Cahaya Septiana Simanjuntak menjadi salah satu perwakilan dari Sumut yang akan tampil dengan batik Gorga asal Sumut (IDN Times/Indah Permata Sari)
Berbeda dengan Elora, Cahaya Septiana Simanjuntak (13), siswi kelas 2 SMP yang meraih Juara 1, tampil dengan advokasi yang kuat. Ia membawa advokasi bertajuk "Sinar Batik Cahaya, Satu Garis Seribu Makna".
"Tujuannya untuk menginspirasi generasi muda yang menganggap remeh batik. Padahal, batik bukan hanya sekadar garis dan motif, tetapi memiliki fakta dan makna di setiap goresannya," tutur Cahaya, anak kelima dari lima bersaudara tersebut.
Cahaya akan membawa Batik Gorga buatannya sendiri ke tingkat nasional. Ia mengaku belajar membatik sejak kelas 6 SD, diajari langsung oleh sang nenek. Ia menggunakan teknik tulis dengan lilin, teknik cap, hingga teknik cunting.
"Saya menambahkan motif bintang sesuai advokasi saya. Warnanya kuning dan oranye yang melambangkan cahaya yang cerah. Batik Gorga memang cukup rumit, tapi pegiatnya membuatnya dengan ketekunan dan keikhlasan hati," jelasnya.
Menurut Cahaya, generasi muda saat ini cenderung meremehkan batik. Karena itu, ia ingin mengangkat nama Batik Gorga Sumut agar dikenal hingga kancah internasional.
Untuk persiapan nasional, Cahaya mengaku intens melakukan latihan catwalk, public speaking, latihan mental, hingga psikotes.