Potret resmi Lumumba sebagai perdana menteri Republik Kongo, 1960. (Wikipedia)
Patrice Lumumba lahir pada 2 Juli 1925 di wilayah yang saat itu masih menjadi koloni Belgia. Ia tumbuh di tengah sistem kolonial yang diskriminatif, lalu terlibat aktif dalam gerakan nasionalis yang menuntut kemerdekaan Kongo.
Momentum besar datang pada 1960. Setelah konferensi politik di Brussel, Belgia akhirnya setuju memberikan kemerdekaan kepada Kongo pada 30 Juni 1960. Dalam pemilu nasional, partai Lumumba memenangkan suara terbanyak, dan ia pun dilantik sebagai perdana menteri pertama Kongo—sebuah tonggak sejarah bagi negara tersebut.
Tak lama setelah merdeka, Kongo langsung dilanda krisis besar. Pada Juli 1960, tentara memberontak, warga Eropa mengungsi, dan provinsi kaya Katanga memisahkan diri. Situasi ini membuat negara baru itu berada di ambang kehancuran.
Di tengah kekacauan, Lumumba meminta bantuan internasional. Ketika dukungan Barat dinilai lambat, ia membuka hubungan dengan Uni Soviet—langkah yang membuatnya dicurigai di tengah tensi Perang Dingin. Konflik politik memuncak ketika Presiden Joseph Kasa-Vubu memecat Lumumba, yang kemudian dibalas oleh Lumumba dengan memecat presiden. Kudeta militer pun terjadi pada September 1960 yang dipimpin oleh Joseph Mobutu.
Setelah kudeta, Lumumba ditangkap dan dijadikan tahanan politik. Dalam kondisi penuh tekanan, ia akhirnya dipindahkan ke wilayah Katanga—daerah yang memisahkan diri dan didukung kekuatan asing.
Pada 17 Januari 1961, Lumumba dieksekusi. Jenazahnya disebut dimutilasi dan dilarutkan ke dalam asam. Investigasi kemudian menunjukkan keterlibatan pihak lokal dan internasional dalam pembunuhannya. Ia hanya menjabat sekitar tujuh bulan sebagai perdana menteri, namun kematiannya menjadikannya simbol global perjuangan anti-kolonialisme dan Pan-Afrika.