Harga Tiket Pesawat Naik Tajam, Berikut Dampak Multiplier pada Ekonomi

- Kenaikan harga minyak dunia di atas $100 per barel memicu lonjakan harga avtur hingga 70%, membuat tiket pesawat Jakarta–Medan kini mencapai Rp1,7 juta sampai Rp3 juta.
- Ekonom menilai kenaikan tiket pesawat dapat menambah tekanan inflasi sekitar 0,27% dan berdampak luas pada daya beli masyarakat serta sektor pariwisata, transportasi, dan kuliner.
- Meskipun harga minyak mentah mulai turun, penyesuaian harga avtur berbasis MOPS berjalan lambat sehingga pemulihan industri penerbangan belum bisa dipastikan dalam waktu dekat.
Medan, IDN Times – Amerika Serikat (As) serta Israel telah membawa petaka bagi industri penerbangan belakangan ini. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat bertahan di atas $100 per barel telah memicu kenaikan pada harga tiket pesawat. Bahkan, dari hasil penelusuran, harga tiket pesawat Jakarta – Medan saat ini dijual sekitar Rp1,7 juta hingga Rp3 juta untuk satu kali jalan.
Salah satu yang menjadi pemicu kenaikan harga tiket pesawat adalah melompatnya harga avtur sekitar 70%. Meski demikian pemerintah hanya membolehkan kenaikan tiket pesawat sebesar 13%. Sebab, pemerintah memberikan sejumlah keringan dari sisi lainnya seperti insentif penyediaan suku cadang, keringanan pajak hingga penyeragaman biaya tambahan (fuel surcharge).
1. Ekonom Menilai kenaikan harga tiket pesawat akan memicu kenaikan laju tekanan inflasi

Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin menyoroti kenaikan harga tiket pesawat di tanah air selain membenai industri penerbangan. Kenaikan harga tiket pesawat akan memicu kenaikan laju tekanan inflasi, juga berpeluang memberikan tekanan pada daya beli masyarakat, menekan industri pariwisata, perhotelan, transportasi, pergudangan hingga kuliner.
"Untuk besaran laju inflasi yang diakibatkan oleh kenaikan harga tiket belakangan ini, saya menghitungan nilainya tidak lebih dari 0.27%. Namun, dampak ekonomi lain yang ditimbulkan dari kenaikan harga tiket ini memiliki multiplier efek yang besar dan berpeluang menekan sejumlah sektor usaha yang ada di semua wilayah tanah air," katanya.
2. Harga tiket yang mahal berpeluang menekan jumlah penumpang pengguna jasa penerbangan

Menurutnya, harga tiket yang mahal berpeluang menekan jumlah penumpang pengguna jasa penerbangan, dan kenaikan harga tiket secara global juga akan mengalami kenaikan. Sehingga tidak akan serta merta merubah daya saing penerbangan lokal terhadap minat masyarakat untuk berkunjung ke luar negeri.
"Artinya karena kenaikan harga tiket ini bersifat serentak, maka daya saing penerbangan lokal maupun asing tidak alami perubahan," jelas Gunawan.
3. Perubahan harga acuan avtur yang bersumber dari MOPS tidak akan berubah secepat itu

Potensi penurunan jumlah penumpang pada hampir semua maskapai juga akan relatif sama. Saat ini, harga minyak mentah dunia sudah turun di bawah $100 per barel. Namun, dampaknya belum akan dirasakan instan. Dikarenakan perubahan harga acuan avtur yang bersumber dari MOPS (Mean Of Platts Singapore) juga tidak akan berubah secepat itu.
"Dan gencatan senjata selama dua pekan kedepan ini juga masih bersifat temporer. Menyisahkan ketidakpastian yang bisa saja memperburuk kinerja maskapai kedepan. Sehingga belum bisa memastikan pemulihan industri penerbangan dalam jangka panjang," tutupnya.

















