Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jadi Nama Jalan di Padangsidimpuan, Ini Sejarah tentang Patrice Lumumba
Lumumba difoto di Brussels pada Konferensi Meja Bundar bersama anggota delegasi MNC-L lainnya, 26 Januari 1960. (Sumber: Wikipedia)
  • Lumumba Vea, suporter asal Kongo, viral di Piala Dunia 2026 karena aksi diamnya yang terinspirasi dari pose perjuangan tokoh kemerdekaan Kongo, Patrice Lumumba.
  • Nama Patrice Lumumba pernah digunakan sebagai nama jalan di beberapa kota Indonesia, namun kini hanya tersisa di Kota Padangsidimpuan dengan dua ruas jalan yang masih memakai namanya.
  • Patrice Lumumba adalah perdana menteri pertama Republik Demokratik Kongo yang berjuang melawan kolonialisme dan dieksekusi pada 1961, menjadikannya simbol global perlawanan anti-kolonial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times – Kemeriahan Piala Dunia Sepakbola 2026, tidak terlepas dengan hal-hal yang unik. Para penonton Pildun –sebutan yang karib di Indonesia—tentu tidak asing dengan aksi diam seorang supporter yang dikenal sebagai Lumumba Vea.

Ia viral karena berdiri diam tanpa bergerak selama pertandingan berlangsung. Aksi ini ternyata menyimpan makna sejarah yang dalam.

Lumumba Vea adalah nama panggung dari Michel Nkuka Mboladinga, seorang suporter asal Republik Demokratik Kongo. Ia mulai dikenal sejak Piala Afrika dan semakin viral di Piala Dunia 2026 karena aksi tak biasa di tribun penonton.

Sejak 2013, ia konsisten hadir mendukung timnas Kongo dengan satu ciri khas: berdiri tegak tanpa bergerak sepanjang pertandingan. Di tengah riuhnya stadion, kehadirannya justru mencolok karena sunyi—menciptakan kontras yang membuat banyak orang penasaran dengan makna di balik aksinya.

1. Terinspirasi Patrice Lumumba yang jadi simbol perjuangan Kongo

Suporter fanatik timnas Republik Demokratik Kongo, Michel Nkuka Mboladinga alias Lumumba Vea, memberikan dukungan dengan berdiri mematung sepanjang pertandingan saat pertandingan Kolombia melawan Republik Demokratik Kongo dalam laga Grup K Piala Dunia 2026 di Stadion Akron, Guadalajara, Meksiko, Selasa (23/6/2026) waktu setempat. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Aksi diam Lumumba Vea bukan tanpa alasan. Ia meniru pose Patrice Lumumba, tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan Republik Demokratik Kongo. Dengan tubuh tegap dan tangan terangkat, ia merepresentasikan semangat perlawanan dan martabat bangsa.

Patrice Lumumba sendiri adalah perdana menteri pertama Kongo setelah merdeka dari Belgia pada 1960. Ia dikenal sebagai sosok yang vokal menentang kolonialisme dan memperjuangkan kedaulatan penuh bagi negaranya. Namun, masa kepemimpinannya singkat—ia digulingkan dan kemudian dieksekusi mati pada 1961 dalam konflik politik yang melibatkan kepentingan internasional. Kisahnya menjadikannya simbol perjuangan anti-kolonial yang dikenang hingga kini.

2. Dulu ada di beberapa kota, kini Jalan Patrice Lumumba hanya ada di Kota Padangsidimpuan

Jalan Patrice Lumumba di Kota Padangsidimpuan, Sumatra Utara. (Dok: Google Maps)

Nama Patrice Lumumba memang begitu melekat. Saat Lumumba dieksekusi, Indonesia saat itu ikut bereaksi. Presiden Soekarno menganggap Lumumba adalah teman seperjuangannya. Punya kemiripan karena menolak kolonialisme.

Untuk memberikan penghormatan kepada Lumumba, pemerintah saat itu menyematkan Patrice Lumumba sebagai nama jalan.

Dari beberapa sumber Informasi menyebut, Patrice Lumumba pernah menjadi nama jalan di Jakarta, tepatnya di kawasan Kemayoran. Namun nama itu diubah kembali menjadi Jalan Angkasa di era kepemimpinan Soeharto.

Di Surabaya nama Lumumba juga sempat harum. Namanya disematkan untuk menggantikan nama Jalan Raya Dharmo. Namun era kepemimpinan Soeharto kembali mengganti ke nama semula. Nama Lumumba kini tersisa di kawasan Ngagel sebagai Kampung Lumumba Dalam I.

Nama Patrice Lumumba di Indonesia hanya tersisa di Kota Padangsidimpuan. Bahkan ada dua jalan dengan nama Patrice Lumumba. Jalan Patrice Lumumba dan Jalan Patrice Lumumba II. Lokasinya berada dekat Jalan Merdeka dan Jalan MH Thamrin Kota Padangsidimpuan.

Belum ada informasi pasti, kapan Patrice Lumumba disematkan menjadi nama jalan di daerah berjuluk Kota Salak itu. Namun dalam Almanak Sumatera 1969, Jalan Patrice Lumumba disebutkan menjadi Alamat salah satu usaha di sana. Nama perusahaan itu adalah CV Al Mahfuz Budi.

3. Patrice Lumumba, Perdana Menteri Kongo pertama yang dieksekusi mati

Potret resmi Lumumba sebagai perdana menteri Republik Kongo, 1960. (Wikipedia)

Patrice Lumumba lahir pada 2 Juli 1925 di wilayah yang saat itu masih menjadi koloni Belgia. Ia tumbuh di tengah sistem kolonial yang diskriminatif, lalu terlibat aktif dalam gerakan nasionalis yang menuntut kemerdekaan Kongo.

Momentum besar datang pada 1960. Setelah konferensi politik di Brussel, Belgia akhirnya setuju memberikan kemerdekaan kepada Kongo pada 30 Juni 1960. Dalam pemilu nasional, partai Lumumba memenangkan suara terbanyak, dan ia pun dilantik sebagai perdana menteri pertama Kongo—sebuah tonggak sejarah bagi negara tersebut.

Tak lama setelah merdeka, Kongo langsung dilanda krisis besar. Pada Juli 1960, tentara memberontak, warga Eropa mengungsi, dan provinsi kaya Katanga memisahkan diri. Situasi ini membuat negara baru itu berada di ambang kehancuran.

Di tengah kekacauan, Lumumba meminta bantuan internasional. Ketika dukungan Barat dinilai lambat, ia membuka hubungan dengan Uni Soviet—langkah yang membuatnya dicurigai di tengah tensi Perang Dingin. Konflik politik memuncak ketika Presiden Joseph Kasa-Vubu memecat Lumumba, yang kemudian dibalas oleh Lumumba dengan memecat presiden. Kudeta militer pun terjadi pada September 1960 yang dipimpin oleh Joseph Mobutu.

Setelah kudeta, Lumumba ditangkap dan dijadikan tahanan politik. Dalam kondisi penuh tekanan, ia akhirnya dipindahkan ke wilayah Katanga—daerah yang memisahkan diri dan didukung kekuatan asing.

Pada 17 Januari 1961, Lumumba dieksekusi. Jenazahnya disebut dimutilasi dan dilarutkan ke dalam asam. Investigasi kemudian menunjukkan keterlibatan pihak lokal dan internasional dalam pembunuhannya. Ia hanya menjabat sekitar tujuh bulan sebagai perdana menteri, namun kematiannya menjadikannya simbol global perjuangan anti-kolonialisme dan Pan-Afrika.

Curated For You

Editorial Team

Related Article