Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Keluarga Korban MBG Karo: Gibran Janji Kompensasi, Hingga Kini Tak Ada

Kota Medan
4 min read
Keluarga Korban MBG Karo: Gibran Janji Kompensasi, Hingga Kini Tak Ada
256 Siswa di Karo Dirawat Diduga Keracunan MBG (Dok. KPPG Sumut)
  • Keluarga FP, siswi korban keracunan MBG di Karo, menyatakan janji kompensasi dari Wakil Presiden Gibran belum terealisasi meski rekening dan KTP telah diminta.

  • FP kembali dirawat setelah pulang dari RSCM; dalam 10 hari ia mengalami tiga kali kejang, muntah cairan kuning, lemas, gangguan ingatan, dan belum bisa sekolah.

  • Keluarga mengaku BGN tidak lagi menangani kasus tersebut, sementara keterbatasan biaya menghambat rujukan ke Medan; mereka meminta bantuan serta pemeriksaan kesehatan hingga FP pulih.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Janji kompensasi dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk keluarga korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, hingga kini belum terealisasi. Keluarga korban pun mengaku kecewa dan masih harus berjuang menanggung biaya perawatan anak yang belum pulih total.

Korban berinisial FP, siswi yang mengalami keracunan MBG, disebut masih mengalami muntah-muntah dan kejang-kejang setelah pulang dari perawatan di RSCM Jakarta. Kondisinya bahkan memburuk hingga harus kembali dirawat.

"Anak saya muntah-muntah, masuk rumah sakit lagi karena kejang-kejang. Terus kami telepon orang BGN, mereka lepas tangan, sudah tidak mau tahu lagi katanya," ujar ayah korban, Icuk Sugiarto Purba, Selasa (7/10/2026).

  1. 1. Keluarga khawatir dengan jawaban BGN tidak mau tahu lagi

    IMG_20260813_193114.jpg
    256 Siswa di Karo Dirawat Diduga Keracunan MBG (Dok. KPPG Sumut)

    Icuk menuturkan, istrinya sampai menangis dan khawatir setelah mendapat jawaban dari pihak Badan Gizi Nasional (BGN).

    "Kalau anak saya dijamin sampai sehat tidak apa-apa. Ini mamaknya sudah nangis tadi. Saya tanya kenapa nangis, katanya ditelepon orang BGN, mereka sudah tidak mau tahu lagi," katanya.

  2. 2. Sepuluh hari pulang dari RSCM, sakit kembali dengan muntah dan kejang

    IMG_20260907_140035.jpg
    FY salah satu korban keracunan MBG saat menjalani pemeriksaan kesehatan di RS Adam Malik (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Menurut Icuk, selama 10 hari sejak pulang dari RSCM, FP sudah mengalami kejang sebanyak tiga kali dan muntah cairan berwarna kuning hampir setiap dua hari sekali.

    "Sekarang dirawat di Rumah Sakit Amanda. Setelah dari RSCM, 10 hari ini dia sudah 3 kali kejang. Muntahnya aneh, bukan apa yang ditelan, tapi cairan saja terus. Jadi makin lemas kondisinya," ungkapnya.

    Ia mengaku sudah mencoba menghubungi dokter, namun disarankan untuk membawa korban kembali ke Medan. Namun, keterbatasan biaya menjadi kendala.

    "Katanya bawa ke Medan. Bawa ke Medan uangnya dari mana? Kami juga tidak ada uang, kerja tidak, habis mendampingi anak saya terus," tuturnya.

    Akibat kondisinya yang belum stabil, FP juga belum bisa bersekolah. "Pernah sekali sekolah, tapi kejang lagi di sekolah, jadi dibawa pulang," kata Icuk.

    Lebih mengkhawatirkan, FP mengalami gangguan ingatan. Ingatannya hilang-timbul seperti ponsel yang di-restart ulang.

    "Seperti HP yang di-restart. Kalau saat ini dia lihat, dia kenal. Tapi orang yang dulu dia kenal, sekarang tidak kenal lagi. Lihat orang ramai dan dengar suara ramai juga tidak bisa, langsung kejang," jelasnya. Bahkan, adik dari ibu korban yang pernah tinggal serumah dengannya sejak kecil pun sudah tidak dikenali.

    "Saya khawatir takut cacat saraf berkepanjangan," ujarnya.

  3. 3. Janji rekening dan KTP, hingga kini tak ada kabar

    IMG_20260813_193054.jpg
    256 Siswa di Karo Dirawat Diduga Keracunan MBG (Dok. KPPG Sumut)

    Fokus utama yang disorot keluarga adalah janji kompensasi yang belum ditepati. Icuk menyebut, saat masih di Jakarta, juru bicara Gibran secara langsung meminta nomor rekening dan KTP untuk penyaluran bantuan.

    "Juru bicara Gibran sendiri mengatakan, mana nomor rekening dan KTP-nya, Bu, nanti dikasih. Tapi sampai saat ini kami tidak terima apa-apa. Heran kami," tegasnya.

    Bahkan, selama lima hari setelah kepulangan mereka, keluarga terus mencoba menghubungi pihak tersebut.

    "Sampai selang 5 hari diteleponin mama FP juga. Pak, gimana ya, jadi tidak dikirim kompensasinya karena kami butuh, Pak. Soalnya bapak si FP tidak kerja-kerja. Tidak ada dibalas sampai sekarang," ujarnya.

    Padahal, kata Icuk, Gibran sendiri sempat menenangkan mereka secara langsung. "Pak Gibran sendiri menyatakan, kamu tenang saja, nanti saya kasih kompensasi, nanti diurus. Nanti minta nomor rekeningnya. Jadi ditelepon mama FP, diminta nomor rekening dan KTP melalui jubir, tapi sampai saat ini tidak terima apa-apa. Malah anak saya balik masuk rumah sakit lagi, pihak BGN sudah tidak tanggung jawab," keluhnya.

    Icuk berharap janji tersebut ditepati dan pemerintah tidak lepas tangan. Ia juga meminta Dinas Kesehatan untuk mengkaji ulang kondisi kesehatan anaknya hingga benar-benar dinyatakan pulih total.

    Sebelumnya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat mengunjungi korban keracunan MBG di Karo pada 11 September 2026 menyampaikan permintaan maaf atas persoalan yang dialami masyarakat karena keracunan MBG ini. Saat itu Ia memastikan pemerintah akan mengupayakan agar anak-anak yang terdampak dapat kembali sehat dan bersekolah.

    ““Atas nama pemerintah saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami pastikan anak-anak bisa sehat dan bersekolah kembali,” ujar Gibran.

    Selain itu, Gibran ingin memastikan kondisi korban keracunan MBG mendapat perhatian dan penanganan yang diperlukan. Ia juga membuka opsi rujukan bagi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan yang memiliki dukungan medis sesuai dengan kondisi pasien.

    Gibran turut membawa dokter pribadinya untuk memeriksa kondisi pasien, sekaligus berkoordinasi dengan pihak rumah sakit. Koordinasi dilakukan untuk memastikan apabila ada anak yang memerlukan penanganan lebih lanjut, langkah rujukan dapat segera dilakukan sesuai kebutuhan medis.

    “Ini saya kesini membawa dokter pribadi saya. Saya minta dokter saya tinggal di sini dulu, untuk mengkoordinasikan sekiranya ada anak-anak yang butuh penanganan lebih intens di Jakarta,” ujar Gibran.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More