INDAAC Sumut Kembali Digelar, Tren Estetika Menuju Naturalisme

- Konferensi INDAAC Sumut ke-7 digelar di Medan selama empat hari, menghadirkan 359 peserta dari berbagai daerah untuk memperbarui ilmu estetika, anti-aging, wellness, dan regeneratif.
- Pameran menampilkan beragam teknologi terbaru seperti autologous stem cell dan exosome therapy yang dikembangkan dari darah sendiri untuk perawatan wajah hingga terapi nyeri.
- Tren kecantikan kini bergeser menuju naturalisme dengan fokus pada skin booster dan collagen stimulator yang memberikan hasil alami tanpa kesan berlebihan.
Medan, IDN Times- Persatuan Dokter Antipenuaan, Wellness, Estetik, dan Regeneratif Indonesia menggelr Konferensi Anti-Aging Conference (INDAAC) Sumatra Utara digelar untuk edisi ketujuh i Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention mulai Jumat (10/4/2026) hingga Senin (13/4/2026) mendatang. Ajang ilmiah dalam bidang estika terbesar di Pulau Sumatra ini dihadiri 359 peserta dari berbagai daerah, seperti Sumatera Utara, Aceh, Riau, Sumsel hingga Jakarta.
Ketua Perdaweri Sumut, dr. Inaldo Halim, M. Biomed (AAM), MH-Kes, Dip.AAM (USA), CIBTAC, AIFO-K didampingi Wakil Ketua Perdaweri Sumut, dr. Liana, M. Biomed (AAM) mengatakan INDAAC mengusung tema “Balancing Science and Art, Achieving Natural Looking Result in Aesthetic Medicine” untuk menekankan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan seni dalam praktik estetika, tetapi juga mengandung pesan kepedulian terhadap lingkungan.
"Sumatera itu juga masih bersedih, pemulihan untuk masalah Aceh kemarin, semuanya berkaitan dengan alam. Jadi kita mengangkat tema Save Our Forest. Tujuannya adalah supaya hutan-hutan kita diselamatkan, sehingga tidak ada lagi masalah banjir seperti kemarin. Erosi yang terjadi dengan hutan kita itu membuat banyak ekonomi yang lumpuh, termasuk dokter-dokter estetik yang di wilayah Aceh juga banyak yang terkena dampak. Jadi kita mengangkat tema ini, harapan kita adalah ada rasa empati untuk memikirkan keselamatan hutan kita," kata Ketua Perdaweri Sumut, dr. Inaldo Halim.
1. Pelaksanaan lebih panjang

Menurutnya yang berbeda dari tahun lalu adalah waktu pelaksanaan berlangsung 4 hari. Berbeda dengan sebelumnya 3 hari. "Dua hari simposium di Santika Dyandra Hotel Medan, dan 1 hari di Universitas Prima Indonesia untuk workshop. Kalau sekarang itu 3 hari di sini, dan 1 hari tetap di Universitas Prima Indonesia. Ada 10 workshop. Pesertanya bukan cuma dari Medan, tapi juga dari wilayah lain di Sumatera Utara, dan wilayah Aceh. Ada yang dari Batam, Jakarta, Palembang juga ada, tetapi dominan untuk area Sumatera," katanya.
Untuk pembicara asing tahun ini tidak ada dikarenakan memang situasi politik global. Begitupun tak mengurangi greget acara ini. "Target kita tetap masih sama, karena kita perdawiri memberikan edukasi, keilmuan, update ilmu terbaru dalam bidang estetika, anti-aging, wellness, regeneratif. Tahun ini harapan kita adalah memberikan teknik-teknik baru pada dokter dengan art dan evidence base yang lebih jelas. Jadi kalau di Indah Sumut kita tidak bisa hanya hard selling dalam simposiumnya, tetapi semuanya berbasis keilmuan.Jadi targetnya adalah update ilmu dalam bidang estetik, anti-aging, wellness, regeneratif," kata Inaldo.
2. Banyak pameran dengan teknologi terbaru

Pameran yang digelar juga bervariatif dan banyak teknologi terbaru bidang estetika yang dipamerkan. Hal ini menambah referensi untuk pengembangan di daerah-daerah.
"Ya untuk pameran sekarang luar biasa variasi sekali mulai dari injectable, skincare, tetap pasti menjadi dominan, tetapi yang unik ada tambahan autologo stem cell yaitu membuat stem cell dan exosome dari darah sendiri. Hasilnya itu bisa untuk melakukan terapi, seperti pain, osteotritis, kerontokan rambut, mengembalikan kondisi nyeri, supaya penyembuhan nyeri, juga untuk perawatan wajah tentunya. Ada juga untuk perusahaan-perusahaan mesin dari luar berbasis teknologi terbaru yang menjadi supporting untuk kita praktek," katanya.
3. Tren terbaru kecantikan ke arah natural

Sementara itu dr Liana menambahkan bahwa terdapat 10 workshop yang akan digelar, mencakup berbagai topik seperti skin booster, perawatan kulit, collagen stimulator, hingga teknologi laser. Seluruh workshop tersebut telah terakreditasi dan memberikan Satuan Kredit Profesi (SKP) dari Kementerian Kesehatan RI bagi peserta.
"Tren terbaru di dunia estetik itu sekarang banyak berkiprah ke naturalisme. Jadi kemarin kan kita masih ingat ada filler yang trend itu skin booster. Artinya kan dia memberikan kelembapan dan kecerahan pada kulit secara natural. A lagi collagen stimulator, itu juga memberikan efek lifting, lembab secara natural.Jadi tren ini ke depan itu naturalisme. Jadi enggak seperti topeng, seperti boneka lagi.Kita harap tren ini bisa bertahan karena estetik itu seperti slogan kita mengembangkan sisi-sisi yang terbaik dari manusia itu secara tidak berlebihan. Seperti kalau kita lihat tren-tren di Korea itu sekarang sudah menuju ke naturalisme," kata dr Liana.
Untuk workhop sudah registrasi SKP Kementerian Kesehatan. Jadi bukan hanya workshop lokal saja yang dibuat, sehingga dokter-dokter yang menjadi peserta mendapatkan SKP Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

















