Comscore Tracker

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin "Panggung" Sendiri untuk Hidup

Ada yang dagang cilok sampai jual alat musiknya sendiri

Medan, IDN Times – Sore itu perempatan Jalan MH Thamrin dan Prof HM Yamin, tepatnya di depan Rumah Sakit Umum Dr Pirngadi Medan, Sumatra Utara, cukup ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Perhatian tertuju sebuah panggung di pinggiran sebuah gedung. Empat orang pria tampak asyik memainkan alat musik.

Deretan tembang mereka mainkan. Dari The Beatles yang lawas sampai lagu-lagu masa kini mereka lantunkan. Bagi para pengendara yang sedang menanti traffic lamp berganti warna, tentu sangat menghibur. Seorang pria tampak membawa kardus lalu mendatangi para pengendara yang berhenti. Beberapa menyodorkan uang. Kardus itu bertuliskan "Peduli Musisi Kota Medan."

Mereka mengamen dengan konsep full band. Berbekal surat izin dari Pemerintah kota Medan untuk memulai, maka John (gitaris dan vokal), Adam (47) bermain bass, Abdul Rahman (52) sebagai drummer dan Adek sebagai gitaris, mereka pun mulai manggung di jalanan ini sejak Mei lalu, dua bulan setelah pandemik COVID-19 mulai menjangkiti tanah air.

Dengan durasi 2 jam manggung mulai dari jam 16.00 sampai 18.00 WIB, ada sekitar 20 lagu yang mereka mainkan. John mengaku dirinya dan kawan-kawannya mengumpulkan Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Itulah yang mereka bagi rata.Tentu jumlah yang jauh dari yang mereka dapat jika manggung di tempat biasa mereka seperti cafe, hotel dan lainnya. 

“Memang hanya menggantungkan hidup sebagai pekerja musik. Hilang mata pencaharian, gak ada lagi kemana-mana. Kawan-kawan juga hampir menjual peralatan senjatanya (alat musik), karena hanya itu yang diandalkan, demi kelangsungan hidup,” ungkap John Taxman.

Begitulah salah satu upaya seniman bertahan hidup di tengah kesulitan ekonomi. Seluruh seniman di tanah air harus merasakan keringnya pendapatan tanpa adanya pentas. Tidak adanya izin untuk membuat keramaian membuat para seniman kehilangan panggungnya. Padahal mereka sangat bertumpu dengan adanya sebuah pagelaran.

Sudah 6 bulan terakhir, mereka harus memutar otak untuk hidup. Apalagi yang memang hanya menggantungkan hidupnya sebagai seniman. Seperti apa kondisinya? Begini realita dan suara mereka dari berbagai daerah.

1. Seniman di Banten ada yang beralih jadi pedagang cilok

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin Panggung Sendiri untuk HidupDok. Facebook Purwo

Di Banten, seorang seniman bernama Purwo Rubiono terpaksa harus membanting setir berjualan cilok untuk bisa bertahan hidup dan menafkahi keluarganya.

Hal itu dilakukan pria yang kerap disapa Cak Wo itu lantaran kegiatan pamentasan musik yang ia geluti harus terhenti akibat pandemik COVID-19.

Cak Wo mengatakan, persoalan seniman sejak dahulu sebelum pandemik atau sekarang masih pada kesejahteraan. Pandemik COVID-19 menambah berat lantaran karya seni yang biasanya disuguhkan ke publik, tetapi masyarakat tidak bisa berkumpul untuk menikmati karya tersebut.

"Saya berjualan cilok karena tidak ada bentuk perhatian dari pemerintah khususnya Pemprov Banten," kata mantan Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Banten (DKB) tersebut saat dikonfirmasi, Jumat 11 September 2020.

Maya, seorang disc jockey wanita di Makassar, Sulawesi Selatan, yang tidak bisa bekerja karena tempat hiburan malam (THM) ditutup juga memilih berjualan kue tradisional. Wanita berusia 23 tahun itu tidak punya banyak pilihan karena tempatnya bekerja dilarang buka.

"Mau tidak mau saya harus jualan, karena bagaimana caranya makan kalau tidak dapat penghasilan. Adik saya satu sama ibu saya di rumah mau makan apa kalau saya tidak kerja," kata Maya.

Baca Juga: Bertahan di Tengah Pandemik, Musisi Lokal Harus Jual Alat Musik

2. Menganggur tanpa pentas, seniman di Kaltim jual makanan dan minum sampai pengantar makanan diet

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin Panggung Sendiri untuk HidupPemusik dan biduan PPU saat COVID-19 (IDN Times.Istimewa)

Sejumlah seniman tepatnya para musisi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengaku turut terkena imbas pandemik COVID-19. Beberapa bulan terakhir ini mereka sepi job atau panggilan untuk bermain musik organ tunggal, band atau orkes dari masyarakat yang mempunyai hajatan, pernikahan, akikah dan acara lainnya.

Pemain orkes bernama Toto berkisah, selama lima bulan ini grup orkesnya sepi order dan berdampak pada penghasilannya. Ia menggantungkan hidup dari penghasilannya sebagai seniman.

“Sekarang masih sepi, akibat pandemik COVID-19 memang hanya ada sebagian saja yang mendapatkan izin untuk menggelar hiburan orkes itupun tidak tiap minggu kita main karena memang sepi yang order kami. Beda dulu sebelum ada COVID-19 bisa tiap minggu kami mendapatkan orderan main orkes,” tuturnya kepada IDN Times, Minggu (13/9/2020) di Penajam

“Kalau tidak ada orderan ya saya jadi pengangguran sambil mencari pekerjaan lainnya yang penting halal untuk menghidupi keluarga saya. Jadi intinya sabar dan santai yang penting dan utama tetap sehat,” tegasnya pasrah.

Terpisah, seorang penyanyi bernama Iin menuturkan, dirinya sempat beberapa bulan tidak aktif di panggung musik. Ia fokus berjualan makanan dan minuman agar bisa membantu suaminya mencari nafkah sebagai tukang servis barang elektronik. Namun kini Iin sudah mulai menerima job bernyanyi lagi.

Hal ini juga dialami oleh para seniman di Balikpapan. Seperti salah satu stand up comedian asal Balikpapan Zhacarry Marby. Pria yang akrab dengan panggilan Aby ini mengaku, pandemik membuatnya kehilangan beberapa job.

"Wah, selama pandemik ini dari bulan Maret itu, job itu sudah gak ada. Bahkan dicancel-in beberapa. Bukan hanya stand up comedy saja, bahkan nge-MC juga. Karena stand up gak bisa, MC juga gak bisa, kita harus cari yang lain. Kalau saya kemarin jadi kurir makanan diet," ucap Aby disertai tawa.

Terpisah, salah seorang seniman lukis mural dan pengrajin lampu hias dari bahan bekas Balikpapan Gusti Ambri yang tinggal di Jalan Perkutut Tiung 3 RT. 13 No. 57, Gunung Bahagia, Balikpapan Selatan, mengaku hanya membuat barang kerajinan ketika sudah dipesan. Sebelumnya, sehari ia dapat menjual tiga hingga lima buah lampu hias. Kini tergantung dari pesanan. Namun, ia tetap bersyukur karena ada pemasukan dari hasil penjualan hasil karyanya.

"Pasti ada (dampak). Karena orang pada takut keluar rumah dan malas keluar rumah. Saya juga jualnya melalui online via Whatsapp atau Instagram ke teman-teman," ujar dia.

Baca Juga: Cerita Seniman di Banten, Beralih Profesi Jadi Pedagang Cilok 

3. Musisi lokal di Sulsel sampai harus jual alat musik

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin Panggung Sendiri untuk HidupMusisi lokal Makassar, Jasir Ramadan/Instagram ice_kaluku

Jasir Ramadan, seorang gitaris home band yang biasa manggung di kafe dan tempat hiburan di Sulawesi Selatan sampai harus menjual gitar elektrik yang selama ini dipakai bekerja. "Ada tiga unit yang saya jual," kata Jasir, Sabtu (12/9/2020).

Warga Jalan Sultan Alauddin, Kecamatan Tamalate, mengaku terpaksa menjual gitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejak pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), sejak saat itu pula dia tidak bisa beraktivitas seperti biasa.

"Uang jual gitar, dipakai makan sehari-hari. Bayar listrik, air. Apalagi sempat naik semua pembayaran selama pandemik. Sampai dengan sekarang ini, beberapa tempat yang tadinya kami isi panggungnya, belum mengizinkan lagi," ungkap pria 31 tahun ini.

Jasir bilang, sebelum pandemik, hasil manggung cukup untuk digunakan bertahan hidup selama sebulan. Apalagi selama ini dia masih tinggal sendiri. Sekali manggung, biasanya dia menerima bayaran sekitar Rp150 ribu, dengan frekuensi tiga kali seminggu.

"Sempat jual makanan ringan. Semacam kue bolu, ala-ala kekinian begitu. Tapi dijual online. Karena kan masyarakat khawatir kalau mau ketemu langsung, jadi di antar pakai jasa ojek online," ujar pria yang akrab disapa Jek ini.

Namun usaha jual kue via online miliknya terhenti di tengah jalan lantaran kehabisan modal. Dia terpaksa meminjam uang ke beberapa rekannya sembari menunggu panggilan untuk kembali mengisi kegiatan pentas seni hiburan. Selain itu sebagai salah satu lulusan komputer, dia sementara membuka usaha kecil-kecilan untuk mengedit gambar dan video.

"Itu juga kalau ada teman atau kenalan minta tolong saya kerjakan. Kalau tidak, ya putar otak lagi," tambahnya.

Sementara Saad Firmansyah, gitaris salah satu band indie Makassar juga mengaku perekonomiannya sangat terdampak pandemik COVID-19. Warga Jalan KS Tubun, Kecamatan Mariso ini mengaku, terpaksa menjual peralatan musik hingga perangkat elektronik milik pribadinya.

"Yang dijual gitar dua unit, terus efek gitar satu unit, laptop satu unit, plus berbagai pinjaman di (perusahaan) pembiayaan," ucap Saad saat diwawancarai terpisah.

Sadot -sapaan akrabnya- mengaku hanya bisa pasrah dengan kondisi saat ini. Padahal kata dia, sebelum pandemik, kebutuhan hidup melalui nge-band terbilang mencukupi.

"Dulu sekitar Rp250 ribu per satu kali reguler (manggung) per orang. Kalau budget band per satu kali main rata rata di kisaran Rp1,75 juta, sekarang asli kosong pendapatan," katanya.

Sadot berharap, agar pemerintah memberikan perhatian kepada pekerja seni hiburan sepertinya. Minimal, memberikan penegasan sekaligus kebijakan kapan industri sektor hiburan dapat dibuka kembali.

"Kasih bantuan lah kepada kita-kita ini pekerja seni khususnya di bidang musik. Atau solusi kerjaan lain yang bisa dikerjakan," dia berharap.

Baca Juga: Kehilangan Job, Kisah Seniman Balikpapan Bertahan saat Pandemik 

4. Bertahan di masa pandemik seniman Jogja berkarya lewat sosial media

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin Panggung Sendiri untuk HidupPaksi Raras Alit, Gintani Nur Apresia Swastika, dan Ifada Fauzia, pada jumpa pers FKY 2020 di Pendapa Dinas Kebudayaan DIY, Senin (7/9/2020) - IDN Times/Rijalu Ahimsa

Di Yogyakarta yang juga merupakan kota penuh seniman, mereka juga merasa terjepit. Menurut salah satu seniman panggung di Yogyakarta, Paksi Raras Alit, terhitung selama 6 bulan ini para seniman panggung, frekuensi pekerjaannya turun drastis. Direktur Utama Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2020 itu menyatakan terdapat seniman yang tidak pentas sama sekali.

"Selama 6 bulan ini memang frekuensi seniman mendapatkan pekerjaan seperti tahun lalu memang turunnya sangat drastis, bahkan ada yang sudah 6 bulan ini seniman pertunjukan tidak pentas sama sekali," ucap Paksi saat jumpa pers Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2020 di Pendapa Dinas Kebudayaan DIY, Senin (7/9/2020).

Menurut Paksi, saat ini banyak para seniman mencoba menghidupkan sosial medianya seperti YouTube dan Instagram guna mengalih mediakan karya-karya mereka menjadi panggung virtual atau panggung digital.

"Semuanya (seniman) terus mengaktifkan YouTube dan sosial medianya untuk mengekspresikan diri, ya memang itulah cara kami yang paling memungkinkan yang bisa kita tempuh menghadapi ini," ucapnya.

Menurut Paksi, adaptasi pengalihan media karya juga sudah terjadi sejak zaman dulu. Seperti saat radio dan televisi masuk, para seniman juga harus beradaptasi untuk bisa mengalih mediakan karyanya dari panggung ke media seperti radio dan televisi.

Baca Juga: Curhatan Seniman di Bali, Mau Sampai Kapan Ya Pandemik Ini?

5. Banyak job di-cancel, pedangdut asal Jatim Eny Sagita banting setir jadi YouTuber

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin Panggung Sendiri untuk HidupPedangdut Koplo Eny Sagita. IDN Times/Instagram Eny_sagitathementhul

Penyayi dangdut koplo Eny Sagita lantaran gak ada lagi jadwal manggung mengaku lebih banyak berdiam diri di rumah. Selama di rumah, Eny pun memanfaatkan waktu dengan membuat berbagai konten video untuk diunggah di kanal YouTube pribadinya.

"Dalam masa pandemik ini yang jelas banyak job yang di-cancel sehingga berdampak pada pelaku seni di seluruh Indonesia. Untuk mengisi kegiatan, saya fokuskan di YouTube karena hal itu yang masih bisa dilakukan dan bisa memberi pemasukan untuk kebutuhan keluarga," tutur Eny kepada IDN Times melalui pesan singkat WhatsApp, Senin (13/7).

Dari penelusuran, sebelum konten dan kreasinya diunggah di YouTube, penyanyi bernama lengkap Eny Setyaningsih itu terlebih dulu mengunggah cuplikan di akun Instagramnya, Eny_sagitathementhul. Tujuannya, agar fans dan 375 ribu pengikut instagramnya tahu jika dirinya membuat kreasi baru.

Perempuan kelahiran Nganjuk 14 Desember 1984 itu mengaku sudah banyak membuat lagu dan konten kreatif di antaranya talkshow yang diunggah di YouTube.

"Lumayan cukup banyak, nanti bisa dilihat di YouTube saya, gak cuma lagu untuk konten YouTube-nya, tapi juga ada behind the scene dan talkshow di YouTube di balik layar Eny Sagita. Kalau lagunya bisa dilihat di YouTube Eny Sagita official, Bobyta Channel dan Eny's Production," jelas istri dari Kakung Lumintang tersebut.

Selama pandemik COVID-19, perempuan yang berkarir di dunia musik dangdut dari panggung ke panggung sejak 1996 silam itu mengaku mengalami penurunan pendapatan yang drastis. Sementara, pendapatan di YouTube juga naik turun tak sebanding dengan job manggungnya.

"Untuk pendapatan yang jelas tidak seperti biasanya karena banyak job yang ditunda dan banyak waktu yang dihabiskan untuk di rumah. Semoga masa pandemik ini cepat berakhir dan kita bisa beraktifitas seperti sediakala. Kendalanya penghasilan menurun karena di youtube pun juga naik turun ndak tentu. Karena ndak bisa kemana-mana mas harus stay at home," sambung pedangdut koplo yang populer berkat jargon Assololle tersebut.

Baca Juga: Pandemik, Pedangdut Eny Sagita Beralih Banting Setir Tekuni YouTube

6. Kolektif Hysteria di Semarang jual zine sampai kaos

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin Panggung Sendiri untuk HidupZine Propaganda Hysteria Edisi 100 setebal 2.124 halaman yang mencakup 1.850 file, 77 sampul, 820 kliping koran, dan 953 poster acara. Dok. Kolektif Hysteria.

Sementara itu salah satu seniman kontemporer, Ahmad Khairuddin berkisah, ia bersama 15 seniman lain yang tergabung dalam komunitas Hysteria, sudah sejak Januari 2020 setop dari kegiatan sampai saat ini. Padahal pada tahun 2019, mereka mampu produktif secara kolektif menggelar kegiatan seni dan budaya hingga 70-an event. Baik itu workshop, pameran, maupun program seni budaya bulanan lainnya.

Kondisi diperparah dengan adanya pemberlakuan pembatasan sosial di sejumlah daerah yang berimbas pada batalnya kerjasama beberapa mitra maupun sponsor. Mereka akhirnya memilih cara lain agar bisa bertahan hidup.

"Daripada kita minta-minta donatur atau bantuan ke pemerintah, ah tidak lah (untuk bertahan hidup). Lebih baik tidak usah. Akhirnya kami memilih membuat produk karya yang bisa di-share dan benefit-nya untuk masa depan seni di Semarang. Itu cara kami untuk bisa bertahan saat pandemik ini," kata Adin yang juga Direktur Hysteria kepada IDN Times.

Sebelum muncul ide menjual zine dan kaos, Adin sempat frustasi menyikapi pandemik COVID-19 yang masih berlangsung saat ini. Sebanyak 5-6 kontrak kegiatan seni mereka batal diadakan tahun ini. Termasuk sejumlah proposal kerjasama dan riset soal seni budaya yang mereka sebar sama sekali tidak ada yang tembus.

"Pandemik ini gila buat kami! Karena kita tidak ngapa-ngapain tetap keluar duit. Semua program kita sistemnya subsidi silang. Saat ini tidak ada (project) sama sekali yang approved. 3 kegiatan budaya kami gagal, pameran gagal, riset seni juga," keluhnya yang kelahiran Rembang, Jawa Tengah itu.

Beruntung dalam komunitas Hysteria berjumlah 16 orang, termasuk dirinya, bisa bekerja secara sukarela.

"Komunitas kami ini semi pondok pesantren. Anak-anak bekerja sifatnya kerelawanan. Ya bayaran pas ada project. Kalau tidak ada ya mereka cari (pemasukan) sendiri. Yang paling berat adalah opersional kami untuk listrik, sewa rumah, maintenance alat, lampu, sound system. Kayak lampu dan instalasi seni yang ada kalau lama gak kita pakai juga akan rusak. Gini aja sudah berat," imbuhnya.

Berjalannya waktu, kini kegiatan Hysteria lebih banyak dilakukan secara daring. Sejak Januari 2020 lalu sudah ada sekitar 30-an aktivitas seni berupa webinar yang mereka lakukan.

Baca Juga: Komunitas Hysteria Bertahan dengan Jualan Zine hingga Merchandise  

7. Seniman di Bali makan tabungan sampai hidupkan usaha rias pengantin

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin Panggung Sendiri untuk Hidupinstagram/david_darmawan

Siapa yang tidak tahu kalau Bali terkenal karena seni budayanya. Selain menggantungkan pada pariwisata, banyak pula masyarakat Bali yang menggantungkan penghidupannya sebagai seorang seniman. Karena itu, ketika pandemik COVID-19 datang dan kini akan memasuki bulan ketujuh, seniman pun ikut kena imbas.

Pemerintah Provinsi Bali sendiri telah berupaya memberikan fasilitas kepada seniman untuk tetap berkarya lewat karya virtual.Masing-masing karya virtual didanai sebesar Rp 10 juta.

Hanya saja, program dari Pemprov Bali ini hanya mampu membiayai sebanyak 202 komunitas seni. Setiap komunitas atau sanggar seni masing-masing membuat karya virtual dengan melibatkan maksimal 20 orang seniman saja.

Ini berarti sekitar 4.040 seniman saja yang bisa difasilitasi. Sedangkan jumlah seniman di Bali lebih dari itu, dan dari beragam seni pula. Ada seni tari, tabuh, seni pertunjukan, seni lukis, seni ukir, dan seni-seni lainnya.

Komang David Darmawan, seorang penari Liku (Peran yang menghibur dalam kesenian tradisional arja di Bali), mengisahkan bagaimana kondisi para seniman Bali di masa pandemik.

“Bulan pertama, kedua masih oke (Masih bisa bertahan). Lanjut bulan ketiga, keempat, kelima, bahkan keenam kita mulai merasakan titik kejenuhan. Gak cuma saya pribadi, banyak teman-teman seniman saling curhat. Ini mau sampai kapan ya? Karena anggap saja payuk jakan (Penghidupan di dapur) kita bergantung pada aktivitas kesenian. Seniman pun banyak jenisnya. Gak cuma seniman kayak kami saja, masih banyak seniman yang lain juga merasakan dampaknya,” ujar David, Jumat 11 September 2020.

Sebagai seniman pemula yang namanya sedang naik daun, pria yang memiliki nama panggung Gek Kinclong ini merasakan sekali penurunan job menari Liku. Jika situasi normal, dalam sebulan ia bisa mengantongi 10-15 panggilan job.

Cerita yang sama juga datang dari grup Bondres (Lawak Bali) asal Buleleng, Rare Kual. Grup lawak Bali yang beranggotakan Ngurah Indra Wijaya, Made Sukantara Arpin, Made Artana, dan Kadek Agus Ria Arnawan ini bahkan harus kehilangan 30 job melawak sejak pandemik mulai terjadi di Indonesia, khususnya di Bali.

“Agustus ini kami baru terima job sebanyak dua kali. Itu pun acaranya naur sesangi (Membayar kaul). Disyukuri saja. Pada awal pandemik, bahkan lebih dari 30 job di-cancel. Sudah ada yang DP, terpaksa kami kembalikan uangnya,” tutur Ngurah Indra.

Karena sepinya job kesenian, tak sedikit seniman yang kesulitan untuk bertahan hidup. Gek Kinclong terpaksa harus merogoh tabungannya karena tidak cukup menghidupi kebutuhan hidup selama pandemik. Selain itu, Gek Kinclong juga mencoba menghidupkan kembali usaha salon rias pengantin yang dimilikinya. Meski ada beberapa kali job rias, dirinya sangat bersyukur.

Sementara grup Rare Kual mengambil beberapa job endorse dan kegiatan. Memang grup ini sudah sejak dulu aktif membuat video-video lucu di Instagram. Sehingga ada yang tertarik untuk mengiklankan produknya pada mereka.

“Untuk sementara ini penghasilan kami ya dari beberapa endorse. Untuk penghasilan di YouTube kami berikan ke kameramennya. Karena semua sulit cari kerja sekarang, jadi sama-sama ngerti saja” kata Ngurah Indra.

Soal bantuan, grup Rare Kual mengaku hanya mendapat sekali saja bantuan sembako dari Pemprov Bali. Namun mereka ikut tergabung dalam 202 komunitas seni yang membuat karya seni virtual yang didanai sebesar Rp10 juta. Itu pun dana tersebut langsung dibagikan kepada kameramen, editor, dan beberapa orang yang terlibat dalam pembuatan karya virtual itu.

Sementara Gek Kinclong sebagai seniman pemula, belum pernah mendapatkan bantuan sama sekali. Tidak hanya Gek Kinclong, sebagian seniman tua dan senior pun tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Ia berharap pemerintah terus memerhatikan seniman yang sudah ikut mengharumkan seni budaya hingga bisa ajeg (Tegak atau lestari) sampai sekarang.

“Semoga pemerintah juga adil memerhatikan masyarakatnya. Jangan dilihat saya yang masih baru-baru menjadi seniman. Tapi seniman yang sudah jauh lebih senior dari saya supaya lebih diperhatikan. Setidaknya dikasih kayak asuransi khusus perawatan sebagai balasan selama hidupnya sudah menghibur banyak orang. Apalagi di situasi seperti ini,” kata Gek Kinclong.

Baca Juga: Berkarya di Tengah Pandemik, Seniman Pangandaran Lukis Dinding Skywalk

8. Seniman di Bandung buat pameran online untuk bantu yang terdampak. Beberapa daerah di Jabar seperti Pangandaran mulai mengizinkan pentas seni

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin Panggung Sendiri untuk HidupIDN Times / Nana Suryana

Sementara di Jawa Barat khusus di Pangandaran Para pelaku seni pertunjukan di Pangandaran sedikit bisa bernafas lega. Pemerintah Kabupaten Pangandaran sudah kembali memberikan izin pentas. Melalui Surat Edaran Bupati nomor 433/1924/200 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru, pada prosesi hajatan, pertunjukan seni sudah diperbolehkan.

"Alhamdulillah sekarang para seniman sudah diperbolehkan pentas siang dan malam dengan ketentuan menggunakan protokol kesehatan," tutur Aceng Hasyim, Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran kepada IDN Times, 31 Agustus 2020.

Di Pangandaran sendiri, ada 142 jenis sanggar seni diantaranya orkes melayu, jaipong, ronggeng amen, organ tunggal, kuda lumping, kentongan, musik band, qosidah, lingkung seni sunda, janeng sisingaan dan kacapi suling.

"Ada tujuh puluh sanggar seni dan dua ratus lima puluh enam grup dangdut yang memiliki izin resmi, mereka ikut terdampak pandemi corona ini," ujar Aceng.

Sampai saat ini belum ada bantuan khusus untuk para pelaku seni. Namun demikian, pengajuan bantuan sudah beberapa kali diusulkan. "Kita sudah ajukan permohonan bantuan karena pandemi Corona ini terasa sekali dampaknya, selama empat bulan kami tidak bisa pentas," tutur Koko Koharudin, pemilik Saung Angklung Mang Koko.

Namun demikian, dirinya mengapresiasi pemerintah Kabupaten Pangandaran yang sudah mengizinkan para pelaku seni untuk kembali pentas. "Warga yang hajatan sudah diperbolehkan dan kami sudah bisa pentas lagi," ujarnya.

Salah seorang seniman lukis Kota Bandung, sekaligus pengelola Griya Seni Popo Iskandar (GSPI) Anton Susanto mengatakan, beberapa seniman di Kota Bandung turut merasakan kesulitan dalam masa pandemik ini.

Anton menuturkan, proses kreatif para seniman di tengah pandemik virus corona terus berjalan. Adapun dalam situasi lingkungan kondisi seperti ini, juga mempengaruhi proses kreatif.

Menurutnya, awal PSBB itu suasana cukup mencekam dan kuat. Hampir semua seniman respon karya pandemik, bahkan ada beberapa seniman perorangan, komunitas bahkan dari pemerintah kementerian itu juga respon walau output bermacam-macam.

"Kemarin seniman bandung sempat buat pameran online dan semua hasil penjualan dialokasikan untuk beberapa seniman yang terdampak," ucapnya.

"Kalau sekarang kayak kemarin bantuan buat pekerja sudah ada, sudah mulai bergulir, sementara untuk beberapa bantuan seniman juga belum terjangkau, sehingga pameran dibuat untuk suport seniman terdampak," tuturnya.

Dengan kondisi tersebut, Anton berharap, pemerintah bisa membuat atau membangun sebuah sistem untuk membantu seniman. Bantuan tersebut menurutnya tidak harus seperti uang Rp600 ribu atau satu juta. Terpenting berikan seniman jalan untuk struggle. Satu sisi diplomatis jika harus ada sumbangan pada seniman.

"Karena yang terdampak tidak hanya seniman. Kita hanya bituh fasilitas dengan sistem yang terjadi saat ini," kata dia.

Baca Juga: Curhat Pekerja Seni Palembang: Bagai Hidup di Batu Karang

9. DKP Palembang gelar pertunjukkan terbatas bertajuk Artnormal untuk menjaga semangat pekerja seni di Palembang

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin Panggung Sendiri untuk HidupSeniman Palembang tampil dalam Artnormal (IDN Times/DKP)

Salah seorang seniman senior Palembang, Kamsul A. Harla, pencipta sekaligus penyanyi lagu 'Ya Saman' ini mengaku harus membuka link pergaulan dan menjalankan usaha lain agar dapat bertahap hidup. Sejak pandemik terjadi, pendapatannya kian menurun dari bidang kesenian.

"Jelas pasti terdampak seluruh lapisan masyarakat, apa lagi seniman yang bergantung pada karya, kondisi masyarakat luas dan kerumunan. Dengan kondisi seperti saat ini, seluruhnya jadi terbatas dan berdampak signifikan bagi pendapatan," ujar Kamsul A. Harla saat dihubungi IDN Times 8 September 2020.

"Sebelum pandemik sudah hidup di batu karang, apa lagi dengan keadaan sekarang makin lebih ke dalam," ujar dia.

Kamsul tidak membantah jika sudah ada beberapa bantuan sosial yang ia terima. Hanya saja, bantuan itu tidak menyelesaikan persoalan. Menurutnya, stimulus itu hanya bersifat sementara, sedangkan pandemik terus terjadi hingga saat ini. Bantuan sembako yang diterimanya berjangka satu kali untuk enam bulan.

"Sembako sempat, cuma tidak menyelesaikan masalah. Para seniman harus menghadapi kondisi ini berbulan-bulan," jelas dia.

Kamsul melihat, pemerintah hanya memberi janji mengenai kehidupan layak untuk para seniman. Sejak sebelum pandemik, janji itu sudah diobral oleh pemerintah. Banyak seniman sebelum pandemik memutar cara agar bertahan hidup, seperti berjualan untuk menyambung hidup dan menunjang kesenian.

"Saat ini pemerintah harus memikirkan bagaimana seniman bisa lebih baik, itu kan harapan dari puluhan tahun oleh para seniman," jelas dia.

Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), Iqbal Rudianto menuturkan, DKP yang membawahi enam jenis kesenian seperti Sastra, Tari, Teater, Musik, Film dan Seni Rupa, melakukan pertunjukkan terbatas bertajuk Artnormal. Tujuannya, menjaga semangat pekerja seni di Palembang.

"Artnormal kita lakukan selama tiga hari demi menyemangati pekerja seni. Kami berinisiatif untuk mengadakan webinar dan gelar karya, yang di dalamnya kita berdiskusi terkait menyikapi pandemik dan kenormalan baru. Alhamdulillah pekerja kreatif masih bekarya seperti biasa," jelas dia.

Dari data DKP, Iqbal mencatat ada 2.000 lebih pekerja seni di Kota Palembang. Selama ini, sudah ada upaya dari pemerintah pusat membantu pekerja seni agar bertahan hidup di situasi pandemik.

"Kalau total keseluruhan bantuan belum semua menjangkau pekerja seni, namun ada juga pekerja seni juga yang mampu, mereka masih bisa survive dan tidak mau menerima bantuan. Bantuan diberikan ke teman-teman yang mau dan membutuhkan," jelas dia.

Terhitung sudah lima kali penyaluran bantuan untuk pekerja seni. Pertama, DKP berhasil menyuarakan kondisi pekerja seni dengan inisiatif mencari donatur dan rekanan yang mau memberikan bantuan. Dalam penggalangan dana itu terkumpul 425 paket sembako dan sejumlah uang.

"Bantuan kedua dan ketiga, kita mendapat bantuan dari tokoh publik dan politikus. Kita menghargai niat tokoh ini membantu, meringankan kondisi pekerja seni," ungkapnya.

Cara lain yang dilakukan pekerja seni di Palembang untuk mendapat stimulus, mereka mengikuti kegiatan seni dari rumah yang diadakan pemerintah pusat. DKP mengirim empat video kesenian Palembang seperti Dul Muluk, Monolog, Musik Batang Hari Sembilan dan Wayang Palembang. Video tersebut diseleksi. Bagi yang berhasil terpilih bakal mendapat stimulus dari pusat sebesar Rp1 juta. Hal itu menurut Iqbal menjadi motivasi pekerja seni untuk berkarya di tengah pandemik.

"Empat komite yang kita kirimkan masuk 200 video yang diseleksi pemerintah. Para pelaku seni yang terpilih mendapat stimulus. Ini juga termasuk usaha yang kita lakukan untuk bertahan di tengah pandemik," tutup dia.

Baca Juga: Akibat COVID-19 Seniman Musik di Penajam Paser Utara Sepi Job

10. Anggaran untuk seniman terpotong, Dewan Kesenian Sumut berusaha cari sponsorship

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin Panggung Sendiri untuk HidupKetua Dewan Kesenian Sumatra Utara Baharuddin (IDN Times/Indah Permata Sari)

Ketua Dewan Kesenian Sumatera Utara, Baharuddin Saputra menjelaskan  untuk kerja sama pemerintah kepada seniman tak seperti sebelumnya. Hal ini dikarenakan anggaran telah terpotong untuk penanganan COVID-19.

“Jadi sangat prihatin sebetulnya misalnya untuk di Dewan Kesenian, saya tidak harus mengungkapkan kita kecewa atau apa tidak. Tapi kenyataannya memang seperti itu, bahwa kita kan ada 7 komite. Apa yang dikucurkan pada saat ini terkait dengan COVID-19 sangat jauh, sehingga apa yang bisa kita lakukan untuk triwulan 3 ini mungkin ya bahkan nanti triwulan 4 di tahun ini sepertinya sudah sama sekali gak ada. Akhirnya kita menunggu anggaran di 2021,” kata Baharuddin.

“Tapi begitu pun bukan berarti kita tidak memberikan semangat berkarya. Mungkin ada alternatif lain misalnya, bahwa anggaran itu kita ada komitmen lah anggaran itu tidak sepenuhnya APBD. Kita berusaha mencari bapak angkat (sponsorshipnya) yang bisa dukung. Kerjasama itu tetap, artinya bahwa pemerintah memberikan apresiasi kepada bidang-bidang seni,” tambahnya.

Menurutnya di manapun seniman akan tetap berusaha berkarya dalam kondisi terjepit sekalipun. Semangat menghasilkan karya itu harus diapresiasi.

“Tetap berkarya banyak yang lewat streaming, ada yang lewat rekaman di tayang ulang (tayang tunda dan lain sebagainya). Itu kan sebuah media sosial di facebook, ada yang di youtube. Pokoknya kita di Dewan Kesenian memberi apresiasi, tapi sejauh mana memberi apresiasi mungkin sebatas moril pada saat ini,” ucap di sekretariat Dewan Kesenian Sumatera Utara.

“Sekarang masih, melakukan diskusi (webinar). Tetap dilakukan dan itu yang kita bangga bahwa, latihan berdialog, berdiskusi melalui daring itu sangat digandrungi dan tetap jalan. Itu yang kita salutkan,” tambahnya.

Untuk saat ini, dirinya juga memanfaatkan kecanggihan teknologi digital yakni lakukan podcast yang baru dimulai berjalan satu bulan. “Ini udah jalan satu bulanlah, biar ada aktivitas ditengah pandemik COVID-19,” tuturnya.

Selain itu, hal yang sama juga dilakukan oleh seorang seniman teater di kota Medan, Agus Susilo yang saat ini akan membuat pentas Daring di Sungai Deli. “Masih lihat lokasi, rencana ada mau buat festivalan,” ucapnya.

Baca Juga: Ngadu ke Mahfud, Butet Kecewa Cara Menteri Jokowi Perlakukan Seniman

11. Butet Kartaredjasa kepada pemerintah sebut seniman butuh panggung untuk melanggengkan karyanya. Ketimbang model disumbang

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin Panggung Sendiri untuk HidupSeniman Butet Kartaredjasa. IDN Times/Tunggul Damarjati

Sebelumnya pemerintah coba memanggil sejumlah seniman datang ke Istana Negara untuk berdialog. Salah satunya Butet Kartaredjasa, untuk membicarakan soal nasib seniman.

Namun seniman asal Yogyakarta itu kecewa karena sejauh ini tidak ada solusi yang ditawarkan. Menurutnya seniman tidak berniat mengemis bantuan seperti bansos ataupun BLT. Namun bagaimana memberdayakan agar karya mereka dihargai.

"Saya agak kecewa, saya agak sedih ketika seorang menteri memaknai seniman hanyalah orang-orang populer yang wajahnya sering muncul di televisi. Saya bilang kepada dia, para perupa, orang-orang sastra itu orang-orang yang tidak mengharuskan dan diharuskan wajahnya dikenal publik melalui televisi. Padahal nama-nama dia nama-nama kelas internasional, dan hari ini tiarap semua," ujar Butet curhat di depan Mahfud MD yang sempat mengundang seniman dan budayawan di Yogyakarta, 29 Agustus 2020 lalu.

"Beliau menjelaskan kepada saya, saya (menteri) sudah menjelaskan 40 ribu data seniman yang akan segera mendapatkan BLT," ucap putra Bagong Kussudiarjo itu.

Namun, Butet kurang bisa menerima pernyataan tersebut. "Saya bilang (ke menteri). Bung, ini bukan masalah orang yang berprofesi seniman menerima bantuan sosial. Ini masalah sebuah profesi yang membutuhkan kebanggaan," kata ujarnya.

Butet mengatakan, seniman butuh panggung untuk melanggengkan karyanya. Ketimbang model disumbang, Butet menilai para seniman lebih berkenan manakala bantuan dikonsep menjadi sebuah penyelenggaraan pameran. Semisal, pameran daring di mana kemudian ada proses pembelian karya para seniman.

Kakak mendiang Djaduk Ferianto itu memutuskan wadul ke Mahfud pada akhirnya lantaran ia hanya memperoleh jawaban standar pada waktu itu. Persoalan berkutat pada birokrasi.

"Problem birokrasilah, ini ini ini. Ya terserah, saya bilang gitu. Yang penting saya sudah menyatakan. Saya memberi masukan kepada anda yang mumpung punya jabatan, punya kekuasaan, berpikirlah yang agak kreatif, saya agak marah waktu itu habis di istana," bebernya

12. Pemerintah jangan anak tirikan pekerja seni

Suara Seniman di Tengah Pandemik, Bikin Panggung Sendiri untuk HidupPekerja musik bertahan hidup ditengah pandemik COVID-19 dengan cara ngamen (IDN Times/ Indah Permata Sari)

Seniman Banten dari Kubah Budaya, Wahyu Arya menyayangkan belum adanya perhatian pemerintah, khususnya pemerintah daerah, terhadap pekerja-pekerja seni. Bahkan sudah hampir tujuh bulan pandemik COVID-19 berlangsung tidak ada solusi kongkrit yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

"Pemerintah dinilai abai bahkan menganaktirikan para pekerja seni. Jangankan untuk memberi bantuan, program recovery ekonomi di sektor industri kesenian pun tidak ada," katanya.

Jika pementasan digelar secara virtual, menurutnya, itu pun tidak terlalu efektif karena ongkos produksi tidak bisa tertutup. Di sisi lain, masyarakat khususnya di Banten masih belum terbiasa menyaksikan pamentasan secara virtual dengan penggunaan tiket.

Yang harus dilakukan pemerintah bukan soal memberi bantuan. Tapi bagaimana agar profesi seniman bisa lebih dihargai dan profesional dalam segi penghasilan.

“Seharusnya ada juga regulasi untuk menetapkan upah minimum para musik ini, misalnya hotel bintang lima upah minimum untuk para pemain musiknya sekian, pub sekian. Harusnya ada seperti itu,” kata musisi senior asal Medan, Adam.

“Ini kan miris kali, dari tahun 2000 masih Rp100 ribu sampai saat ini, bahkan ada yang di bawah lagi,” tambahnya.

Sementara seniman kontemporer, Ahmad Khairuddin berharap jajaran pemerintahan Presiden Joko "Jokowi" Widodo bisa memperhatikan nasib para seniman kala pandemik virus corona saat ini.

"Jokowi masih punya budget besar untuk COVID-19. Informasinya ada bantuan bentuknya project padat karya. Kita belum tahu skemanya. Di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sendiri yang jadi tumpuan (seniman) tapi sampai saat ini belum ada pogram-program. Kami berharap seniman juga ikut dipikirkan sebagai bentuk keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia," harapnya.

Tulisan ini merupakan kolaborasi dari sejumlah hyperlocal IDN Times, dengan penulis: Indah Permata Sari, Ervan Masbanjar, Riani Rahayu, Tunggul Damarjati, Rijalu Ahimsa, Febriana Sintasari, Sahrul Ramadhan, Diantari Putri, Khaerul Anwar, Nana Suryana, Azzis Zulkhairi, Rangga Erfijal, Zainul Arifin, Dhana Kencana, Anggun Puspitoningrum.

Baca Juga: Tak Signifikan Bantuan untuk Seniman Semarang saat Pandemik Menerjang

Topic:

  • Doni Hermawan

Berita Terkini Lainnya