Profil 2 Sultan Deli yang Naik Tahta saat Usia Masih 8 Tahun

- Sultan Ma’mun Al Rasyid naik takhta usia 8 tahun setelah ayahnya wafat karena kolera, dibimbing Dewan Perwalian hingga dewasa, lalu memimpin Deli selama 51 tahun penuh pembangunan.
- Sultan Mahmud Arya Lamanjiji juga dinobatkan usia 8 tahun menggantikan ayahnya, dengan Pemangku Kesultanan menjalankan tugas hingga ia dewasa dan aktif menjaga adat Melayu Deli.
- Kedua sultan muda ini menunjukkan kuatnya tradisi turun-temurun Kesultanan Deli, di mana pendidikan dan pembinaan istana memastikan kesinambungan takhta serta pelestarian budaya lintas generasi.
Medan, IDN Times - Dalam sejarah Kesultanan Deli, ada dua sultan yang naik takhta saat umur mereka baru menginjak 8 tahun. Keduanya sama-sama dinobatkan karena jadi pewaris sah ketika ayahnya wafat.
Berikut profil lengkap dari Tanah Deli, dengan kedua Sultan Deli beserta pendidikan dan alasannya memimpin di usia belia.
1. Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah – Sultan Deli ke-9

Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah lahir pada 5 September 1864 di Istana Kota Batu, Labuhan Deli. Ayahnya adalah Sultan Mahmud Perkasa Alamsyah, Sultan Deli ke-8. Ibunya bernama Tengku Raja Dewi yang merupakan putri Sultan Mahmud Syah dari Kesultanan Siak.
Sultan Ma’mun wafat pada 10 September 1924 di Batavia dan dimakamkan di pelataran Masjid Raya Al-Mashun Medan. Karena itu beliau bergelar anumerta Marhum Mangkat di Batavia.
Sultan Ma’mun dinobatkan pada 6 Agustus 1873 dalam usia 8 tahun 9 bulan. Penyebabnya karena ayahnya wafat mendadak akibat wabah kolera. Kesultanan Deli menganut sistem monarki turun-temurun. Takhta tidak boleh kosong dan harus langsung diisi putra mahkota yang sah. Maka walau masih bocah, Sultan Ma’mun langsung ditabalkan jadi sultan.
Namun, dikarenakan belum akil baligh, dia belum memerintah sendiri. Dari tahun 1873 sampai 1886, pemerintahan Kesultanan Deli dijalankan oleh Dewan Perwalian.
Ketua dewannya adalah pamannya, Tengku Soelaiman. Anggotanya ada Tengku Raja Muda Osman dan Raja Mahkota Tengku Mahdar. Pemerintah Hindia Belanda ikut mengawasi lewat Residen Sumatra Timur. Sultan Ma’mun baru pegang kuasa penuh setelah dinobatkan ulang pada 13 Mei 1886 saat usianya 21 tahun. Jadi masa takhtanya tercatat 6 Agustus 1873 sampai 10 September 1924, total 51 tahun.
Karena disiapkan jadi sultan, pendidikan Sultan Ma’mun diatur ketat oleh keluarga istana dan Belanda. Pendidikan awalnya tahun 1870 sampai 1878 berlangsung di Istana Kota Batu. Di sana ia belajar mengaji Al-Qur’an, fikih mazhab Syafi’i, dan bahasa Arab dari ulama Deli dan Siak. Urusan adat istiadat dan tata cara pemerintahan diajarkan langsung oleh pamannya Tengku Soelaiman. Karena Kesultanan Deli banyak kontrak tembakau dengan perusahaan Eropa, ia juga sudah diajar dasar bahasa Belanda dan huruf Latin oleh guru yang ditunjuk Residen.
Setelah cukup umur, tahun 1878 Dewan Perwalian mengirimnya ke Batavia untuk sekolah modern. Pertama ia masuk Europesche Lagere School atau ELS, yaitu sekolah dasar untuk anak bangsawan dan Eropa. Pelajarannya meliputi bahasa Belanda, bahasa Melayu, ilmu bumi, berhitung, dan menulis halus. Lulus dari ELS, ia lanjut ke Gymnasium Koning Willem III yang juga disebut HBS. Itu setara SMA sekarang. Di HBS ia ambil jurusan bestuur atau pemerintahan. Teman sekelasnya anak bangsawan Jawa dan anak pegawai Belanda.
Selain sekolah formal, Sultan Ma’mun juga ikut kursus privat tentang hukum Hindia Belanda, ekonomi perkebunan, dan tata negara Eropa. Ilmu ini penting karena Deli saat itu jadi pusat tembakau dunia.
Sebelum pulang, tahun 1884 sampai 1886 ia magang di Kantor Residen Sumatra Timur. Ia juga belajar langsung ke Sultan Siak soal cara mengelola kerajaan modern. Tahun 1886 ia pulang ke Deli dan langsung dinobatkan sebagai sultan yang berkuasa penuh. Bekal pendidikan inilah yang bikin ia bisa memindahkan ibu kota ke Medan tahun 1888, membangun Istana Maimun 1888 sampai 1891, mendirikan Masjid Raya Al-Mashun 1906 sampai 1909, dan menata sistem sewa tanah yang bikin Deli kaya raya.
2. Sultan Mahmud Arya Lamanjiji Perkasa Alamsyah – Sultan Deli ke-14

Sultan Mahmud Arya Lamanjiji Perkasa Alamsyah biasa dipanggil Tuanku Aji. Ia lahir pada 29 Agustus 1998 di Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara. Ayahnya adalah Sultan Otteman III Mahmud Ma’amun Padrap Perkasa Alamsyah, Sultan Deli ke-13. Ibunya bernama Puang Hajjah Siska Mara Bintang yang bergelar Raja Ampuan Indra. Sampai tahun 2026 ini, Tuanku Aji masih menjabat sebagai Sultan Deli ke-14.
Tuanku Aji ditabalkan menjadi Sultan Deli pada 23 Juli 2005 saat usianya baru 8 tahun. Penyebabnya karena ayahnya, Sultan Otteman III, wafat. Sesuai adat Kesultanan Deli, takhta harus langsung diisi oleh putra mahkota agar silsilah dan marwah kerajaan tidak putus. Karena itu walau Tuanku Aji masih duduk di bangku SD kelas 2, ia tetap dinobatkan sebagai sultan yang sah.
Sama seperti Sultan Ma’mun dulu, Tuanku Aji juga belum bisa menjalankan tugas kesultanan sehari-hari karena masih di bawah umur. Maka diangkatlah Pemangku Kesultanan Deli, yaitu Tengku Hamdy Osman Deli Khan Alhaj yang bergelar Tengku Raja Muda Deli. Tugas-tugas administratif, acara adat, dan urusan kesultanan dijalankan oleh pemangku. Namun secara adat dan simbol, Tuanku Aji tetap Sultan Deli ke-14. Sejak remaja, beliau sudah mulai hadir dalam pertemuan seremonial dengan pejabat negara, acara penyambutan Presiden di Istana Maimun, dan kegiatan budaya Melayu Deli. Karena sejak tahun 1946 kesultanan tidak lagi punya kekuasaan politik, peran sultan sekarang lebih ke penjaga adat, budaya, dan simbol masyarakat Melayu Deli.
Saat dinobatkan tahun 2005, Tuanku Aji masih bersekolah di SD di kawasan Medan Deli. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan dasar dan menengah di Medan. Pendidikan yang ia tempuh mengikuti kurikulum nasional Indonesia.
Selain sekolah formal, sebagai sultan ia juga mendapat pendidikan adat dan agama di lingkungan istana. Ia belajar tentang sejarah Kesultanan Deli, silsilah raja-raja, tata cara adat Melayu, dan nilai-nilai keislaman dari para tengku, datuk, dan ulama kesultanan. Ia juga mulai dibimbing untuk memahami peran sultan di era modern, yaitu sebagai pemangku adat dan pelindung budaya.
Informasi detail soal perguruan tinggi yang ia tempuh tidak dipublikasikan luas oleh pihak kesultanan. Namun sebagai Sultan Deli ke-14, ia terus mendapat pembinaan dari keluarga kerajaan dan tokoh adat agar siap menjalankan fungsi seremonial dan kultural kesultanan. Sejak dewasa, Tuanku Aji sudah aktif memimpin acara adat di Istana Maimun, menghadiri penabalan gelar, dan menjaga hubungan dengan keraton-keraton lain di Nusantara.
3. Sultan Ma’mun Al Rasyid dan Sultan Mahmud Lamanjiji sama-sama dinobatkan umur 8 tahun karena ayah mereka wafat
Sultan Ma’mun Al Rasyid dan Sultan Mahmud Lamanjiji sama-sama dinobatkan umur 8 tahun karena ayah mereka wafat dan mereka adalah pewaris sah. Keduanya tidak langsung memerintah sendiri. Sultan Ma’mun dibantu Dewan Perwalian sampai umur 21 tahun.
Sultan Mahmud Lamanjiji dibantu Pemangku Kesultanan sampai dewasa. Pendidikan Sultan Ma’mun campuran istana dan sekolah Belanda ELS serta HBS Batavia yang bikin ia jadi sultan pembangun.
Pendidikan Sultan Mahmud Lamanjiji mengikuti kurikulum nasional ditambah pendidikan adat di istana untuk jadi sultan penjaga budaya. Keduanya jadi bukti bahwa adat Kesultanan Deli sangat kuat menjaga keberlanjutan takhta lintas zaman.

















