Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karhutla Marak, Kualitas Udara Pekanbaru Tembus Level Berbahaya
Kabut asap menyelimuti Kota Pekanbaru (IDN Times/ Fanny Rizano)
  • Kualitas udara Pekanbaru mencapai kategori berbahaya dengan AQI 302 dan PM2.5 sebesar 225,9 µg/m³, dipicu kabut asap akibat karhutla di Riau.
  • BMKG mencatat 447 titik panas di Riau, terbanyak di Pelalawan 174 titik dan Indragiri Hilir 159 titik; kebakaran Kerumutan, Pelalawan, diperkirakan melanda 702 hektare gambut.
  • Pelalawan menetapkan status tanggap darurat karhutla selama 25 Agustus–6 September 2026 untuk mengoptimalkan pemadaman, terutama di Kecamatan Kerumutan dan Pangkalan Kerinci.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pekanbaru, IDN Times - Kualitas udara di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, pada hari ini masuk dalam kategori berbahaya, Selasa (25/8/2026). Hal ini terjadi sehari setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Bumi Lancang Kuning.

Berdasarkan pemantauan IQAir, Kota Pekanbaru mencatat skor Indeks Kualitas Udara (AQI) di angka 302 per pukul 11.00 WIB. Adapun rinciannya, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 terpantau mencapai 225.9 µg/m³.

Yang mana penjelasannya, partikel racun mikroskopis sangat berbahaya, karena sanggup menembus saringan alami pernapasan hingga langsung masuk ke pembuluh darah manusia.

Atas hal tersebut, masyarakat diminta untuk menghentikan segala aktivitas diluar ruangan demi mencegah penyakit pernapasan. Jikapun terpaksa keluar rumah, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker standar medis khusus guna menahan partikel mikro berbahaya.

Diketahui, Kota Pekanbaru saat ini sedang dilanda bencana kabut asap, yang merupakan dampak langsung dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Provinsi Riau.

1. Ada 447 hotspot

Sebaran hotspot di Provinsi Riau hari ini (IDN Times/ dok BMKG Riau)

Sementara itu, berdasarkan data analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Riau, terdapat hotspot atau titik panas sebanyak 447 titik panas atau hotspot.

Forecaster On Duty BMKG Bella R Adelia mengatakan, bahwa konsentrasi amukan api paling masif terkonsentrasi di Kabupaten Pelalawan dengan total 174 titik panas serta Kabupaten Indragiri Hilir 159 titik. 

"Sementara itu, wilayah lain seperti Bengkalis menyumbang 40 titik, Indragiri Hulu 29 titik, Kampar 14 titik, Rokan Hilir 9 titik, Rokan Hulu 7 titik, Siak 6 titik, Kota Pekanbaru 5 titik, Meranti 3 titik dan Kuantan Singingi 1 titik," kata Bella.

2. Karhutla di Pelalawan 702 hektare

Petugas saat melakukan pendinginan di daerah Kerumutan, Kabupaten Pelalawan (IDN Times/ dok Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera)

Di sisi lain, penanganan Karhutla di Kelurahan Kerumutan, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, terus dilakukan. Luas lahan yang terbakar di lokasi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 702 hektar.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan, kebakaran terjadi di lahan berjenis gambut dengan status kawasan Hutan Produksi (HP). Tim gabungan masih melakukan operasi pemadaman untuk mencegah api meluas dan memastikan titik api dapat dikendalikan.

"Penanganan di Kerumutan masih terus kami lakukan. Fokus utama saat ini adalah melakukan penyekatan terhadap kepala api di sisi selatan lokasi kebakaran," kata Ferdian.

Selain melakukan penyekatan kepala api, tim juga membuka akses menuju sisi selatan lokasi kebakaran dengan menggunakan alat berat excavator. Pencucian kanal di sisi selatan juga dilakukan untuk mendukung ketersediaan sumber air bagi proses pemadaman.

"Pembukaan akses dan pencucian kanal menggunakan alat berat dilakukan untuk mendukung mobilitas tim sekaligus menyediakan sumber air yang dibutuhkan dalam proses pemadaman," ujarnya.

Ferdian menjelaskan, proses pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya akses menuju kepala api di sisi selatan yang belum sepenuhnya terbuka, kecepatan angin, cuaca panas ekstrem, tingginya volume bahan bakar potensial, serta kondisi gambut yang cukup dalam.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama. Meski demikian, berdasarkan hasil penanganan terakhir, kondisi di lokasi dinilai lebih kondusif dibandingkan sebelumnya.

"Penjalaran kepala api aktif mulai melambat karena bahan bakar potensial di sekitar lokasi sudah mulai berkurang. Kami juga terus melakukan pembatasan terhadap kepala api dan pembasahan pada bahan bakar potensial," terang Ferdian.

Ia menyebutkan, meski kondisi kebakaran mulai lebih terkendali, pemadaman di Kerumutan belum sepenuhnya tuntas. Tim akan kembali melanjutkan operasi pada hari berikutnya.

"Pemadaman belum tuntas dan akan kami lanjutkan. Strategi yang diterapkan berjalan sesuai rencana, dengan sinergi seluruh stakeholder di lapangan," sebutnya.

Sementara itu, Manggala Agni Daops Rengat juga melaksanakan operasi pemadaman di sejumlah lokasi lain.

Di Desa Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, tim berada pada tahap mopping up atau pendinginan. Tahapan ini dilakukan untuk menekan potensi munculnya kembali api sekaligus memastikan lokasi benar-benar padam.

Sedangkan di Desa Kertajaya, Kecamatan Kempas, Kabupaten Indragiri Hilir, operasi masih berada pada tahap awal pemadaman. Luas lahan yang terbakar masih dalam proses penghitungan.

Di lokasi tersebut, lahan yang terbakar merupakan gambut dengan sumber air yang terbatas. Vegetasi yang terdampak meliputi semak belukar, akasia liar, serta perkebunan sawit milik masyarakat.

Kondisi angin kencang menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman. Selain itu, posisi kepala api berada sekitar 500 hingga 700 meter dari sumber air sehingga menyulitkan upaya pemadaman.

"Di Kertajaya, kondisi angin dan keterbatasan sumber air menjadi tantangan tersendiri. Pemadaman di lokasi tersebut juga masih belum tuntas," pungkas Ferdian.

3. Pelalawan tanggap darurat

Petugas melakukan pendinginan di wilayah Karhutla yang terjadi di Kerumutan, Kabupaten Pelalawan (IDN Times/ dok Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera)

Terkait dengan situasi Karhutla di Kabupaten Pelalawan, pemerintah setempat meningkatkan status penanganan, dari siaga darurat ke tanggap darurat. Kebijakan ini diambil setelah Karhutla meluas dan titik panas meningkat dalam sepekan terakhir.

Status tanggap darurat tersebut berlaku selama 14 hari, mulai 25 Agustus hingga 6 September 2026. Pemerintah Kabupaten Pelalawan kini memusatkan penanganan, terutama di Kecamatan Kerumutan dan Pangkalan Kerinci yang masih terjadi Karhutla.

Sekretaris Daerah Kabupaten Pelalawan Tengku Zulfan mengatakan, peningkatan status diperlukan agar penanggulangan Karhutla dapat dilakukan lebih optimal. Pemerintah juga dapat mengerahkan sumber daya yang lebih besar untuk mempercepat pemadaman.

"Penetapan status tanggap darurat bencana Karhutla berlangsung selama 14 hari kedepan, untuk mengoptimalkan penanggulangannya," kata Tengku Zulfan.

Diterangkannya, keputusan tersebut juga merupakan tindak lanjut arahan Bupati Pelalawan H Zukri.

"Ini sesuai dengan arahan pak Bupati. Beliau memimpin langsung pemadaman api Karhutla di Desa Rantau Baru Pangkalan Kerinci sejak kemarin," terangnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article