem, di mana banjir menutup akses, merusak persawahan, hingga menghilangkan mata pencarian penduduk.
“Ini merupakan konsekuensi besar dari kerusakan harangan Tapanuli atau ekosistem Batangtoru. satu bentang alam penyangga hidrologis utama di Sumatera Utara,” kata Direktur WALHI Sumut, Rianda Purba, Jumat (28/11/2025).
Ekosistem Batang Toru selama ini berfungsi sebagai wilayah penahan air dan pengatur aliran sungai dari Pegunungan Bukit Barisan menuju hilir. Secara administratif, 66,7 persen kawasan ini berada di Tapanuli Utara, 22,6 persen di Tapanuli Selatan, dan sisanya di Tapanuli Tengah.
