5 Alasan Hutan Batang Toru Jadi Laboratorium Alam
Batang Toru menjadi habitat satu-satunya bagi orangutan tapanuli, dengan populasi kurang dari 800 individu di alam liar.
Hutan ini menyediakan pakan bagi satwa, menjadi jalur harimau sumatra dan tapir asia, serta habitat kantong semar endemik.
Ekosistem Batang Toru menahan air hujan dan menopang pertanian, pembangkit listrik, serta pasokan air bersih warga Tapanuli.
Pernah dengar nama Batang Toru? Bentang hutan seluas sekitar 240.000 hektare ini membelah tiga kabupaten di Sumatra Utara. Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.
Bagi ilmuwan dunia, kawasan ini bukan hutan biasa. Topografinya curam dan berbukit terjal. Kabut tebal hampir selalu turun menyelimuti kanopi setiap sore.
Di balik rimbunnya pepohonan, Batang Toru menyimpan spesies yang tidak bisa kamu temukan di belahan bumi lain. Berikut lima fakta kekayaan hayati Batang Toru berdasarkan catatan riset ilmiah.
1. Rumah satu-satunya bagi orangutan tapanuli yang terisolasi ribuan tahun

Orangutan tapanuli (commons.wikimedia.org/Gube12) Dulu kita tahu Indonesia cuma punya dua jenis orangutan: sumatra dan kalimantan. Tahun 2017, peta sains dunia berubah. Tim peneliti internasional yang dipimpin Alexander Nater dalam jurnal Current Biology mengonfirmasi spesies kera besar baru. Namanya Pongo tapanuliensis.
Bentuk tengkoraknya lebih kecil. Rambutnya lebih keriting. Suara panggilan jarak jauh (long call) pejantannya juga punya frekuensi unik.
Sayangnya, begitu resmi tercatat sains, statusnya langsung kritis. Populasinya kurang dari 800 individu di alam liar. Mereka terkurung di lanskap Batang Toru dan tidak ditemukan di hutan lain mana pun di dunia.
2. Punya hutan sampinur yang jadi "dapur" utama satwa liar

ilustrasi hutan (pexels.com/Mochammad Algi) Orangutan tapanuli punya selera makan yang beda dari kerabatnya di Leuser. Riset Wanda Kuswanda bersama tim peneliti Balai Litbang LHK Aek Nauli (kini BRIN) mencatat ratusan jenis tumbuhan pakan di hutan ini. Dua primadonanya adalah pohon sampinur tali (Dacrydium beccarii) dan sampinur bunga (Agathis borneensis).
Pohon-pohon konifer pegunungan ini tergolong flora purba. Biji dan buahnya kaya kalori.
Ketika musim buah tiba, pohon sampinur menjadi tumpuan hidup orangutan, burung rangkong, hingga beruang madu.
3. Jalur lintasan harimau sumatra dan "petani hutan" tapir asia

Harimau sumatra (commons.wikimedia.org/GinaFranchi) Kamera jebak (camera trap) para peneliti berulang kali merekam tamu besar di lantai hutan Batang Toru. Ada harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) dan tapir asia (Tapirus indicus). Keduanya masuk daftar merah spesies terancam punah.
Tapir memegang peran krusial sebagai petani hutan. Satwa pemalu ini memakan buah-buahan hutan, lalu menyebarkan bijinya lewat kotoran di sepanjang jalur jelajah. Hutan Batang Toru tetap rapat karena tapir rajin berjalan kaki menebar bibit pohon baru.
4. Tempat tumbuhnya kantong semar pemakan serangga di tebing berlumut

kantong semar besar (inaturalist.org/Jonathan M) Jangan cuma mendongak ke atas tajuk pohon. Lantai hutan dan tebing curam Batang Toru adalah habitat tumbuhan karnivora genus Nepenthes atau kantong semar. Spesies endemik Sumatra seperti Nepenthes spectabilis dan Nepenthes tobaica tumbuh subur di zona pegunungan basah ini.
Tanah dataran tinggi vulkanik terkadang miskin unsur hara. Tanaman ini beradaptasi secara ekstrem. Mereka memikat serangga masuk ke dalam kantong licin berisi cairan enzim, lalu mencernanya sebagai nutrisi tambahan.
5. Spons air raksasa bagi ratusan ribu warga Tapanuli

Ilustrasi hutan tropis. (Pexels.com/Reno Reno) Konservasi Batang Toru bukan semata urusan menyelamatkan satwa langka. Hutan di pegunungan ini bekerja layaknya spons raksasa. Akar pepohonan tua menahan air hujan di lereng curam agar tidak langsung tumpah menjadi banjir bandang dan longsor.
Air yang terserap tanah dilepaskan perlahan ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru dan sungai-sungai di sekitarnya. Aliran inilah yang menghidupi lahan pertanian, pembangkit listrik, hingga pasokan air bersih warga setiap hari.
Sumber Riset & Referensi:
Nater, A., et al. (2017). Morphometric, Behavioral, and Genomic Evidence for a New Orangutan Species. Jurnal Current Biology, 27(22), 3487-3498.
Kuswanda, W., et al. (BRIN / Balai Litbang LHK Aek Nauli). Publikasi riset ekologi populasi, daya dukung habitat, dan tumbuhan pakan Orangutan Tapanuli di Lanskap Batang Toru.
Wich, S. A., et al. (2019). Land-cover changes predict steep declines for the Sumatran orangutan and the newly discovered Tapanuli orangutan. Jurnal Science Advances / Global Ecology and Conservation.
IUCN Red List of Threatened Species. Data status konservasi Pongo tapanuliensis (Critically Endangered), Panthera tigris sumatrae (Critically Endangered), dan Tapirus indicus (Endangered).



















