Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Panggung JKK Menjadikan Isu Lingkungan Sebagai Napas Karya Seni
Panggung Jangan Kasih Kendor atau JKK resmi dibuka selama tiga hari (Dok. Rumah Karya Indonesia)
  • Panggung JKK resmi dibuka di Medan pada 24–26 April 2026, mengusung visi menjadikan seni dan budaya sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas dengan isu lingkungan sebagai inti.
  • Rangkaian acara menampilkan seniman seperti Ando Sipayung, Harungguan Etnik ft. Zuventus Purba, Benny Tambak, hingga Filsafatian yang menyuarakan pesan hubungan manusia dengan alam melalui karya estetika inovatif.
  • Kegiatan ini juga menghadirkan lomba pelajar dan bazar UMKM untuk memperkuat kesadaran generasi muda menjaga kelestarian lingkungan serta mendukung pangan lokal secara berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
24 April 2026

Panggung JKK resmi dibuka di Medan sebagai awal rangkaian kegiatan tiga hari. Hari pertama menampilkan Ando Sipayung, Harungguan Etnik ft. Zuventus Purba, Benny Tambak, dan Filsafatian yang menutup dengan pesan reflektif tentang hubungan manusia dan alam.

24–26 April 2026

Rangkaian acara Panggung JKK berlangsung selama tiga hari dengan pertunjukan seni, lomba pelajar, dan bazar UMKM yang mengangkat isu lingkungan serta pangan lokal.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Panggung JKK (Jangan Kasih Kendor) resmi memulai rangkaian kegiatan seni dan budaya yang mengangkat isu lingkungan, alam, dan pangan lokal sebagai tema utama selama tiga hari penyelenggaraan.
  • Who?
    Kegiatan ini diinisiasi oleh Rumah Karya Indonesia dengan keterlibatan seniman seperti Ando Sipayung, Harungguan Etnik ft. Zuventus Purba, Benny Tambak, dan Filsafatian.
  • Where?
    Acara berlangsung di Medan, Sumatera Utara, menjadi ruang ekspresi budaya yang mempertemukan tradisi lokal dengan dinamika seni kontemporer.
  • When?
    Panggung JKK dimulai pada Jumat, 24 April 2026, dan dijadwalkan berlangsung hingga Minggu, 26 April 2026.
  • Why?
    Penyelenggaraan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan serta memperkuat peran seni dan budaya dalam menjaga keseimbangan alam dan ekonomi lokal.
  • How?
    Kegiatan dilakukan melalui pertunjukan musik, kolaborasi seniman tradisi-modern, lomba pelajar, serta bazar UMKM yang membawa pesan ekologis kepada pengunjung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Hari Jumat ada acara besar namanya Panggung JKK di Medan. Banyak seniman tampil dan bikin musik serta tarian tentang alam dan bumi. Ada juga bazar dan lomba buat anak sekolah. Orang-orang diajak sayang sama lingkungan dan makanan lokal. Acara ini jalan tiga hari, sampai tanggal dua puluh enam April nanti.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Panggung JKK menghadirkan semangat segar dalam dunia seni dengan menjadikan isu lingkungan sebagai inti kreativitas. Melalui kolaborasi seniman, ruang edukasi pelajar, dan bazar UMKM, acara ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap alam dapat tumbuh harmonis bersama ekspresi budaya dan penguatan ekonomi lokal, menciptakan pengalaman yang inspiratif bagi seluruh generasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Panggung JKK (Jangan Kasih Kendor) resmi memulai rangkaian kegiatannya Jumat (24/4/2026). Acara ini akan berlangsung selama tiga hari, mulai 24 hingga 26 April 2026.

Panggung ini hadir dengan visi besar menjadikan seni dan budaya sebagai jembatan yang menghubungkan akar tradisi dengan dinamika zaman modern, dengan menempatkan isu Alam, Lingkungan, dan Pangan Lokal sebagai ide sentral, Panggung.

1. JKK memposisikan ekologi adalah ruh di balik setiap karya yang ditampilkan

Panggung Jangan Kasih Kendor atau JKK resmi dibuka selama tiga hari (Dok. Rumah Karya Indonesia)

Semangat "Jangan Kasih Kendor" tercermin dalam konsistensi para seniman dan komunitas yang menggunakan panggung ini untuk menyuarakan keresahan terhadap kondisi bumi melalui eksplorasi estetika yang inovatif serta aksi nyata.

Sebagai pembuka rangkaian pada 24 April, Panggung JKK menampilkan sederet seniman yang dikenal kuat dalam membawa napas tradisi ke ruang kontemporer.

2. Penampilan dibuka dengan eksplorasi musik yang mendalam

Panggung Jangan Kasih Kendor atau JKK resmi dibuka selama tiga hari (Dok. Rumah Karya Indonesia)

Panggung hari pertama dimeriahkan oleh penampilan memukau dari Ando Sipayung, disusul oleh kolaborasi enerjik Harungguan Etnik ft. Zuventus Purba, serta penampilan dari Benny Tambak. Sebagai pemungkas yang penuh refleksi, Filsafatian menutup hari pertama dengan performa yang mempertegas pesan tentang hubungan manusia, alam dan lingkungan.

Selain pertunjukan seni, Panggung JKK juga menghadirkan berbagai ruang aktivasi untuk memastikan pesan lingkungan dan pangan lokal tersampaikan ke seluruh lapisan generasi, Lomba Tingkat Pelajar dan Bazar UMKM.

"Di Panggung JKK, kita melihat bagaimana ide tentang alam diolah menjadi karya seni dan penguatan ekonomi lokal. Budaya tradisi kita punya kearifan luar biasa dalam menjaga alam, dan melalui Panggung JKK, pesan itu kita gaungkan kembali agar tetap relevan. Hari pertama ini adalah bukti bahwa kita tidak kendor dalam mengawal isu lingkungan," ujar Ojax Manalu ketua Rumah Karya Indonesia.

3. Pengunjung diajak untuk menanamkan kesadaran baru menjaga kelestarian lingkungan dan pangan kita

Panggung Jangan Kasih Kendor atau JKK resmi dibuka selama tiga hari (Dok. Rumah Karya Indonesia)

Panggung JKK mengundang seluruh masyarakat untuk hadir dan meramaikan rangkaian kegiatan hingga 26 April mendatang. Melalui setiap kegiatan, pengunjung diajak untuk tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga pulang dengan kesadaran baru untuk tidak mengendurkan semangat dalam menjaga kelestarian lingkungan dan pangan kita.

Panggung JKK (Jangan Kasih Kendor) adalah ruang ekspresi budaya yang diinisiasi oleh Rumah Karya Indonesia. Panggung ini didedikasikan sebagai titik temu antara tradisi dan modernitas, di mana isu lingkungan dan pangan lokal menjadi ide dan gagasan utama dalam setiap pengembangan karya seni, edukasi pelajar, dan penguatan UMKM lokal.

Editorial Team