Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kalah Pamor dari Orangutan, Ini 5 Rahasia Binturong di Batangtoru

Kota Medan
4 min read
Kalah Pamor dari Orangutan, Ini 5 Rahasia Binturong di Batangtoru
potret binturong (Mark van Seeters, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
  • Binturong di Batang Toru mengeluarkan aroma seperti popcorn dari urine yang mengandung senyawa 2-AP untuk menandai wilayah dan memikat lawan jenis.

  • Ekor pencengkeram membantu binturong bergerak di tajuk pohon, sementara kebiasaannya memakan buah membuatnya berperan dalam penyebaran biji pohon ara.

  • Status binturong rentan karena perburuan dan terputusnya koridor kanopi, yang membatasi pergerakan serta mengancam populasinya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayangin guys, ada aroma popcorn atau berondong jagung mentega saat masuk ke pintu bioskop. Aroma yang kas bukan? Bahkan bisa bikin perut sampai keroncongan saking gurih aromanya.

Nah, sekarang bayangin lagi, aroma yang persis, terendus di tengah lebatnya hutan hujan Batangtoru. Pasti bikin bertanya-tanya kan. Kok ada aroma popcorn di dalam hutan?. Emangnya ada bioskop. Atau ada yang jualan?.

ternyata aroma itu datang dari dahan pohon setinggi puluhan meter. Tepatnya dari urine satwa liar bernama binturong (Arctictis binturong).

Wajahnya mirip kucing, badannya kekar seperti beruang kecil, tapi dia sebenarnya kerabat musang. Di Batang Toru, namanya jarang disebut karena kalah populer dari orangutan tapanuli atau harimau. Padahal, riset membuktikan satwa pemalu ini juga jadi kunci keselamatan ekosistem. Ini lima fakta ilmiahnya.

  1. 1. Rahasia bau popcorn mentega yang dipakai buat "update status" di pohon

    potret binturong
    potret binturong (Sardaka, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Selama puluhan tahun, peneliti lapangan bingung kenapa dahan pohon yang dilewati binturong selalu berbau seperti jagung bakar mentega. Misteri itu akhirnya terpecahkan lewat studi Lydia K. Greene dan Christine M. Drea dari Duke University yang terbit di jurnal The Science of Nature (2016).

    Tim peneliti menganalisis sampel urine dari 33 ekor binturong menggunakan kromatografi gas. Hasilnya mengejutkan. Ada 29 senyawa kimia di dalamnya, dan aroma utamanya berasal dari 2-acetyl-1-pyrroline (2-AP).

    Senyawa 2-AP ini adalah molekul yang persis sama dengan zat pemberi aroma pada popcorn panas dan beras pandan wangi. Di kanopi hutan Batang Toru yang gelap, binturong menggosokkan cairan beraroma ini ke dahan pohon sebagai penanda teritorial sekaligus "update status" untuk memikat lawan jenis.

  2. 2. Punya "tangan kelima" super kuat untuk menaklukkan tebing curam Batang Toru

    potret binturong (commons.wikimedia.org/Jastrow)
    potret binturong (commons.wikimedia.org/Jastrow)

    Topografi hutan Batang Toru terkenal ekstrem. Banyak tebing terjal dan jurang dalam. Untuk bertahan hidup di atas tajuk pohon yang licin, binturong mengandalkan satu senjata anatomi langka: ekor prehensile.

    Studi anatomi fungsional mamalia arboreal di jurnal Journal of Morphology mencatat binturong sebagai satu dari hanya dua spesies karnivora di bumi yang punya ekor pencengkeram. Panjang ekornya hampir menyamai panjang tubuhnya sendiri.

    Ujung ekor ini punya bantalan otot tebal yang bisa melilit dahan pohon layaknya tangan kelima. Saat memetik buah di ujung ranting tipis, binturong cukup menggantungkan tubuhnya yang seberat 15 sampai 20 kilogram hanya dengan bertumpu pada lilitan ekornya.

  3. 3. Tukang kebun pohon raksasa yang diam-diam menjaga warga Tapanuli dari longsor

    potret binturong
    potret binturong (Carlos Delgado, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

    Jangan tertipu statusnya sebagai anggota ordo karnivora. Di alam liar, sekitar 80 persen menu harian binturong justru berupa buah-buahan hutan. Terutama buah pohon ara pencekik (Ficus spp.).

    Riset ekologi penyebaran biji di hutan tropis Asia Tenggara oleh Kim R. McConkey, ditambah rekaman kamera jebak (camera trap) tim peneliti BRIN Wanda Kuswanda dkk. di lanskap Batang Toru, mengungkap peran vitalnya. Biji pohon ara punya lapisan kulit keras yang sulit berkecambah sendiri. Enzim di saluran pencernaan binturong melunakkan kulit biji itu sebelum dikeluarkan bersama kotoran di sepanjang jalur jelajahnya.

    Di sinilah nasib manusia ikut dipertaruhkan. Pohon ara yang ditanam binturong tumbuh menjadi pohon raksasa dengan sistem akar gantung yang mengikat tanah di lereng-lereng curam Batang Toru. Kalau binturong punah karena diburu, regenerasi pohon pengikat lereng ini terputus. Saat hujan ekstrem turun, tanah perbukitan Tapanuli yang kehilangan jangkar akar alami akan jauh lebih mudah runtuh menjadi banjir bandang dan tanah longsor ke pemukiman warga di bawahnya.

  4. 4. Betinanya bisa "menunda" kehamilan kalau kondisi hutan lagi krisis

    BBKSDA Sumut melepas dua ekor binturong dan sejumlah satwa lainnya ke SM Siranggas, Kabupaten Pakpakbharat, Sumatra Utara, Senin (14/6/2021). (IDN Times/Prayugo Utomo)
    BBKSDA Sumut melepas dua ekor binturong dan sejumlah satwa lainnya ke SM Siranggas, Kabupaten Pakpakbharat, Sumatra Utara, Senin (14/6/2021). (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Hidup di hutan pegunungan tidak selalu menjanjikan makanan berlimpah. Untuk menyiasati musim paceklik buah di hutan, tubuh binturong betina dibekali mekanisme biologi canggih bernama embryonic diapause atau implantasi tertunda.

    Catatan fisiologi reproduksi mamalia dalam Journal of Reproduction and Fertility menjelaskan cara kerjanya. Setelah proses kawin selesai, sel telur yang sudah dibuahi tidak langsung menempel dan berkembang di dinding rahim.

    Sang induk bisa "mem-pause" perkembangan embrio tersebut selama berbulan-bulan. Embrio baru akan diaktifkan kembali untuk tumbuh menjadi janin ketika kondisi lingkungan hutan sedang aman dan ketersediaan buah melimpah. Strategi cerdas agar anaknya tidak lahir di tengah bencana kelaparan.

  5. 5. Pantang turun ke tanah, bikin populasinya gampang terjebak saat hutan terbelah

    BBKSDA Sumut melepaskan dua ekor binturong dan sejumlah satwa lainnya di SM Siranggas, Kabupaten Pakpakbharat, Senin (14/6/2021). (IDN Times/Prayugo Utomo)
    BBKSDA Sumut melepaskan dua ekor binturong dan sejumlah satwa lainnya di SM Siranggas, Kabupaten Pakpakbharat, Senin (14/6/2021). (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Meski tangguh di atas pohon, binturong punya satu kelemahan fatal. Mereka adalah satwa kanopi sejati (strictly arboreal) yang gerakannya cukup lambat dan sangat menghindari turun ke lantai hutan.

    Laporan asesmen IUCN Red List yang disusun D.H.A. Willcox dkk. (2016) menetapkan binturong dalam status Rentan (Vulnerable) karena populasinya anjlok lebih dari 30 persen dalam tiga dekade terakhir. Selain diburu untuk perdagangan satwa peliharaan ilegal, ancaman terbesarnya adalah terbelahnya hutan.

    Di lanskap Batang Toru, bukaan lahan atau jalan yang memotong sambungan tajuk antar-pohon adalah tembok mati bagi binturong. Mereka tidak bisa menyeberanginya dengan mudah. Jika koridor kanopi hutan terus terputus, populasi penyebar bibit hutan ini akan terkurung dalam kantong-kantong sempit, mengalami perkawinan sedarah (inbreeding), lalu lenyap perlahan.

Related Articles

See More