Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Penyintas Banjir Tamiang: Rumah Saya Habis, Hanya Tersisa Toilet
Karli warga Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang di antara puing-puing rumahnya usai dihantam banjir bandang Aceh Tamiang 25 November 2025 lalu (IDN Times/Prayugo Utomo)

  • Karli kehilangan rumahnya akibat banjir Tamiang

  • Banjir di Aceh Tamiang telah merenggut nyawa 57 orang

  • 262.087 jiwa mengungsi, dengan ribuan rumah dan fasilitas publik rusak

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Laki-laki paruh baya itu tertegun,

Matanya tertuju pada satu titik,

Tempat di mana rumah yang pernah dihuninya

Kini semua habis diterjang ganasnya air

Aceh Tamiang, 8 Desember 2025

Meski tampak tegar, Karli tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia terus memandangi tapak rumah yang berada di Desa Dalam, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Lokasinya tidak jauh dari Jalan Lintas Medan - Langsa.

"Rumah saya habis, hanya toilet itu yang tersisa," kata Laki-laki 68 tahun itu.

Karli mencoba tetap tenang saat mengenang kembali banjir yang menerjang pada Rabu (25/11/2025) lalu. Dia menggambarkan bagaimana keganasan gelombang air yang langsung menerjang. Saat itu yang ada dipikirannya hanya bagaimana bisa selamat.

"Habis semua. Ini pakaian di badan juga dikasih sama orang. Yang selamat cuma sepeda motor dan becak. Kambing saya empat ekor, sudah gak nampak bangkainya sampai sekarang," imbuhnya.

Derasnya air digambarkan seperti tsunami

Mobil-mobil yang berserakan di antara puing-puing bekas banjir bandang Aceh Tamiang, Senin (8/12/2025) (IDN Times/Prayugo Utomo)

Seumur hidup Karli, baru kali ini banjir terjadi cukup parah. Dia bercerita, banjir terakhir yang dialaminya terjadi pada 2006 lalu. Ketinggian air hanya sepinggang orang dewasa.

"Kalau kali ini coba lihat itu. Di pucuk atap itu airnya. Airnya deras, seperti tsunami. Dan sepertinya lebih parah," kata kakek dua cucu itu.

Dia bercerita, air mulai naik pada Rabu (25/11/2025) malam. Dia mengira, banjir akan surut, namun nyatanya air kian tinggi.

Malam itu, Karli langsung meminta anaknya mengemas pakaian. Mereka kemudian sempat mencari tempat mengungsi. Karli membawa serta dua cucunya.

Di tempat Karli bermukim, puing bangunan hingga beberapa mobil berrtumpuk jadi satu. Mobil yang tadinya ada di jalan, tergeser hingga 20 meter.

Malam itu, Karli menyaksikan kepanikan warga. Dia melihat ada yang naik ke atas atap. Beruntung Karli sempat mengevakuasi keluarganya ke arah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

"Kami mengungsi di lantai 3 rumah sakit,"

Usaha pembuatan kue hancur, Risa berharap bantuan

Seorang warga berjalan melintasi bus yang terbalik di Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu (7/12/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Risa Merlin, putri kandung Karli pun menuturkan bagaimana kepanikannya malam itu. Dia kaget, ayahnya menggedor pintu saat dia dan dua anaknya sudah terlelap.

"Air naik, air naik. Cepat kemas baju," kata Risa menirukan ayahnya malam itu.

Risa hendak membangunkan kedua anaknya, namun Karli memintanya mengemas pakaian lebih dulu.

Setelah berkemas, mereka bergegas meninggalkan rumah, karena ketinggian air terus naik. Risa, Karli dan anaknya pergi ke arah RSUD Tamiang. Namun air kian naik. Mereka semua kemudian naik ke lantai tiga bersama para penyintas lainnya.

"Saya tidak pernah menyangka banjirnya begini. Makanya saya hanya sempat mengemas baju," katanya.

Saat ini, Risa dan anaknya sudah mengungsi ke rumah keluarga yang tidak terdampak. Namun dia tidak tahu ke depannya akan seperti apa. Dia tidak lagi memiliki rumah karena sudah tersapu banjir.

"Sebelum banjir saya usaha pembuatan kue di rumah. Habis semua peralatannya. Saya berharap pemerintah bisa bantu buka lapangan kerja kedepannya," kata Merlin.

Begitu juga dengan Karli, ayahnya. Karli berharap, pemerintah bisa kembali membangunkan rumah untuk warga yang menjadi korban banjir.

"Kalau tidak, kami tidak tahu lagi mau tinggal di mana," pungkasnya.

Banjir di Aceh Tamiang telah merenggut nyawa 57 orang

Seorang warga berjalan melintasi tu​mpukan manekin di kawasan Kecamatan Rantau Panjang, Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu (7/12/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Data per 6 Desember 2025 menunjukkan, banjir Aceh Tamiang sudah merenggut nyawa 57 orang. Kemudian ada 23 lainnya masih hilang.

Tercatat 262.087 jiwa mengungsi, sementara 36.838 jiwa lainnya terdampak namun tidak mengungsi. Dari laporan Posko Komando, ada 2.262 rumah rusak, termasuk 780 unit rusak berat dan 35 unit rusak sedang. Fasilitas pendidikan yang rusak mencapai 54 unit, ditambah 3 unit rusak berat. Sarana kesehatan ikut terdampak dengan 1 unit rusak, sementara data kerusakan berat masih belum masuk.

Kerusakan juga terjadi pada sarana ibadah, sebanyak 33 unit rusak dan 2 unit rusak berat. Sarana perkantoran yang terdampak mencapai 32 unit, dan 1 unit mengalami rusak berat. Infrastruktur transportasi pun lumpuh dengan 2 jembatan rusak dan 1 jembatan putus total.

Editorial Team