Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harga Tiket Pesawat Naik Tajam, Berikut Dampak Multiplier pada Ekonomi

Harga Tiket Pesawat Naik Tajam, Berikut Dampak Multiplier pada Ekonomi
Unit pertama pesawat angkut Airbus A400M pesanan Indonesia tiba di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada Senin (3/11/2025. (YouTube.com/Setpres)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Kenaikan harga minyak dunia di atas $100 per barel memicu lonjakan harga avtur hingga 70%, membuat tiket pesawat Jakarta–Medan kini mencapai Rp1,7 juta sampai Rp3 juta.
  • Ekonom menilai kenaikan tiket pesawat dapat menambah tekanan inflasi sekitar 0,27% dan berdampak luas pada daya beli masyarakat serta sektor pariwisata, transportasi, dan kuliner.
  • Meskipun harga minyak mentah mulai turun, penyesuaian harga avtur berbasis MOPS berjalan lambat sehingga pemulihan industri penerbangan belum bisa dipastikan dalam waktu dekat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Medan, IDN Times – Amerika Serikat (As) serta Israel telah membawa petaka bagi industri penerbangan belakangan ini. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat bertahan di atas $100 per barel telah memicu kenaikan pada harga tiket pesawat. Bahkan, dari hasil penelusuran, harga tiket pesawat Jakarta – Medan saat ini dijual sekitar Rp1,7 juta hingga Rp3 juta untuk satu kali jalan.

Salah satu yang menjadi pemicu kenaikan harga tiket pesawat adalah melompatnya harga avtur sekitar 70%. Meski demikian pemerintah hanya membolehkan kenaikan tiket pesawat sebesar 13%. Sebab, pemerintah memberikan sejumlah keringan dari sisi lainnya seperti insentif penyediaan suku cadang, keringanan pajak hingga penyeragaman biaya tambahan (fuel surcharge).

1. Ekonom Menilai kenaikan harga tiket pesawat akan memicu kenaikan laju tekanan inflasi

IMG-20250719-WA0003.jpg
Pemandangan Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang dengan deretan pesawat terbang yang dioperasikan maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan Lion Air. (IDN Times/Dok Humas Bandara Ahmad Yani Semarang)

Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin menyoroti kenaikan harga tiket pesawat di tanah air selain membenai industri penerbangan. Kenaikan harga tiket pesawat akan memicu kenaikan laju tekanan inflasi, juga berpeluang memberikan tekanan pada daya beli masyarakat, menekan industri pariwisata, perhotelan, transportasi, pergudangan hingga kuliner.

"Untuk besaran laju inflasi yang diakibatkan oleh kenaikan harga tiket belakangan ini, saya menghitungan nilainya tidak lebih dari 0.27%. Namun, dampak ekonomi lain yang ditimbulkan dari kenaikan harga tiket ini memiliki multiplier efek yang besar dan berpeluang menekan sejumlah sektor usaha yang ada di semua wilayah tanah air," katanya.

2. Harga tiket yang mahal berpeluang menekan jumlah penumpang pengguna jasa penerbangan

Ilustrasi Pesawat (https://www.ttwindia.com)
Ilustrasi Pesawat (https://www.ttwindia.com)

Menurutnya, harga tiket yang mahal berpeluang menekan jumlah penumpang pengguna jasa penerbangan, dan kenaikan harga tiket secara global juga akan mengalami kenaikan. Sehingga tidak akan serta merta merubah daya saing penerbangan lokal terhadap minat masyarakat untuk berkunjung ke luar negeri.

"Artinya karena kenaikan harga tiket ini bersifat serentak, maka daya saing penerbangan lokal maupun asing tidak alami perubahan," jelas Gunawan.

3. Perubahan harga acuan avtur yang bersumber dari MOPS tidak akan berubah secepat itu

ilustrasi roda pesawat (pexels.com/Joerg Mengelsen)
ilustrasi roda pesawat (pexels.com/Joerg Mengelsen)

Potensi penurunan jumlah penumpang pada hampir semua maskapai juga akan relatif sama. Saat ini, harga minyak mentah dunia sudah turun di bawah $100 per barel. Namun, dampaknya belum akan dirasakan instan. Dikarenakan perubahan harga acuan avtur yang bersumber dari MOPS (Mean Of Platts Singapore) juga tidak akan berubah secepat itu.

"Dan gencatan senjata selama dua pekan kedepan ini juga masih bersifat temporer. Menyisahkan ketidakpastian yang bisa saja memperburuk kinerja maskapai kedepan. Sehingga belum bisa memastikan pemulihan industri penerbangan dalam jangka panjang," tutupnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More