Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pelecehan Seksual, Camat: Anak Biasa Main ke Rumah Guru Tunggu Jemputan
Ilustrasi Menolak Pelecehan Seksual (Pexel/olia danilevich)
  • Kericuhan terjadi di Teluk Nibung setelah warga marah atas dugaan pelecehan seksual terhadap anak SD oleh sepasang suami istri.
  • Korban, siswa kelas V SD, sering menunggu jemputan di rumah guru yang diduga terlibat bersama suaminya.
  • Polres Tanjungbalai masih menyelidiki kasus ini, sementara camat mengimbau warga tetap tenang dan tidak bertindak anarkis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
22 Juli 2026

Kericuhan terjadi di Lingkungan 5, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung pada sore hari. Warga marah atas dugaan pelecehan seksual oleh sepasang suami istri terhadap anak di bawah umur.

23 Juli 2026

Camat Teluk Nibung, Darwansyah Merta Wijaya, membenarkan adanya kericuhan dan menjelaskan kronologi kejadian kepada media. Ia menyebut puncak amukan warga terjadi pada Rabu sore sebelumnya.

kini

Polres Tanjungbalai masih menyelidiki dugaan pelecehan tersebut dan memeriksa kedua terduga pelaku. Masyarakat diminta tetap tenang dan menunggu hasil penyidikan resmi dari kepolisian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kericuhan terjadi di Lingkungan 5, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung, akibat dugaan pelecehan seksual terhadap seorang anak di bawah umur oleh sepasang suami istri.
  • Who?
    Terduga pelaku adalah pasangan suami istri, sang istri berprofesi sebagai guru SD dan suaminya wiraswasta. Korban merupakan siswa kelas V SD yang tinggal di Asahan Mati, Tanjungbalai.
  • Where?
    Peristiwa berlangsung di rumah terduga pelaku yang berada di Lingkungan 5, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai.
  • When?
    Puncak kericuhan terjadi pada Rabu sore, 22 Juli 2026. Keterangan resmi disampaikan Camat Teluk Nibung pada Kamis, 23 Juli 2026.
  • Why?
    Kemarahan warga dipicu oleh dugaan pelecehan terhadap anak yang sering menunggu jemputan di rumah guru tersebut. Dugaan ini memicu massa mendatangi lokasi dan menyebabkan kericuhan.
  • How?
    Warga berbondong-bondong mendatangi rumah terduga pelaku hingga situasi ricuh. Polisi mengevakuasi pasangan itu ke Mapolres Tanjungbalai dan kini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ada anak SD yang suka tunggu dijemput di rumah gurunya. Tapi lalu ada kabar jelek tentang guru itu dan suaminya, katanya mereka mungkin berbuat tidak baik pada anak itu. Warga jadi marah dan datang ramai-ramai ke rumah mereka. Polisi cepat datang dan bawa pasangan itu pergi. Sekarang polisi masih cari tahu apa yang benar, dan orang-orang diminta tenang dulu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meski situasi di Teluk Nibung sempat memanas, langkah cepat aparat dan imbauan Camat Darwansyah untuk menahan diri menunjukkan upaya serius menjaga ketertiban. Polisi yang segera mengevakuasi terduga pelaku serta melakukan penyelidikan resmi mencerminkan komitmen penegak hukum dalam memastikan proses berjalan adil dan mencegah kekerasan lebih lanjut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Camat Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai, Darwansyah Merta Wijaya, membenarkan adanya kericuhan yang terjadi di Lingkungan 5, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung, Rabu (22/7/2026) sore.

Kericuhan itu dipicu kemarahan warga atas dugaan pelecehan seksual yang dilakukan sepasang suami istri terhadap seorang anak di bawah umur.

"Pelaku masih diduga, tapi kejadian yang rusuh itu benar. Kronologinya diawali dengan dugaan tadi, kemudian masyarakat heboh. Tepatnya Rabu sore masyarakat ramai ke rumah terduga pelaku. Kemudian terjadilah kericuhan," kata Darwansyah pada IDN Times, pada Kamis (23/7/2026).

Menurut Darwansyah, korban dalam kasus ini merupakan seorang anak yang masih duduk di kelas V SD dan akan naik ke kelas VI.

Anak tersebut berdomisili di Asahan Mati, Tanjungbalai. Namun, ia bersekolah di SD yang berada di Kecamatan Teluk Nibung.

"Menurut keterangan, anak itu memang sudah terbiasa menunggu di rumah si guru sebelum dijemput keluarganya," ujarnya.

1. Peristiwa yang diduga menjadi pemicu amukan warga

ilustrasi korban pelecehan seksual (pixabay.com/Mohamed Hassan)

Dia menjelaskan, peristiwa yang diduga menjadi pemicu amukan warga terjadi sebelum kericuhan. Puncaknya terjadi pada Rabu sore ketika warga berbondong-bondong mendatangi rumah terduga pelaku.

"Jadi ini efek dari kemarin dan Rabu puncaknya amukan warga. Bukan waktu semalam juga kejadiannya, waktu anak itu di rumah," jelasnya.

2. Korban sudah terbiasa datang ke rumah terduga pelaku untuk menunggu jemputan

Ilustrasi ketraumaan perempuan korban pelecehan seksual (Sumber: hukumonline.com)

Terduga pelaku adalah sepasang suami istri. Sang istri berprofesi sebagai guru SD, sementara sang suami berprofesi sebagai wiraswasta.

Guru di sekolah tempat korban menuntut ilmu juga membenarkan bahwa, korban sudah terbiasa datang ke rumah terduga pelaku untuk menunggu jemputan.

3. Kini polisi masih selidiki kasus tersebut dan warga diminta untuk tenang

ilustrasi pelecehan, kekerasan (IDN Times/Sukma Shakti)

Hingga saat ini, dugaan pelecehan terhadap anak tersebut belum dapat dipastikan. Polres Tanjungbalai masih melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap kedua terduga pelaku.

Korban diketahui merupakan anak yatim piatu yang diasuh oleh orangtua angkatnya. Kondisi korban saat ini belum diketahui secara pasti. Darwansyah mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum.

"Kami mengharapkan kepada masyarakat untuk tenang dan bersabar. Kita serahkan kepada pihak yang berwajib," tegasnya.

Sebelumnya, ratusan warga mendatangi rumah terduga pelaku di Lingkungan 5 Kelurahan Perjuangan. Aparat Polres Tanjungbalai bergerak cepat mengevakuasi pasangan suami istri tersebut ke Mapolres untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Polisi mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan menunggu hasil penyidikan resmi dari kepolisian.

Editorial Team

Related Article