Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pengamat: Kenaikan Harga Tiket Pesawat Bisa Picu Efek Berantai
ilustrasi pesawat terbang (unsplash.com/Claudio Schwarz)

Medan, IDN Times - Kenaikan harga tiket pesawat belakangan ini terasa makin “tidak ramah” di kantong. Untuk rute domestik seperti Jakarta–Medan saja, harga sudah menyentuh kisaran Rp2,5 juta sekali jalan. Angka yang, masih terasa tidak masuk akal untuk kelas ekonomi.

Di balik lonjakan ini, ada faktor global yang sulit dihindari. Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel mendorong harga minyak mentah dunia sempat bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Efeknya langsung terasa ke avtur—yang melonjak hingga sekitar 70 persen.

Menariknya, pemerintah tidak serta-merta membiarkan harga tiket ikut melonjak bebas. Kenaikan dibatasi hanya sekitar 13 persen, dengan kompensasi berupa insentif lain. Mulai dari keringanan pajak, dukungan suku cadang, hingga penyesuaian biaya tambahan.

Namun di titik ini, pertanyaannya bergeser. Bukan lagi soal mahal atau tidak. Tapi: siapa yang sebenarnya paling terdampak? Berikut analisis dari pengamat ekonomi Gunawan Benjamin.

1. Dampak ke inflasi kecil, tapi efek berantainya besar

Ilustrasi pesawat Qatar Airways (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Kalau dilihat sekilas, kenaikan harga tiket pesawat memang berkontribusi pada inflasi. Namun angkanya relatif kecil. Perhitungan menunjukkan dampaknya tidak lebih dari 0,27 persen.

“Artinya, secara makro, ini bukan ancaman utama bagi stabilitas harga nasional. Tapi berhenti di situ saja justru menyesatkan. Karena dampak sebenarnya bukan di angka inflasi, melainkan pada efek berantai ke berbagai sektor ekonomi,” kata Benjamin dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4/2026).

2. Sektor turunan justru paling terpukul

ilustrasi pesawat terbang (pexels.com/Borja Lopez)

Ketika harga tiket naik, yang pertama berubah adalah perilaku masyarakat. Orang mulai menunda perjalanan, mengurangi frekuensi terbang, atau bahkan membatalkan rencana.

Di sinilah tekanan mulai terasa di sektor lain. Pariwisata kehilangan pengunjung. Hotel mengalami penurunan okupansi. Transportasi lokal, pergudangan, hingga bisnis kuliner ikut terdampak.

“Efeknya tidak langsung, tapi meluas dan perlahan menggerus aktivitas ekonomi di banyak daerah,” ungkapnya.

3. Kenaikan global bikin daya saing “tetap”, tapi pasar bisa menyusut

ilustrasi pesawat mengudara (pexels.com/Rizky Bramantyo)

Menariknya, kenaikan harga tiket ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara global, biaya penerbangan juga naik. Ini berarti daya saing antara maskapai domestik dan internasional relatif tidak berubah.

Namun ada konsekuensi lain. Karena kenaikan terjadi serentak, pasar justru berpotensi menyusut. “Jumlah penumpang bisa turun secara merata di hampir semua maskapai, bukan karena kalah bersaing, tapi karena permintaan yang melemah,” pungkasnya.

Editorial Team