Endari Suci Mengejar Mimpi Lewat Sekolah Sawit Lestari
- Siswi SMKN 1 Silangkitang, Endari Suci, mengasah keterampilan sawit lewat Sekolah Sawit Lestari untuk mengejar cita-cita menjadi mandor dan meneruskan kebun ayahnya.
- Program CSR Asian Agri melalui PT SMA menyediakan kebun praktik hampir satu hektare, 108 bibit topaz, pupuk, PKL enam bulan, guru tamu, serta peluang rekrutmen alumni.
- Sekolah Sawit Lestari memperkuat praktik, UKK, dan pendapatan sekolah dari panen; kolaborasi industri dinilai membantu menyelaraskan kompetensi SMK dengan kebutuhan kerja.
Labuhanbatu Selatan - Lihai tangannya menabur pupuk. Dalam hitungan detik satu kilogram pupuk sudah tersemai di sekeliling satu batang pokok sawit.
Dia bukan seorang petani sawit. Dia adalah Endari Suci, Siswi SMK Negeri 1 Konsentrasi Keahlian Agribisnis Tanaman Perkebunan (ATP) Silangkitang, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Provinsi Sumatra Utara. Namun kelihaiannya bak petani sungguhan.
Ternyata sejak kecil impiannya adalah menjadi petani sawit seperti ayahnya. Sebagai warga Desa Wonodadi Kecamatan Silangkitang, Suci lahir dan besar tak jauh dari perkebunan sawit.
“Cita-cita saya jadi mandor sawit, karena ayah juga seorang petani sawit,” kata Suci.
Dara 16 tahun ini memantapkan hati menempuh pendidikan di SMKN 1 Silangkitang untuk mengejar mimpinya itu. Di SMK Konsentrasi ATP ini ternyata memiliki Program Sekolah Sawit Lestari (SSL) hasil kerjasama dengan Asian Agri melalui PT Supra Matra Abadi (SMA).
Dengan adanya SSL, proses belajar mengajar di kelas dan praktik lapangan menjadi seimbang, lebih terfokus dan realistis, seakan siswa memiliki perkebunan sawit sendiri di belakang rumah. Masih duduk di Kelas X, Suci kini sudah mahir mencangkul, membersihkan lahan, menanam, menabur pupuk dan solid, hingga membuat bedengan sendiri.
“Seminggu itu dua kali praktik. Jadi setiap dapat ilmu praktik baru saya selalu kasih tahu sama bapak. Kan Bapak ilmunya otodidak, kalau di sekolah teorinya dapat, praktinya juga dapat,” ungkap dara berhijab ini.
Ia berharap setelah tamat dari SMK ini bisa langsung mendapat pekerjaan di perusahaan sawit, meniti karir dari pekerja lapangan hingga menjadi mandor. Kelak ketika ayahnya sudah tua, ia bisa melanjutnya kebun yang dirintis oleh ayahnya.
“Dari kecil sudah tinggal di lingkungan sawit, pasti kepingin jadi mandor dan kalau punya kebun sendiri bisa dikembangin lagi hasilnya,” tambah Suci.

Kepala Sekolah SMKN 1 Silangkitang, Hj. Dina Karyawati Saragih SE, MM menjelaskan dengan adanya SSL yang merupakan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Asian Agri melalui PT SMA sangat mendukung kolaborasi antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan dunia industri atau biasa disebut program Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Sehingga siswa lebih mudah melakukan praktik lapangan.
Sebelum ada kerjasama ini, kata Dina, SMKN 1 Silangkitang menumpang praktik di kebun sawit milik warga di sekitar sekolah. Pada 2017, PT SMA menawarkan agar lahan tidur seluas kurang lebih 1 hektare milik sekolah untuk ditanami sawit.
“Total ada 108 batang bibit topaz disumbang oleh PT SMA. Kami tebang 3 batang untuk dijadikan ruang kelas, sekarang sisa 105 batang sawit. Jadi dengan adanya Sekolah Sawit Lestari ini siswa bisa langsung praktik membersihkan lahan, membuat kompos, memupuk, membibit, dan lainnya. Yang gak bisa itu hanya memanen, karena memanen itu bahaya kalau dilakukan siswa,” ujar Hj. Dina, Rabu (10/6/2026).
Selain untuk mendukung proses belajar mengajar, secara ekonomis keberadaan SSL juga menguntungkan untuk mendukung kesejahteraan guru, membantu kurang mampu, hingga membantu kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
“Untuk kesejahteraan guru misalnya seragam yang kami pakai ini dari hasil panen sawit di SSL, ada tiga pasang seragam guru di sini sekarang dari SSL. Berbagi kasih untuk anak-anak kurang mampu saat Ramadan. Sejak saya jadi kepala sekolah 2023, kami juga berkurban di masjid-masjid sekitar sekolah dari uang hasil panen sawit,” jelasnya.
Selain itu kerjasama dengan PT SMA juga mendukung sistem pendidikan Link and Match yang sangat dibutuhkan anak didik. Di antaranya siswa bisa Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama enam bulan di PT SMA. Selain itu, PT SMA rutin mendatangkan guru tamu ke SMKN 1 Silangkitang untuk meng-update pengetahuan tentang pembibitan, sawit berkelanjutan, pupuk organik, hingga mengajarkan siswa untuk menjadi pilot drone.
“Sudah ada alumni-alumni yang bekerja di PT SMA. Bahkan dari Asian Agri pernah seleksi pilot drone untuk direkrut karyawan langsung ke sini. Mereka datang dan wawancarai alumni di sekolah ini, yang lolos lalu dipanggil untuk seleksi ke Medan. Ini lah penting DUDI itu tadi,” terangnya.
Dengan adanya SSL ini membuat popularitas SMKN 1 Silangkitang juga semakin meningkat. Bahkan pada pendaftaran siswa tahun ajaran 2023/2024 pendaftaran membludak 145 orang dari kuota 100 kursi. Akhirnya pihak sekolah membuka empat rombongan belajar (rombel) dari yang biasanya hanya tiga rombel.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Kamto SP menjelaskan keberadaan SSL ini juga sangat membantu sekolah untuk menggelar Uji Kompetensi Keahlian (UKK) pada siswa kelas XII. Sebelumnya siswa SMKN 1 Silangkitang tidak bisa menggelar UKK dan harus mengikuti UKK di sekolah lain yang memiliki tempat praktik.
“Sekarang sudah bisa kita menggelar UKK langsung di sekolah ini. Ini sangat membantu. Jadi kita tinggal mengundang tim penguji dari luar untuk menguji para siswa. Salah satunya dari pihak PT SMA juga pernah kita undang menjadi tim penguji,” kata Kamto.

Muhtar Mahmudi, Koordinator CSR Asian Agri Wilayah Sumut bercerita, latar belakang PT SMA melakukan Corporate Social Responsibility (CSR) bertujuan untuk pengembangan masyarakat khususnya di sekitar kebun PT SMA. Kebetulan SMKN 1 Silangkitang berbatasan langsung dengan kebun milik PT SMA sehingga sebisa mungkin diberikan CSR untuk membantu pengembangan sekolah.
“Kita tanya ke pihak sekolah ada gak lahan tidur milik sekolah? Ternyata ada. Idealnya lahan 2 hektare, tapi karena adanya hanya hampir 1 hektare, ini kita manfaatkan,” kata Muhtar.
Dari mulai meratakan lahan, menebang pohon karet yang sebelumnya ada di lahan, pemberian bibit unggul topaz berusia 10 bulan dilakukan oleh PT SMA. Selain itu PT SMA juga memberikan pupuk solid yang merupakan limbah dari pabrik pengolahan kelapa sawit diberikan secara gratis pada SMKN 1 Silangkitang.
Menurutnya apa yang dilakukan PT SMA ini sejalan dengan Filosofi 5C pedoman operasional Asian Agri. Yaitu Community (Masyarakat), Country (Negara), Climate (Iklim), Customer (Pelanggan), dan Company (Perusahaan).
“Nah CSR di SMKN 1 ini bagus untuk community, country dan climate. Kita selalu menyesuaikan, CSR di tiap kebun beda-beda,” tambahnya.
Untuk urusan menjual hasil panen sawit dari SSL SMKN 1, itu diserahkan kepada pihak sekolah. PT SMA membebaskan pihak sekolah menjualnya kepada siapa saja.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Sumatera Utara (USU), Farhan Rizky, S.AP, M.AP mengatakan pengkhususan dalam satu bidang mulai dari tingkat SMK, Diploma, hingga Sarjana sangat dibutuhkan dunia industri saat ini. Apa yang dilakukan SMKN 1 Silangkitang bekerja sama dengan perusahaan membuat para peserta didik akan semakin ahli di bidangnya dan memahami realitas yang akan dihadapi di dunia industri nanti setelah lulus.
“Tentu dengan semakin banyak praktik kemahiran peserta didik semakin baik. Realitasnya saat ini, lulusan SMK terkadang masih gagap saat dihadapakan dengan dunia pekerjaan. Artinya ada ilmu teori dan praktik di sekolah sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan industri. Gap ini yang harus di perpendek, dan kerjasama dengan dunia industri adalah salah satu caranya,” kata Farhan, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, secara regulasi memang sudah diatur oleh pemerintah secara jelas tentang CSR perusahaan. Namun tidak semua menerapkannya dengan benar. Masih banyak perusahaan-perusahaan yang melaksakan CSR hanya sekadar seremoni dan fokus pada lingkungan namun lupa mendukung dunia pendidikan dan kelompok masyarakat di sekitar perusahan.
Ia berharap apa yang dilakukan Asian Agri melalui PT SMA di SMKN 1 Silangkitang bisa menjadi role model bagi perusahaan-perusahaan lainnya di Sumatra Utara. Pasalnya
“Jika industri mendukung dunia pendidikan, maka mimpi anak-anak seperti Suci dan siswa-siswa lain untuk bisa langsung bekerja usai tamat SMK bisa jadi nyata. Jumlah pengangguran dari lulusan SMK juga akan bisa ditekan setiap tahunnya,” ungkap alumni FISIP USU ini.





















