Ilustrasi makan bergizi gratis di sekolah. (IDN Times/Inin Nastain)
Berdasarkan data resmi Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sumatera Utara, jumlah siswa yang menjadi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) melonjak drastis secara tahunan.
Sepanjang tahun 2025, tercatat ada 107 siswa yang menjadi korban dari satu peristiwa keracunan. Namun, angka tersebut meroket lebih dari tujuh kali lipat pada 2026, dengan total 789 korban jiwa yang tersebar dalam delapan insiden keracunan berbeda.
Dari catatan tren bulanan, lonjakan korban tertinggi pada tahun 2026 terjadi pada bulan Agustus yang menelan hingga 406 korban. Puncak keracunan tertinggi kedua terjadi pada bulan Februari dengan 295 korban. Sementara itu, untuk periode April, September, dan Oktober 2026, jumlah korban relatif lebih sedikit, masing-masing menyentuh angka 24, 47, dan 17 korban.
Herdensi memaparkan, delapan insiden keracunan MBG pada 2026 tersebar di Kabupaten Karo, Pakpak Bharat, Mandailing Natal, Asahan, Deli Serdang, Humbang Hasundutan, Dairi, dan Kota Medan. Angka tersebut melonjak tajam bila dibandingkan dengan catatan tahun sebelumnya yang hanya menyentuh dua kejadian.
Berdasarkan data laboratorium dari berbagai kasus tersebut, mayoritas sampel makanan terbukti mengandung kontaminasi bakteri berbahaya. Di Dairi dan Toba, petugas menemukan bakteri Bacillus Cereus dan Staphylococcus Aureus pada lauk pauk. Kasus di Pakpak Bharat dan Mandailing Natal turut mencatatkan temuan bakteri E. Coli pada sampel buah melon dan semangka. Sementara di Kota Medan, keracunan diduga bermula usai siswa meminum susu kemasan yang kini telah ditarik oleh pihak sekolah untuk diuji lab.