Kampus Darma Agung akan Direlokasi, Lokasi Masih Rahasia

- YPDA menyatakan siap merelokasi UDA, ISTP, dan APP Darma Agung setelah mayoritas ahli waris DR TD Pardede tidak lagi mengizinkan penggunaan lahan kampus.
- Yayasan menyiapkan lokasi serta bangunan baru yang diklaim lebih baik di Kota Medan, tetapi merahasiakan alamatnya dan memastikan kampus tidak akan ditutup.
- YPDA tidak akan melawan eksekusi lahan, meminta prosesnya tidak mengganggu mahasiswa, serta masih menunggu penetapan tanggal eksekusi dari pengadilan.
Medan, IDN Times - Yayasan Perguruan Darma Agung (YPDA) mengaku telah menyiapkan lokasi baru untuk relokasi tiga institusi pendidikannya, yakni Universitas Darma Agung (UDA), Institut Sains dan Teknologi TD Pardede (ISTP), dan Akademi Pariwisata dan Perhotelan (APP) Darma Agung.
Hal itu disampaikan Ketua YPDA, Hana Nelsri Kaban, menanggapi isu eksekusi lahan kampus yang disebut telah menjadi kesepakatan seluruh ahli waris DR TD Pardede.
"Sejak Februari 2025 kita sudah mengambil sikap bahwasanya kita bersedia 100 persen untuk merelokasi kampus kita tercinta ini. Tidak ada masalah bagi kita. Ini memang kesepakatan seluruh ahli waris agar UDA direlokasi karena mayoritas keluarga almarhum DR TD Pardede sudah tidak bersedia lagi lahannya dipakai kampus itu," kata Hana, pada Sabtu (29/8/2026).
1. Hana sebut kampus akan menyiapkan lokasi baru di Kota Medan

Ketua YPDA, Hana Nelsri Kaban (Dok. Istimewa) Hana menyayangkan keputusan relokasi tersebut. Namun ia meminta mahasiswa tidak khawatir karena kampus tidak akan ditutup. Pihak yayasan disebut telah sepakat dan menyiapkan lokasi baru di Kota Medan.
"Kita belum dapat menyampaikan lokasinya. Cukuplah instansi yang berkepentingan yang mengetahui ke mana kampus akan dipindahkan. Yang jelas tetap di Kota Medan," tuturnya.
2. Diakui tidak ada perlawanan terhadap eksekusi

Ketua YPDA, Hana Nelsri Kaban (Dok. Istimewa) Terkait eksekusi lahan, Hana mengaku tidak akan melakukan perlawanan. Hal itu karena pembina yayasan yang juga termasuk salah satu ahli waris telah menerima keputusan keluarga besar.
Dia memperkirakan jika dijual, harga lahan tersebut dapat mencapai angka triliun. Meski demikian, YPDA mendukung segala rencana terhadap lahan tersebut dengan catatan proses eksekusi tidak menimbulkan kericuhan bagi mahasiswa.
"Itu harapan kami, bahwasanya tidak akan ada gangguan untuk eksekusi. Dan kami juga sudah sampaikan itu di pengadilan. Kita sudah menyediakan lahan dan bangunan yang pantas, yang lebih baik lagi dari sebelumnya," ucap Hana.
3. YPDA masih menunggu penetapan tanggal eksekusi lahan dari pengadilan

Ketua YPDA, Hana Nelsri Kaban (Dok. Istimewa) Saat ini, YPDA masih menunggu penetapan tanggal eksekusi lahan dari pengadilan. Hana juga memilih tidak membeberkan lokasi kampus baru terlebih dahulu.
"Kita tunggu waktunya. Dan kita juga tidak mau mengekspos lokasi baru karena kita tidak mau nanti jadi isu penggorengan," ujarnya.

















