- Menghadirkan Niat yang Tulus: Awali rangkaian ibadah dengan memantapkan niat di dalam hati secara ikhlas semata-mata untuk meraih ridha Allah.
- Mengutamakan Makan Sahur: Berusahalah untuk bangun sebelum waktu Subuh guna menikmati hidangan sahur. Selain bernilai sunnah yang menghadirkan keberkahan, asupan nutrisi saat sahur akan menjadi sumber energi agar tubuh tetap produktif menjalankan aktivitas harian.
- Menahan Diri Secara Menyeluruh: Kewajiban utama dimulai semenjak kumandang azan Subuh hingga azan Maghrib. Umat Islam diwajibkan untuk menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa secara fisik (makan, minum, berhubungan badan), serta menahan lisan dan perbuatan dari hal-hal yang dapat menggugurkan pahala puasa seperti berbohong dan berdebat kusir.
- Menyegerakan Berbuka: Saat azan Maghrib bergema, segeralah membatalkan puasa. Memulai hidangan berbuka dengan buah kurma dalam jumlah ganjil atau dengan seteguk air putih merupakan sunnah yang sangat dianjurkan untuk mengembalikan kesegaran pencernaan.
Berikut Niat dan Tata Cara Puasa Ayyamul Bidh Hari Ini

- Hari ini, Kamis 2 April 2026 bertepatan dengan pertengahan bulan Syawal 1447 H, menjadi waktu yang disyariatkan bagi umat Islam untuk menjalankan puasa Ayyamul Bidh.
- Niat puasa Ayyamul Bidh dapat dilafalkan malam atau pagi hari sebelum zuhur, selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak fajar menyingsing.
- Puasa Ayyamul Bidh di bulan Syawal bernilai pahala besar setara puasa sepanjang tahun dan bermanfaat menjaga ketakwaan serta kesehatan tubuh melalui proses detoksifikasi alami.
Tepat pada hari ini, Kamis (2/4/2026), para kaum umat muslim l memasuki momentum pertengahan bulan yang sangat dianjurkan untuk diisi dengan ibadah puasa Ayyamul Bidh atau puasa hari-hari putih. Sebab, bulan Syawal 1447 Hijriah terus bergulir membawa berbagai kesempatan emas bagi umat Islam untuk mendulang pahala.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, hari ini bertepatan dengan tanggal 13 Syawal 1447 H, yang menandai permulaan rangkaian puasa pertengahan bulan. Sementara itu, berdasarkan perhitungan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang dirilis oleh Muhammadiyah, tanggal 2 April 2026 telah memasuki hari ke-14 Syawal 1447 H.
Terlepas dari dinamika perbedaan hitungan hari tersebut, umat Islam secara umum bersepakat bahwa hari ini merupakan waktu yang disyariatkan untuk menunaikan puasa Ayyamul Bidh.
Berikut panduan niat dan tata cara pelaksanaannya bagi umat Islam yang hendak berpuasa.
1. Lafal niat puasa Ayyamul Bidh

Kunci dari diterimanya sebuah ibadah terletak pada niat. Khusus untuk ibadah puasa sunnah, syariat memberikan kelonggaran di mana niat dapat dilafalkan pada malam hari maupun pada pagi hari sebelum waktu zuhur tiba. Syarat utamanya adalah belum ada makanan, minuman, atau perbuatan yang membatalkan puasa sejak fajar menyingsing. Berikut adalah lafal niat yang dapat diucapkan:
نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيضِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ayyâmil bîdl lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Saya niat puasa Ayyamul Bidh (hari-hari yang malamnya cerah) karena Allah Ta’ala.”
Mengingat hari ini jatuh pada hari Kamis, sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk menghadirkan niat ganda di dalam hati, yakni melaksanakan puasa Ayyamul Bidh sekaligus puasa sunnah hari Kamis, guna meraih ganjaran kebaikan yang berlipat ganda dari Sang Pencipta.
2. Tata cara pelaksanaan secara rinci

Dalam pelaksanaannya, struktur ibadah puasa pertengahan bulan ini serupa dengan ketentuan puasa wajib maupun sunnah lainnya. Agar pelaksanaan ibadah berjalan optimal dan bernilai pahala maksimal, berikut adalah tata cara yang harus diperhatikan:
3. Keutamaan puasa Ayyamul Bidh di bulan Syawal

Meluangkan waktu untuk berpuasa di pertengahan bulan Syawal memiliki keistimewaan spiritual yang sangat besar. Menjalankan puasa tiga hari setiap bulan Hijriah akan diganjar dengan pahala seolah-olah berpuasa sepanjang tahun, mengingat setiap satu amal kebaikan dilipatgandakan nilainya menjadi sepuluh kali lipat.
Di samping itu, pelaksanaan ibadah ini di bulan Syawal menjadi sarana pembuktian yang kuat untuk menjaga grafik ketakwaan pasca-Ramadhan. Bagi yang belum merampungkan puasa sunnah enam hari Syawal, puasa hari-hari putih ini sering kali disinergikan pelaksanaannya.
Dari kacamata kesehatan jasmani, rutin berpuasa selama tiga hari secara ilmiah diakui sebagai proses detoksifikasi alami yang mengistirahatkan serta merevitalisasi sistem metabolisme tubuh secara keseluruhan.



















