Viral Harga Cabai Anjlok di Samosir? Ini Fakta yang Terjadi

- Harga cabai merah di Samosir anjlok hingga Rp8 ribu per kilogram akibat pasokan melimpah, membuat pedagang dan petani mengeluh keras.
- Pedagang menilai pemerintah hanya turun tangan saat harga naik, namun diam ketika harga cabai jatuh drastis.
- Para pedagang berharap pemerintah segera memberi solusi agar ekonomi petani dan pedagang cabai bisa kembali stabil.
Medan, IDN Times - Harga komoditas pangan di sejumlah pasar tradisional Kota Medan mengalami fluktuasi tajam, seperti harga cabai merah yang kini turun drastis karena pasokan melimpah. Sehingga, membuat para pedagang dan petani mengeluh.
Hal ini terlihat dari unggahan video yang sempat viral, saat pedagang mengeluh sambil memperlihatkan dagangan cabainya di Samosir.
Berikut IDN Times rangkum faktanya.
1. Pedagang Samosir sebut harga cabai kini sudah hancur lebur di Rp8 ribu/kg

Pedagang di Pasar Pangururan, Kabupaten Samosir jatuh anjlok mengatakan harga cabai saat ini sudah hancur lebur, jatuh hingga Rp8 ribu perkilogram.
"Ase Boto Hamuna (supaya kalian tahu), kabar-kabari dari Pasar Pangururan harga cabai Hamuna (kalian), mani manungkap (tengkurap), hancur-hancur lebur. Ase Boto Hamuna Rp8ribu," teriak salah satu pedagang.
Menurut para pedagang, jika harga cabai naik pemerintah turun tangan. Namun, disaat harga cabai turun pemerintah tidak memperdulikan para pedagang dan petani.
"Naik harga cabai turun tangan pemerintah, murah harga cabai angkat tangan pemerintah sambungnya.
Hal itu membuat ekonomi pedagang dan petani cabai hancur sehancur-hancurnya. Pedagang berharap agar pemerintah bisa memberikan solusi secepatnya untuk turun tangan dan jangan berpangku tangan.
2. Pemerintah bisa membuka akses penjualan cabai ke wilayah yang harganya lebih mahal

Sementara itu, Gunawan Benjamin menyoroti bahwa harga cabai merah di level petani masih terbilang cukup murah pada perdagangan hari ini.
"Di level pedagang pengecer harga cabai merah dijual dikisaran Rp15 hingga Rp20 ribu per Kg, yang berarti ada kemungkinan di level petani harganya dibawah Rp10 ribu atau berada di kisaran harga tersebut. Harga tersebut jauh dibawah harga pokok produksi petani yang berada dikisaran 15 ribuan per Kg," katanya pada IDN Times, Minggu (5/4/2026).
Harga ini menurutnya, belum ditambah lagi ongkos panen serta keuntungan yang semestinya di dapatkan oleh petani. Sehingga, realisasi harga di level konsumen setidaknya harus berada di Rp27 ribu per Kg, agar petani cabai bisa mendapatkan keuntungan. Dengan murahnya harga cabai merah saat ini, pemerintah bisa melakukan beberapa cara untuk mengerem kerugian petani.
"Pertama, membuka akses penjualan cabai ke wilayah yang harganya lebih mahal. Dalam konteks ini biasanya pedagang besar juga melakukan hal serupa. Pedagang besar umumnya mencari target penjualan baru di wilayah yang harga cabainya jauh lebih mahal. Dan sejauh ini saya juga kerap menemukan pedagang besar yang memasarkan cabai produksi petaninya ke wilayah Palembang hingga Jambi belakangan ini," jelasnya.
3. Pemerintah seharusnya juga memiliki mitigasi kebijakan untuk meredam potensi naik turun harga

Lanjutnya, pemerintah bisa melakukan pendekatan dengan memberikan pendampingan untuk mencari daerah yang harga cabainya lebih mahal. Tim pengendali inflasi daerah (TPID) bisa melakukan upaya pendekatan ke masing-masing daerah.
Bila perlu dilakukan subsidi untuk biaya logistik saat cabai didistribusikan. Kedua, ada program dari pemerintah yang mendorong agar petani bisa menghasilkan produk hilirnya.
"Seperti cabai kering atau menjadikan bahan baku cabai untuk kebututuhan industri seperti mie instan, kecap atau saos. Sehingga dukungan untuk pengadaan green house hingga mesin pengering cabai dibutuhkan disini. Ketiga, pemerintah bisa melakukan pendampingan agar cabai merah yang terbilang sangat murah tersebut tidak lantas membuat kemampuan bercocok tanam kembali petani melemah," sambung Gunawan.
Jadi ada kebijakan, yang diambil baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
Menurutnya, Pemerintah seharusnya juga memiliki mitigasi kebijakan untuk meredam potensi naik turun harga di masa mendatang.
"Dan salah satu yang diperkuat adalah ekspektasi penyediaan data produksi yang memetakan masing-masing produksi di wilayah serta potensi pembentukan harga kedepan," pungkasnya.


















