Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Cabai Merah Medan Tembus Rp52.500/Kg, Ini 3 Pemicu Utamanya
Ilustrasi cabai merah. (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • Harga cabai merah di Medan melonjak hingga Rp52.500/kg akibat kombinasi cuaca ekstrem, tingginya permintaan luar daerah, dan kenaikan biaya produksi.
  • Curah hujan tinggi menghambat panen serta distribusi cabai di Sumut, menyebabkan pasokan terganggu dan harga berfluktuasi tajam di tingkat pedagang besar.
  • Kenaikan harga input seperti pupuk dan plastik mulsa membuat HPP cabai naik, menekan harga jangka menengah meski kondisi cuaca nantinya membaik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
beberapa bulan lalu

Konflik Iran-AS pecah dan memicu kenaikan harga plastik mulsa, pupuk, serta biaya input produksi cabai.

3 bulan terakhir

Terjadi kenaikan biaya input produksi yang berdampak pada peningkatan Harga Pokok Produksi cabai.

awal pekan

Harga cabai merah di Medan masih berada di kisaran Rp36.500 per kg.

10/6/2026

Harga cabai merah di pusat pasar Medan mencapai Rp52.500 per kg menurut data PIHPS.

11/6/2026

Harga transaksi cabai turun menjadi Rp42.500 per kg. Pengamat Gunawan Benjamin menjelaskan faktor cuaca, permintaan luar daerah, dan kenaikan biaya produksi sebagai pemicu utama lonjakan harga.

kini

Harga cabai merah di Medan masih tinggi dengan potensi tren kenaikan berlanjut jika biaya produksi tetap mahal dan cuaca belum stabil.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Harga cabai merah di Kota Medan mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai Rp52.500 per kilogram sebelum turun ke Rp42.500 per kilogram pada hari berikutnya.
  • Who?
    Kenaikan harga ini dilaporkan oleh Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) dan dijelaskan oleh pengamat ekonomi Gunawan Benjamin.
  • Where?
    Kondisi ini terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara, terutama di area pusat pasar dan sentra produksi cabai wilayah tersebut.
  • When?
    Kenaikan harga tercatat pada Rabu, 10 Juni 2026, dengan pembaruan data transaksi pada Kamis, 11 Juni 2026.
  • Why?
    Penyebab utama meliputi cuaca ekstrem yang mengganggu panen dan distribusi, tingginya permintaan dari luar daerah, serta kenaikan biaya input produksi seperti pupuk dan plastik mulsa.
  • How?
    Curah hujan tinggi menunda panen dan merusak akses jalan, pasokan berkurang akibat permintaan antarprovinsi meningkat, sementara biaya produksi naik sehingga mendorong harga di tingkat pedagang besar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Harga cabai di Medan jadi mahal banget, sampai lima puluh dua ribu satu kilo. Kata orang pintar, ini karena hujan terus bikin panen susah, banyak orang luar kota beli cabai dari sana, dan biaya tanamnya naik. Sekarang harga masih tinggi, petani dan pedagang lagi berusaha supaya stoknya cukup lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kenaikan harga cabai merah di Medan mencerminkan tingginya permintaan terhadap hasil pertanian Sumut, termasuk dari wilayah lain seperti Riau, Jambi, dan Jakarta. Kondisi ini menunjukkan daya tarik serta kualitas produksi lokal yang diakui pasar luar daerah. Selain itu, faktor cuaca dan biaya produksi yang meningkat menandakan dinamika ekonomi pertanian yang aktif dan responsif terhadap perubahan lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN TimesHarga cabai merah di Kota Medan kembali melonjak. Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis PIHPS, harga di pusat pasar menyentuh Rp52.500 per kg pada Rabu (10/6/2026), meski hari ini Kamis (11/6/2026) transaksi tercatat Rp42.500/kg. Angka itu jauh di atas kisaran awal pekan yang masih di level Rp36.500/kg.

Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin menyebut kenaikan tajam ini dipicu kombinasi faktor cuaca, permintaan luar daerah, dan kenaikan biaya produksi.

“Faktor cuaca masih jadi pemicu dominan saat ini. Tapi potensi harga bertahan mahal atau tren kenaikan masih sangat terbuka ke depan,” ujar Gunawan Benjamin pada IDN Times, Kamis (11/6/2026).

1. Cuaca ekstrem ganggu panen dan distribusi

Tanaman cabai di Kabupaten Magelang. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Curah hujan tinggi masih sering terjadi di sejumlah sentra produksi Sumut. Kondisi ini mengganggu proses panen dan distribusi cabai ke pasar induk.

Saat hujan deras, petani menunda panen karena alasan keamanan dan akses jalan rusak. Di sisi distribusi, pedagang juga menghadapi penyusutan bobot cabai ditambah pasar sepi pengunjung. Akibatnya, harga di level pedagang besar berantakan dan bergerak volatil.

“Cuaca bersifat sementara dan fluktuatif. Tapi saat hujan deras, petani tunda panen. Di level pedagang ada penyusutan ditambah pasar sepi, ini bikin harga bergerak liar,” jelas Gunawan.

Gangguan pemadaman listrik turut memperparah pembentukan harga di pedagang besar.

2. Permintaan tinggi dari luar Sumut

Potret cabai (pexels.com/@courtney-stephens)

Demand cabai Sumut meningkat signifikan. Wilayah Riau, Jambi, hingga Jakarta terpantau masif melakukan pembelian ke sentra produksi Sumut.

“Permintaan yang tinggi dari luar Sumut membuat pembentukan harga cabai di Sumut terdorong ke level lebih mahal,” kata Gunawan.

Pasokan yang harus dibagi untuk kebutuhan lokal dan ekspor antarprovinsi membuat stok menipis.

3. HPP naik akibat biaya input produksi

Ilustrasi cabai merah keriting. (Dok. Bapanas)

Harga Pokok Produksi HPP cabai mengalami kenaikan. Harga plastik mulsa, pupuk, dan biaya input lain sudah naik sejak konflik Iran-AS pecah beberapa bulan lalu.

“Dampak kenaikan biaya input produksi yang terjadi dalam 3 bulan terakhir berpeluang menciptakan kenaikan harga secara fundamental. Konsumen baru merasakan dampaknya bulan ini,” tegasnya.

Gunawan memperkirakan meski cuaca bisa membaik, kenaikan biaya input produksi berpotensi menekan harga jangka menengah. “Cuaca sementara, tapi HPP naik itu fundamental,” ujarnya.

Konsumen diimbau cermat berbelanja. Sementara pemerintah daerah diminta memantau distribusi dan stok agar gejolak harga tidak berlarut.

Editorial Team

Related Article