Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Kucing Emas di Hutan Sumut Terancam Hilang Tanpa Kita Sadari?
kucing emas sumatera (commons.wikimedia.org/Karen Stout)
  • Hutan Sumatra menjadi rumah bagi enam spesies kucing liar, termasuk Kucing Emas Asia yang sering luput dari perhatian.

  • Kucing Emas Asia masih bertahan di tiga lanskap hutan Sumatra Utara dan berperan mengendalikan populasi hewan pengerat serta reptil.

  • Penyusutan hutan, jerat kawat, konflik, mitos, dan perdagangan ilegal mengancam keberadaan kucing emas meski perlindungan hukum berlaku.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Juni 2020

Seekor kucing emas dievakuasi BBKSDA Sumut setelah terjebak masuk ke Desa Pagaran Gala-Gala, Mandailing Natal.

Januari 2021

Seekor kucing emas jantan ditemukan lemas di ladang warga di kaki Gunung Sinabung, Karo.

kini

Anak muda Sumut disebut perlu ikut menolak eksploitasi satwa di linimasa demi menjaga kucing emas dari ancaman kepunahan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kucing Emas Asia terancam kehilangan habitat, terkena jerat, berkonflik dengan warga, dan diburu untuk perdagangan ilegal.
  • Who?
    Kucing Emas Asia (Catopuma temminckii), BBKSDA Sumut, warga, serta pelaku pemburu dan pedagang satwa dilindungi.
  • Where?
    Tiga lanskap hutan Sumatra Utara, termasuk Kawasan Ekosistem Leuser, Ekosistem Hutan Batang Toru, dan Taman Nasional Batang Gadis.
  • When?
    Pada Juni 2020 terjadi evakuasi di Mandailing Natal, sedangkan kasus lain terjadi di Karo pada Januari 2021.
  • Why?
    Penyusutan hutan akibat jalan dan kebun monokultur, jerat untuk babi hutan, konflik, mitos, serta perdagangan ilegal mengancam kucing emas.
  • How?
    Kucing emas terdesak mendekati permukiman, terkena jerat kawat sling baja, dan diburu untuk kulit, taring, serta tulangnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kucing Emas Asia tinggal di hutan Sumatra bersama lima kucing liar lain. Hewan ini membantu menjaga jumlah tikus dan reptil. Sekarang rumahnya menyusut, lalu ia bisa bertemu warga dan terkena jerat. Kucing ini juga diburu. Di Sumatra Utara, beberapa tempat masih menjadi rumahnya dan ada aturan untuk melindunginya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kucing Emas Asia masih terpantau bertahan di tiga benteng hutan Sumatra Utara. Perannya sebagai pemangsa menengah membantu mengendalikan hewan pengerat dan reptil, sementara status perlindungan penuh serta ancaman hukum menunjukkan adanya dasar untuk menjaga keberadaannya di habitat yang tersisa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times – Sebutkan satu nama kucing liar asli hutan Sumatra. Hampir pasti, jawaban yang muncul di kepala mayoritas anak muda adalah Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae).

Padahal, merujuk laporan Revised Taxonomy of the Felidae oleh IUCN/SSC Cat Specialist Group (Kitchener et al., 2017), hutan hujan pulau ini merupakan rumah bagi enam spesies kucing liar sekaligus. Mulai dari Harimau Sumatra, Macan Dahan Sunda, Kucing Emas Asia, Kucing Batu, Kucing Congkok, hingga Kucing Kepala Datar.

Sayangnya, lima nama terakhir hidup dalam bayang-bayang. Tanpa panggung, tanpa sorotan. Salah satunya adalah Kucing Emas Asia (Catopuma temminckii), pemburu darat paling tangguh urutan kedua setelah harimau.

Masyarakat lokal kerap memberinya julukan "Harimau Kijang" atau "Kucing Tulap". Namun hari ini, sang pangeran rimba sedang terdesak di rumahnya sendiri. Mengapa satwa eksotis ini terancam hilang tanpa kita sadari?

1. Punya penanda wajah paten di balik rupa warna-warni

kucing emas sumatera (commons.wikimedia.org/Donkey shot )

Nama Kucing Emas sebenarnya sedikit menipu. Studi pemantauan kamera jebak (camera trap) oleh Haidir et al. (2018) dan Pusparini et al. (2014) membuktikan spesies ini memiliki variasi warna bulu (polymorphism) paling beragam. Warnanya bisa merah bata, abu-abu keperakan, hitam legam, hingga bercorak tutul. Sangat adaptif, persis bunglon hutan hujan.

Meski tubuhnya bisa berbeda warna, buku panduan A Field Guide to the Mammals of South-East Asia (Francis, 2008) mencatat dua penanda identifikasi fisik yang selalu sama.

Pertama, sepasang garis putih bertepi hitam yang melengkung dari sudut mata ke arah dahi dan pipi. Kedua, bagian bawah ujung ekornya selalu berwarna putih menyala dan diangkat menyerupai antena saat berjalan di lantai hutan.

2. Berada di tiga lanskap hutan terakhir Sumatra Utara

kucing emas sumatera (commons.wikimedia.org/Babirusa)

Data IUCN Red List (McCarthy et al., 2015) menunjukkan satwa yang ukuran tubuhnya mencapai dua hingga tiga kali lipat kucing rumahan ini punya daya jelajah luar biasa. Mereka bisa hidup di dataran rendah hingga kawasan pegunungan setinggi di atas 3.000 mdpl.

Di Sumatra Utara, populasi kucing emas terpantau masih bertahan di tiga benteng hutan terakhir. Meliputi Kawasan Ekosistem Leuser (Taman Nasional Gunung Leuser) di Langkat dan Karo, Ekosistem Hutan Batang Toru di wilayah Tapanuli, serta Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) di Mandailing Natal.

Kucing emas bersifat cathemeral—aktif memburu mangsa secara fleksibel mulai dari waktu fajar, siang, hingga senja hari di lantai hutan.

3. Pemangsa tangguh yang kesulitan berkembang biak

kucing emas sumatera (commons.wikimedia.org/James Eaton)

Sebagai mesopredator atau pemangsa menengah, kucing emas memegang kendali rantai makanan. Jika harimau memangsa babi hutan dan rusa, maka kucing emas mengontrol populasi hewan pengerat dan reptil di lantai hutan agar tak meledak menjadi hama pertanian.

Sayangnya, peran vital ini berbenturan dengan reproduksi mereka yang lambat. Induk kucing emas hamil selama nyaris tiga bulan dan hanya melahirkan 1 hingga 2 ekor anak saja. Anak tersebut butuh waktu dua tahun untuk matang secara seksual. Sekali induknya dibunuh, laju populasi di satu petak hutan akan terputus total.

4. Menjadi korban jerat kawat dan konflik dengan warga

kucing emas sumatera (commons.wikimedia.org/Marie Hale)

Ancaman terbesar kucing emas di Sumut berasal dari menyusutnya hutan akibat jalan dan kebun monokultur. Kondisi ini mendesak mereka mendekati permukiman dan memicu konflik.

Pada Juni 2020, seekor kucing emas harus dievakuasi BBKSDA Sumut setelah terjebak masuk ke Desa Pagaran Gala-Gala, Mandailing Natal. Kasus serupa terjadi di kaki Gunung Sinabung, Karo pada Januari 2021 saat seekor kucing emas jantan ditemukan lemas di ladang warga.

Tak hanya itu, sebagai satwa terrestrial yang berjalan di tanah, kucing emas sangat rentan kehilangan kakinya akibat tak sengaja menginjak jebakan kawat sling baja (wire snare) yang ditebar warga untuk menangkap babi hutan di batas desa.

5. Diburu akibat mitos usang dan ancaman penjara 15 tahun

Kucing emas Asia mampu memangsa hewan yang berukuran lebih besar darinya. (commons.wikimedia.org/Babirusa)

Selain dibunuh akibat konflik, kucing emas berdarah di pasar gelap. Mitos usang di Sumatra meyakini bahwa menyimpan bulu 'Harimau Kijang' bisa membawa keberuntungan. Akibatnya, kulit, taring, dan tulang mereka kerap diburu sebagai barang substitusi Harimau Sumatra.

Di era kekinian, sindikat pasar gelap menjajakan satwa dilindungi ini di grup Facebook dan WhatsApp dengan harga puluhan juta rupiah.

Padahal, kucing emas terdaftar sebagai satwa dilindungi penuh berdasar Permen LHK No P.106/2018. Payung hukum teranyar, UU Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi SDA, bahkan mengganjar pelaku pemburu dan pedagang satwa dilindungi ini dengan ancaman pidana super berat: penjara minimal 3 tahun hingga 15 tahun dan denda mencapai Rp5 miliar.

Hukum telah ditegakkan, kini saatnya anak muda Sumut ikut menolak eksploitasi satwa di linimasa demi menjaga sang pangeran rimba dari ancaman kepunahan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article