Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Harga BBM Nonsubsidi di Batam dan Sabang Lebih  Murah? Ini Alasannya
Ilustrasi pengisian BBM. (Dok. PPN Sumbagsel).
  • Harga BBM non-subsidi di kawasan FTZ seperti Batam dan Sabang lebih murah karena mendapat insentif fiskal, termasuk pembebasan bea masuk, PPN, dan PPnBM.
  • Kebijakan harga murah ini mendukung ekosistem perdagangan dan investasi di FTZ dengan menekan biaya operasional pelaku usaha serta memperlancar arus ekspor-impor.
  • Penetapan harga BBM non-subsidi tetap mengikuti formula nasional, namun karakteristik fiskal dan logistik FTZ membuat harga akhirnya lebih rendah dibanding wilayah lain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Batam, IDN Times - Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di kawasan Free Trade Zone (FTZ) seperti Batam dan Sabang kerap lebih rendah dibandingkan wilayah lain di Sumatera, bahkan disebut sebagai yang paling kompetitif di Indonesia. Kondisi ini tidak terjadi tanpa sebab, melainkan dipengaruhi oleh kebijakan fiskal dan karakteristik khusus kawasan tersebut.

Area Manager Communication, Relation, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, kawasan FTZ merupakan wilayah dengan perlakuan khusus sebagaimana diatur dalam berbagai regulasi pemerintah.

“Kawasan Free Trade Zone (FTZ) adalah wilayah khusus yang ditetapkan pemerintah dengan berbagai insentif fiskal dan kepabeanan, seperti pembebasan bea masuk, PPN, hingga PPnBM. Tujuannya untuk menarik investasi dan mendorong perdagangan internasional,” kata Fahrougi, Jumat (3/4/2026).

1. Insentif fiskal membuat harga lebih kompetitif

Pasokan BBM di NTB dipastikan aman jelang Idul Adha 2025. (dok. Istimewa)

Fahrougi menjelaskan, salah satu faktor utama yang membuat harga BBM non-subsidi lebih murah di kawasan FTZ adalah adanya perlakuan fiskal khusus.

Di wilayah ini, BBM diperlakukan berbeda dibandingkan daerah pabean biasa. Sejumlah komponen biaya seperti pajak dan pungutan tertentu dapat ditekan berkat insentif yang diberikan pemerintah.

"Dengan berkurangnya beban fiskal tersebut, harga jual BBM non-subsidi di tingkat konsumen menjadi lebih rendah dan kompetitif dibandingkan daerah non-FTZ," ujarnya.

2. Mendorong ekosistem perdagangan dan investasi

Ilustrasi pengisian BBM. (Dok. PPN Sumbagsel).

Selain itu, Fahrougi juga menegaskan bahwa harga BBM yang lebih rendah juga merupakan bagian dari strategi besar untuk mendukung aktivitas ekonomi di kawasan FTZ.

Sebagai zona perdagangan bebas dan pelabuhan bebas, FTZ dirancang untuk menarik investasi dan memperlancar arus barang ekspor-impor.

"Harga energi yang lebih kompetitif menjadi salah satu faktor penting dalam menekan biaya operasional pelaku usaha," ujarnya.

Dengan demikian, keberadaan BBM non-subsidi yang lebih murah di kawasan ini bukan hanya soal harga, tetapi juga bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih luas.

3. Penyesuaian harga mengikuti formula nasional

Pertamina Patra Niaga melalui Pertamina Regional Sumbagsel terus memperkuat upaya pemulihan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Bengkulu melalui tiga terminal penyangga. (Dok. Pertamina)

Meski lebih murah, Fahrougi menekankan bahwa penetapan harga BBM non-subsidi tetap mengacu pada formula nasional yang ditetapkan pemerintah.

Formula tersebut mempertimbangkan berbagai faktor, seperti harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta biaya distribusi. Namun, karakteristik fiskal dan logistik di kawasan FTZ membuat harga akhir yang terbentuk bisa lebih rendah dibandingkan wilayah lain.

Ia juga mengingatkan bahwa harga BBM subsidi, seperti Pertalite dan solar subsidi, tetap seragam di seluruh Indonesia sesuai kebijakan pemerintah.

"Perbedaan harga BBM non-subsidi antarwilayah juga dipengaruhi oleh faktor distribusi dan biaya logistik," tutupnya.

Editorial Team